April 3, 2015

Ketika Masa Lalu Kembali Tergambar
Di jum’at pagi ini, saya terinspirasi sebuah pengajaran dari pengalaman yang sangat berharga, yakni tentang ketika masa lalu kembali tergambar oleh seorang manusia. Entah ini tergolong puisi atau apa, sebuah goresan tinta (ketikan tangan) yang berhasil ku catatkan bisa dilihat dibawah:

Aku hidup diantara tiga dunia. Dulu, sekarang, dan nanti.
Aku pernah hidup dalam dunia yang kusebut “dulu”
Kini aku hidup dalam dunia yang kusebut “sekarang”
Dan kelak aku akan hidup dalam dunia yang kusebut “nanti”.

Aku punya catatan sejarah langkah kaki dalam hidup yang “dulu”
Sebuah catatan yang membuatku kini lebih banyak belajar.
Kehidupan yang membuatku kini semakin berpengalaman.
Pengandaian yang terkadang kurindukan.

Aku hidup dalam dunia “sekarang”
Sebuah dunia yang menggambarkan siapa aku sekarang.
Semua hal yang sedang kulakukan adalah sebuah perjuangan.
Hal yang terkadang membuatku dalam waktu dekat jatuh dan terbangun.

Aku juga memiliki berjuta impian, harapan, keinginan yang tentu saja tidak bisa kulakukan sekarang.
Ada penghalang yang menjadikanku terpisah dengannya.
Hal tersebut adalah waktu yang selalu saja kehadirannya menjadi misteri.
Dan itulah yang membuatku lebih termotivasi.

Dulu, hidupku adalah suatu hal yang membingungkan.
Terkadang bisa membuatku tersenyum bahagia, tertawa gembira.

Saat itu aku tertawa lepas.
Saat itu aku berjalan bebas.
Saat itu aku belajar dengan luas.
Aku selalu merindukan hal tersebut bisa kembali terjadi sekarang.
Selalu kubayangkan senyum dulu bisa terjadi sekarang.
Setiap waktu aku ingin melihat sosok diriku dibandingkan sekarang.

Namun aku lupa, sekarang adalah siapa diriku sebenarnya.
Masa lalu tetaplah masa lalu.
Waktu takkan pernah bisa berputar karena kita bukan yang mengatur sejarah.
Walau satu detik saja, ia takkan pernah kembali.
Dan sekarang adalah waktunya ku berubah.
Sekarang adalah waktunya ku berpindah.
Sekarang saatnya aku mengganti arah.

Aku hidup bukan untuk masa lalu.
Kini aku hidup untuk masa depan.
Segala hal yang kulakukan saat ini, untuk sebuah masa depan.
Masa dimana cita-cita pun tercatatkan.
Waktu dimana harapan pun tergambarkan.
Keadaan dimana banyak hal yang kuimpikan.

Maafkan aku yang sering terpeleset dalam masa lalu. Aku salah.
Maafkan aku yang terlalu berharap ia kan kembali datang.
Maafkan aku yang terkadang lupa berjuang.
Maafkan aku yang tertarik menoleh kebelakang.
Maafkan aku yang selalu membuatnya seolah-olah penghalang.
Maafkan aku yang menjadikannya tak berimbang.
Disanalah aku belajar ikhlas.

Itulah tulisan saya tentang ketika masa lalu kembali tergambar. Semoga bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung. Have a nice Friday... :)

March 14, 2015

Masih Belajar dan Akan Terus Belajar
Kali ini ana ingin sedikit bercerita tentang sebuah ungkapan yang sangat memotivasi ana selama masa sekolah bahkan sampai saat ini, kalimat itu adalah "Masih Belajar dan akan terus Belajar". Ana tidak akan membahas tentang mengapa bisa menyukai kalimat tersebut, karena panjang sekali, dan butuh waktu khusus. Hehe... Lebay. Ana ingin bercerita tentang realita kalimat tersebut dengan yang ana alami saat ini.

Tidak ada hal yang lebih menyenangkan untuk dibahas saat ini - saat muda, saat remaja - selain membahas "cinta" betul? Yaa walau banyak yang tak menyangka ana masih 23an (boros wajah katanya), namun nyatanya ana masih tertarik untuk membahasnya.

Ana akan mempersempit pembahasan langsung kepada manusia. Kepada lawan jenisnya. Namun perlu diperhatikan, bahwa ini hanya hal kecil dari banyaknya kepentingan dalam hidup ana sebagai manusia.

Ana pernah membaca sebuah pesan dari meme yang cukup menggugah hati. Ceritanya gini: "wanita itu ingin dimengerti dengan cara yang sulit dimengerti". Satu lagi: "Kamu adalah apa yang aku tulis dan aku adalah apa yang tak pernah kau baca". Pernah denger? Mungkin. Menarik ya? Hehe...

Dari beberapa kasus yang saya alami sendiri, memang wanita iti mahluk kompleks, penuh tanya dan perlu bekerja keras untuk mendapat perhatiannya. Namun bila kita sudah mendapat simpati darinya, mereka akan memberikan segalanya kepada kita, bahkan harga dirinya. Ya. Harga dirinya.

Maka dari itu, wanita pintar dan beragama menerapkan proteksi/pelindung untuk menjaga harkat dan martabatnya agar tidak terjerumus dalam permainan cinta. Ya, cinta itu ibarat permainan. Kita harus tahu cara memainkannya agar kita menikmatinya. Kita bisa terus mengulanginya, sebanyak dan sesering kita mau.

Wanita punya beribu cara "aneh" untuk membuat mereka mahal dan patut diperjuangkan. Ana sebagai pria terkadang kebingungan bila menghadapi wanita demikian. Tapi sebagai seorang pria, semakin "aneh" wanita bertindak, maka semakin tertantang untuk mendapatkannya. Beneran. Ini yang ana rasakan sebagai pria.

Kalo tadi ana bilang: "namun bila kita sudah mendapat simpati darinya (wanita), mereka akan memberikan segalanya". Dan kalau pria sudah cinta pada wanita, seaneh apapun sikapnya, maka ia takkan meminta hal yang belum saatnya ia miliki, sampai wanita mengijinkannya.
Tadi sempet ana singgung tentang harga diri kan? Nah, wanita kalo udah cinta bisa memberikan segalanya. Tapi pria kalo udah cinta, takkan minta yang aneh-aneh yang belum waktunya. Cukup adil bukan?

Kadang ana sendiri sering menuntut wanita akan sesuatu untuk dilakukan, bahkan akan yang belum saatnya dipinta. Disana ana kadang berfikir, "cintakah ana padanya? Disaat hal rahasia itu belum waktunya, masih pantaskah ana disampingnya?" Pertanyaan yang terkesan "alay" memang, tapi itulah faktanya.

Saat ana ingin quick response darinya, ternyata ada saja hal yang mengganjal dan membuat jadi slow response.
Saat ana ingin informasi lebih, kutanyakan banyak hal sehingga (mungkin) dia kebingungan menjawabnya.
Saat ana butuh bersamanya (di dunia virtual), namun waktu yang tidak tepat dan Allah belum mengizinkan kita saling berkomunikasi.
Saat ana banyak membuka akun-akun sosialnya, berharap ada sesuatu yang bisa buat hatiku tenang dan jari ini mengetikkan komentar, namun belum ada.
Saat ana butuh balasan "kehangatan" dan terkadang ia balas dengan ketidakjelasan.

Semua pengalaman itu terjadi bukan karena kesalahan keadaan. Tapi itu murni kesalahan pengertian. Mungkin ia sedang bekerja sehingga tak membalas dengan segera chat ana.

Dia sering kebingungan dengan banyaknya pertanyaan yang ana ajukan. Kita saja kalo diberi pertanyaan beruntun - walau gampang - tetep bingung mau jawab apa. Ya kan? Hehe...
Saat ana memiliki passion "socialite" sedangkan dia tidak (atau mungkin belum). Itulah yang menjadikan ana memiliki banyak akun sosial dibandingkan dia. Makanya dumay itu adalah kehidupan kedua bagiku. Berbeda dengan dia, yang masih meraba dan belum mengetahui manfaat dan madhorotnya.

Daaaaannn banyak lagi hal yang ternyata hanyalah sebuah kesalahpengertianan ana padanya.
Teruntuk dia, #MyFebruary, ana minta maaf untuk keegoisannya. Disitulah makna Masih Belajar dan akan terus Belajar tercipta dan termakna. Semoga mengeti. Hehe...

Dan buat ana pribadi, semoga tulisan ini bisa lebih meningkatkan positifitas dalam berfikir. Tak main cepet memutuskan tanpa berfikir panjang. Yaa... Masih Belajar dan akan terus Belajar.

Makanya, terkadang saya selalu inget dua istilah itu, "wanita itu ingin dimengerti dengan cara yang sulit dimengerti". Satu lagi: "Kamu adalah apa yang aku tulis dan aku adalah apa yang tak pernah kau baca" itu karena kekhilafan ana akan keadaan yang sudah tercipta ini. Mmm....

Bagaimanapun juga, terimakasih karena masih berada disampingku walau banyak alasan untukmu meninggalkanku.


Sekian tulisan sederhana tentang masih belajar dan akan terus belajar ini. Sebuah coretan #TintaMerah teruntuk pemilik #TintaBiru yang sedang menunggu disana. Have a nice day and see you here.

March 7, 2015

Ada apa dengan kita
Ada apa dengan kita? Disaat mendapat keindahan, kita lupa akan Pemberi keindahan.
Ada apa dengan kita? Disaat dekat dengan kebaikan, kita tak tahu dari siapa kebaikan.
Ada apa dengan kita? Disaat semua tertawa, kita bahkan lupa Pemberi tawa.

Ada apa dengan kita? Disaat mendapat musibah, kita selalu mendekatkan diri dengan seolah terpaksa.
Ada apa dengan kita? Disaat cobaan menerpa, kita selalu berusaha mengingat sang Pemberi cobaan bermula.
Ada apa dengan kita? Disaat kawanan tak disamping, kita malah berlari menjauhinya seolah mereka meninggalkan.

Jangan hanya menyalahkan mereka, tapi salahkan diri kita.
Jangan hanya mengurungkan niat mulia, tapi kita tak tahu bagaimana caranya.
Jangan hanya so’ so’an kamu kuat, padahal kamu rapuh hatinya.
Jangan hanya manis dalam hari-harinya, padahal kamu sendiri tahu bahwa pahit yang sedang dirasa.

Asap mengepul tentulah ada api didalamnya.
Masalah timbul tentulah ada akar padanya.
Berdo’alah secara maqbul agar kau tahu jalan keluarnya.

Allah takkan memberi ujian melebihi batas kemampuan kita kok.
Tapi kenapa kita seolah merendahkan kemampuan yang diberikan Allah?
Kenapa kita malah meremehkan hasil karya cipta Allah?

Kita bukanlah kita bila tak tahu siapa kita.
Allah bukanlah Tuhan bila kalian tak tahu siapa Tuhan sebenarnya.
Manusia cenderung akan me-nomorsatukan sesuatu/seseorang.
Entah itu benda mati, benda hidup, benda ghaib.
Tinggal hati dan pikiran kita saja yang bertindak kemana.
Apakah akan memperhatikan hal yang mati? Benda hidup? Atau benda ghaib padahal hidup?
Itu tergantung kita.

Kita mungkin tak tahu bagaimana Adam a.s. yang sekuat tenaga berjuang hidup kala belum ada apa-apa di dunia.Kita mungkin lupa bagaimana Daud a.s. didera penyakit yang tiada henti mendera.Kita mungkin tak ingat bagaimana Ibrahim a.s. begitu berani melawan penduduk dan raja.Kita mungkin tak pernah membaca bagaimana Isa a.s. difitnah kaum tak bertanggung jawab bahwa beliau disalib.Kita juga mungkin sedikit tahu tentang bagaimana Muhammad S.A.W. menjadi suri tauladan seluruh manusia sepanjang zaman.

Apakah kesemuanya dilakukan dengan cara mudah?
Apakah mereka bisa bersenang-senang seperti kita saat ini?
Apakah para Nabi itu dianggap remeh oleh pendukungnya?
Apakah utusan terbaik Allah itu tak gentar ketika diberikan ujian?

TIDAK. Mereka manusia biasa. Ya. Manusia biasa.
Mereka makan, tidur, bisa berolahraga, sering menangis, bisa berdo’a, bisa mengeluh, mudah tertawa, tak takut akan jalan kebenaran. Itulah manusia.
Manusia diberikan pilihan oleh Allah seluas-luasnya untuk memilih jalan hidup.
Jalan kanan? Tentu akan mendapat kebahagiaan di akhirat kelak.
Jalan kiri? Tentu akan merasakan kesenangan di dunia saja.
Bila saja para Nabi tersebut mengikuti hawa nafsunya, tentulah kita takkan bisa senikmat ini beribadah.
Bila saja para Nabi takabur akan nikmat Tuhan-Nya, tentulah kita masih berada pada zaman kegelapan.
Zaman dimana kemaksiatan merajalela dibandingkan saat ini.
Bila saja para Nabi lupa akan karunia Allah, tentulah mereka takkan (lagi) menjadi suri tauladan Muslim sedunia.

Subhanalloh. Sungguh mulia mereka. Para Nabi yang Allah kirimkan ke muka bumi ini.
Apakah kita tak mau seperti mereka?
Memang terasa mustahil untuk bisa mencapai 100% menyamainya.
Tapi setidaknya kita harus berusaha untuk mendekati rekor pencapaiannya.
Banyak ibroh yang bisa kita petik dari mereka.

Maka dari itu, janganlah kita berputus asa dengan ujian ringan ini. Ya, ujian ringan.
Kita anggap semua ujian ini ringan.
Karena kalau kita menganggap semua ujian berat, kita akan terus terbebani dan tidak santai dalam menyelesaikannya.

Ingatlah pula, pelaut ulung takkan lahir dari ombak damai.
Mereka lahir dan dibesarkan dari deburan badai yang bertubi-tubi mendera.
Jalan menuju puncak gunung itu menukik tajam, berkerikil batu, berhembus debu.
Dan kita akan lupa semua itu bila kaki sudah memijaki puncak tertinggi bumi.
Ada apa dengan kita? Tidakkah kita tertarik melakukannya?
Wallohu a’lam.

January 15, 2015

Para Perampok Professional
Kali ini kita akan membahas tentang para perampok professional sewaktu perampokan di Guangzhou, China.

Diceritakan "Jangan Bergerak. Uang ini Milik Negara, Hidupmu milikmu." Semua orang di bank menunduk dengan tenang.
perampok bank berteriak kesemua orang di bank:

Ini yang disebut "Konsep Merubah Pikiran" Merubah cara berpikir yang konvensional.

Ketika seorang wanita berbaring di meja secara profokatif, perampok berteriak padanya "Beradablah, Ini perampokan, bukan pemerkosaan!"

Ini yang disebut "Professional" fokus hanya kepada apa yang kamu latih

Ketika Perampok kembali kerumah, perampok yang lebih muda (lulusan s2) berkata kepada perampok yang tua (lulusan sd): "Bang, ayo kita hitung berapa yang kita dapat." Perampok yang lebih tua bilang "Bego banget lo. Duitnya banyak gitu lama pasti ngitungnya. Malem ini lihat aja di TV bakal bilang berapa yang kita rampok dari bank!"

Ini yang disebut "Pengalaman." Sekarang pengalaman lebih penting dari gelar!

Setelah perampok pergi, manajer bank bilang pada supervisor bank untuk menelpon polisi secepatnya. Tetapi supervisor berkata: "Tunggu! Ayo kita ambil $10juta dollar dari bank untuk kita dan tambahkan ke $70juta dollar yang sudah diambil dari bank".

Ini yang disebut "Sambil Berenang Minum Air." Merubah keadaan tak baik menjadi keuntungan anda!

Supervisor berkata: "Akan sangat bagus bila ada perampokan setiap bulan."

Ini yang disebut "Membunuh Kebosanan" Kebahagiaan personal lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, Berita TV melaporkan bahwa $100juta telah dicuri dari bank. Perampok menghitung dan menghitung, tetapi mereka hanya dapat $20juta dollar. Perampok sangat marah dan komplain "Kita meresikokan hidup kita dan hanya dapat $20juta dollar. Pekerja Bank mengambil $80juta dollar dengan santai. Sepertinya mendingan menjadi teredukasi daripada perampok!"

Ini yang disebut "Pengetahuan bernilai lebih banyak dari emas" 

Manajer bank tersenyum dan bahagia karena kekalahan di main saham dapat di bayarkan oleh perampokan yang terjadi.

Ini yang disebut "Mengambil kesempatan." Berani mengambil resiko!

Jadi siapakah pencuri Sejati dan lebih professional disini?

Sumber : spotlite (Trans 7)

September 11, 2014

Yang Terlupakan Dari Sosok Ayah
Setelah banyak tulisan tentang orangtua, lebih khusus ke ibu. Kali saya muat tulisan mengenai hal yang terlupakan dari sosok ayah. Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, baik yang sedang bekerja diperantauan, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya, akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya. Lalu bagaimana dengan ayah?

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak kecil, ayah biasanya mengajari putra kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Ibu bilang: “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya“, Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.

Tapi sadarkah kamu? Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta mainan baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas: “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang.” Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata: “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!“. Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja, kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!” Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu. Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu!

Ketika anak perempuannya mulai sering ditelpon lelaki, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia. Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir.

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut… Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu. Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?

“Bahwa anak kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur atau apapun itu. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Ayah harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.

Tapi yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang“. Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT. Kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan… Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah: “Tidak…. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu“. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “anak kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Untuk anak wanita, sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Ayah tahu. Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya. Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia.

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:
“Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya”.

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.

Ayah telah menyelesaikan tugasnya.
Ayah, Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu.

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.

July 11, 2014

Segi-Segi Kehidupan K.H. E. Abdurrahman edisi 3 (tamat)
Salah satu karya K.H. E. Abdurrahman
Disarankan membaca artikel edisi sebelumnya disini, K.H. E. Abdurrahman edisi 1 dan K.H. E. Abdurrahman edisi 2.

Permasalahan intern organisasi pun dihadapi pada masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman ini, terutama setelah terjadinya G.30 S/PKI, karena adanya anggota-anggota yang diragukan itikad baiknya dalam organisasi Persis. Pengawasan ketat dilakukan karena Persis selain menghendaki dan mengutamakan kualitas pelaksanaan pengamalan ajaran agama yang berdasarkan ajaran Alquran dan Sunnah, juga menghendaki mengutamakan kualitas pelaksanaan disiplin organisasi yang berdasarkan Qanun Asasi, Qanun Dakhili, peraturan-peraturan, Tausyiah, dan seperangkat tata kerja yang berlaku dalam organisasi. Adapun kuantitas, tidak berarti diabaikan, melainkan sangat dikhawatirkan manakala jumlah yang banyak itu hanya menambah beban dan merupakan buih saja, tidak akan memberi manfaat sebagaimana yang diharapkan, bahkan sebaliknya akan mendatangkan madarat bagi keutuhan tegaknya jam'iyyah.

Pengawasan yang ketat inilah yang menjadi ciri dari masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman, hal ini dilatarbelakangi oleh adanya pemalsuan nama organisasi Persis untuk keuntungan pribadi yang mengatasnamakan organisasi. Selain itu putusnya hubungan antara Pusat Pimpinan Persis dengan cabang-cabang Persis yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi ini pun diakibatkan adanya peristiwa G. 30 S/PKI. Sebagai perbandingan, tahun 1964 terdapat 63 cabang dengan jumlah anggota 7.173, sedangkan pada 1967 turun menjadi 56 cabang dengan jumlah 4.455 anggota. (Lihat arsip Muktamar/muakhot Persis tanggal 16-18 Januari 1981, hal. 9). Hal ini menunjukan penurunan jumlah anggota Persis jika dibandingkan dengan jumlah cabang dan anggota pada tahun 1964 yang mempunyai jumlah cabang dengan hanya 56 cabang dan 4.455 orang anggota, dan pada tahun 1980 terdapat 81 cabang dengan jumlah anggota hanya 3.717 orang. Ini merupakan perbedaan yang mencolok antara jumlah cabang dan banyaknya anggota.

Dalam hal ini dapat difahami, karena yang menjadi dasar dari K.H.E. Abdurrahman sebagai Ketua Umum PP. Persis tentang keanggotaan Persis dijelaskan dalam khutbah Iftitah pada Muakhot Persis tanggal 16 Januari 1981, beliau menyatakan:

" ….Bila lahir pertanyaan, kenapa Persatuan Islam ini tidak ada kemajuan, hanya berputar-putar di sana; maka jawabnya, begitulah Persatuan Islam, yang senantiasa thawaf, berputar dalam lingkaran mardlatillah!
Meskipun anggota Persatuan ini anggotanya bisa dihitung dengan jari, tetapi pengaruhnya cukup besar; banyak ajaran Persatuan Islam yang sekarang dilakukan oleh mereka yang tidak akan mengaku bila dikatakan orang Persatuan Islam.

"…Maka terimalah segala apa yang telah kita rasakan, janganlah terlalu berangan lebih jauh; tetapi yang pokok bagi kita adalah meningkatkan kerja, untuk membina hari esok yang lebih baik, yakni hari esok di akherat. Sedangkan dari pembinaan hari esok untuk akhirat itulah akan tercipta pula hari esok dunia yang lebih cerah; perhatikan waktu yang tengah kita alami ini, sebab hari esok kita sangat tergantung dengan amal kita pada hari ini.

"….Maa'amilat aidihim liyakulu min tsamarihi", kita umat manusia hanya menanam, hanya Allah yang akan menumbuhkannya, dan kita akan memakan buahnya; hanya Allah yang akan menumbuhkannya, seperti diutusnya para rasul dan nabi, yang hanya menanamkan badratul iman, tetapi karena tumbuh disiram, maka wujudlah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, wujudlah Khalid bin Walid.

Karena itu, janganlah mengharapkan pekerjaan yang bukan garapan kita, membangun sekolah ini tidak cukup dengan tukang kayu, tetapi diperlukan tukang tembok; mereka menjadi saling pelengkap untuk menumbuhkan suatu bangunan, menciptakan suatu rumah, suatu sekolah, atau suatu bangunan megah.

Negara kita lengkapilah dengan suatu yang dibutuhkan, rakyat Indonesia di masa yang akan datang apa agamanya, tergantung dengan perjuangan apa kita sekarang; janganlah mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaan kita, keahlian kita, kita tidak mau untuk melakukan sesuatu yang bukan garapan kita!.

Semua itu jangan menyedihkan kita, menyusahkan kita, zaman sekarang perlu juga mubaligh, da'i, agar agama senantiasa berjalan sesuai dengan jalurnya!

Betul kita sedikit, tetapi pengaruh kita cukup kuat, hampir seluruh Indonesia terpengaruh dengan faham kita, meskipun mereka tidak mau dikatakan Persatuan Islam!

Kalau dahulu ditakdirkan Persatuan Islam tidak ada, wajah umat Islam di Indonesia tidak akan seperti ini; kalau kebiasaan khutbah Jumat tetap berbahasa Arab, tidak diubah, bagaimana keadaan umat Islam sekarang ini?

Kita tidak perlu menepuk dada, bukan maksud kita menepuk dada, tetapi kita menerangkan suatu kenyataan, seperti diterangkan dalam suatu ensiklopedi, bahwa Persatuan Islam itu adalah; "Jam'iyyatul Ittihad Islamy Mu'adadatun Shagiratun Kabirun Nufus". Artinya Persatuan Islam adalah yang tergolong kecil, tetapi memiliki pengaruh yang besar.

Kita harus sabar dan ikhlas dalam berjuang, sebab Rasulullah juga tidak langsung berhasil dalam perjuangannya, memerlukan waktu yang panjang!

Jika melihat aktivitas organisasi di masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman sejak tahun 1962 hingga 1983, menunjukan kecenderungan pada kegiatan-kegiatan sekitar tabligh dan pendidikan dari tingkat pusat hingga ke tingkat cabang. Hal ini tidak lepas dari langkah dan kebijakan yang diambil oleh K.H.E. Abdurrahman, sebab menurut Muhammad Natsir (Fauzi Nur Wahid, 1988:67) K.H.E. Abdurrahman lebih banyak mewarnai arah dan perjuangan Persis dengan tabligh-tabligh dan pengembangan lembaga-lembaga pendidikan (pesantren), sehingga Persis sebagai organisasi massa tidak memperlihatkan langkah perjuangan ke arah politik. K.H.E. Abdurrahman dalam memimpin organisasi Persis lebih memprioritaskan pada "organisasi agama"; sebab ia mengambil pola kepemimpinan ulama, bukan political leaders. Tamat.

Klik disini untuk mengetahui profil penulis Dadan Wildan Anas, M.Hum

July 10, 2014

Segi-Segi Kehidupan K.H. E. Abdurrahman edisi 2
Tokoh-tokoh Persatuan Islam
K.H. E. Abdurrahman dan Persis
Tulisan edisi sebelumnya bisa dilihat disini, KH. E. Abdurrahman edisi 1.

Atas kehendak Allah, suatu hal yang jarang terjadi di mana seorang ulama yang semula mempunyai pemahaman keagamaan tradisional kemudian beralih menjadi ulama yang berpegang teguh terhadap Quran dan Sunah dan menentang berbagai bid'ah, khurafat, dan takhayul. Hal ini dialami K.H.E. Abdurrahman.

Kisah yang disampaikan K.H. E. Sar'an yang berasal dari ustadz E. Sasmita sebagaimana yang dikutif Fauzi Nur Wahid (1988Sasmita sebagaimana yang dikutif Fauzi Nur Wahid (1988 : 15), cukup memberikan gambaran tentang bagaimana K.H.E. Abdurrahman berubah sikap dari sosok ulama tradisional menjadi sosok muajddid yang tangguh.

Berawal dari adanya pengajian yang diselenggarakan oleh Persatuan Islam di jalan Pangeran Sumedang yang dipimpin oleh A. Hassan. Dalam suatu kesempatan, A. Hassan membahas masalah haramnya tahlilan, talqin, marhaban, dan usholi yang disebutnya sebagai perbuatan bid'ah. Ustadz E. Sasmita salah seorang murid E. Abdurrahman yang mengetahui hal itu kemudian menyampaikan bahasan A. Hassan kepada kelompok pengajiannya di madrasah malam MPDI, dan masalah ini pun diketahui pula oleh guru kebanggaan mereka, ustadz E. Abdurrahman. Ustadz E. Abdurrahman dan masyarakat sekitarnya merasa tersinggung mendengar bahasan A. Hassan, karena merasa yakin dan faham yang dianutnya disinggung dan dihinakan, apalagi disebut perbuatan haram karena bid'ah.

Dengan keberaniannya, ustadz E. Abdurrahman beserta beberapa orang muridnya mendatangi pengajian Persis yang dipimpin oleh A. Hasan. Sejak itu terjadi perdebatan antara A. Hasan dengan E. Abdurrahman hingga berlangsung beberapa malam. Akhirnya ustadz E. Abdurrahman dapat menerima seluruh keterangan dan dalil-dalil yang dikemukakan A. Hasan. Sejak itu, ustadz E. Abdurrahman selalu hadir dalam setiap pengajian Persis di jalan Pangeran Sumedang, dan ia menjadi murid A. Hasan yang paling akrab dan taat mendampingi gurunya dalam berbagai kegiatan. Pada suatu waktu, di dalam pengajian yang disaksikan orang banyak, sambil mengelus kepala E. Abdurrahman, A. Hasan berkata, "Abdurrahman! Anta akan menjadi murid saya yang pintar dan akan melebihi anak kandung saya."

Mulai tahun 1934, ustadz E. Abdurrahman dilibatkan sebagai guru pada lembaga pendidikan Islam (Pendis) Persis yang dikelola oleh Muhammad Natsir. Dengan demikian, semakin dekatlah ustadz E. Abdurrahman dengan para ulama Persis beserta para anggotanya. Kedekatan dengan Persis ini harus dibayar mahal, ia diusir oleh Tuan Alkatiri yang masih berpandangan tradisional, dan dibebaskan sebagai pengajar di MPDI, juga dibebastugaskan sebagai khatib di Pakauman Bandung, bahkan dia pun diusir dari rumah milik Alkatiri yang ia tempati sejak lama. Mulai saat itulah, E. Abdurrahman mengalami perubahan dalam kehidupannya; yang tadinya hidup serba kecukupan karena menjadi anak emas Alkatiri, kehidupannya menjadi sangat prihatin. Namun, kesemuanya itu ia terima sebagai ujian dari Allah SWT. (Fauzi Nur Wahid, 1988: 16-17).

Sekitar tahun 1940, pesantren Persis untuk orang dewasa (pesantren besar) yang dikelola A. Hasan, bersamaan dengan kepindahan A. Hasan ke Bangil, sebagian santrinya pun ikut ke Bangil. Sementara pesantren kecil yang dipimpin oleh E. Abdurrahman terus mengembangkan diri di Bandung dan tetap berjalan hingga masa pendudukan Jepang. Pada saat revolusi fisik (1945 – 1949) pesantren Persis di bawah pimpinan E. Abdurrahman diungsikan ke Gunung Cupu, Ciamis. Baru setelah berakhirnya revolusi fisik, Pesantren Persis kembali lagi ke Bandung dan terus mengembangkan jenjang pendidikannya hingga tingkat mualimien.

Dalam aktivitas organisasi di jam'iyyah Persatuan Islam, ustadz E. Abdurrahman menunjukan sikap loyal dan ikut aktif sebagai anggota Persis sejak tahun 1934. jabatan dalam jam'iyyah yang pertama kali dipegangnya adalah ketua bagian tabligh dan pendidikan pada tahun 1952. Dalam tahun 1953 (pada Muktamar ke-5 di Bandung) ustadz E. Abdurrahman terpilih sebagai Sekretaris Umum PP. Persis mendampingin K.H.M. Isa Anshary sebagai Ketua Umum.

Pasca Muktamar Persis ke VII, pada tahun 1962 K.H..E. Abdurrahman terpilih sebagai ketua umum PP. Persis melalui referendum. Periode kepemimpinan K.H..E. Abdurrahman ini merupakan periode kepemimpinan Persis ketiga setelah berakhirnya kepemimpinan K.H..M. Isa Anshary. Periode kepemimpinan Persis ke tiga ini merupakan regenerasi kepemimpinan dari tokoh-tokoh generasi pertama Persis kepada eksponen Pemuda Persis yang merupakan organisasi otonom Persis tempat pembentukan kader-kader Persis. Tampilnya K.H..E. Abdurrahman, Eman Sar'an, Rusyad Nurdin, dan E. Bachrum yang merupakan mantan pimpinan pemuda Persis periode awal membuktikan adanya pewarisan tongkat estafet kepemimpinan kepada kelompok muda dari organisasi bagian otonom Persis.

Berbagai persoalan mulai muncul pada masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman. Namun masalah yang paling mendasar adalah bagaimana mempertahankan eksistensu Persis di tengah gejolak sosial politik yang tidak menentu. Jihad perjuangan Persis dihadapkan pada masalah-masalah politik yang beragam. Pembubaran partai Masyumi oleh Soekarno karena dianggap kontra revolusi, dan lepasnya Persis sebagai anggota istimewa Masyumi, serta ancaman akan dibubarkannya Persis oleh pemerintah Orde Lama karena tidak memasukan Nasakom dalam Qanun Asasi Persis, sampai pada meletusnya G.30 S/PKI merupakan masalah-masalah politis yang dihadapi pada masa awal kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman.

Bagaimanapun, pergeseran besar telah terjadi dalam kegiatan politik Indonesia sejak. Apalagi dengan tersingkirnya kelompok-kelompok sayap kiri yang terpenting karena dilarangnya PKI dan dilenyapkannya kepemmpinan sayap kiri PKI di dalam PNI. Dengan demikian harapan baru pun mulai timbul di kalangan Islam. "Perbenturan kekuatan" telah sirna dan berakhir dengan kemenangan suatu format politik baru, dan ini menunjukan awal perkembangan setelah tahun 1965 dalam babakan baru sejarah Indonesia; penindasan dan ancaman telah lenyap, surat kabar dan majalah diperkenankan terbit kembali. Pada tanggal 16 Desember 1965 dibentuk Badan Koordinasi Amal Muslimin yang mempersatukan 16 organisasi Islam yang ingin mengusahakan rehabilitasi Partai Masyumi.

Setelah Soekarno disisihkan dari kegiatan politik aktif ( sejak dikeluarkannya surat perintah 11 Maret 1966), para mantan pemimpin Masyumi mengharapkan bahwa Masyumi segera diizinkan kembali melakukan kegiatan, dan dengan anggapan merekalah yang menentang Demokrasi Terpimpin Soekarno. Namun, harapan baru itu menimbulkan kekecewaan baru. Sebab, sejak bulan Juni 1966 diumumkan suatu pernyataan perwira-perwira tentara yang terutama diarahkan terhadap Soekarno untuk mencegah kegiatan dan intriknya lebih lanjut. Akan tetapi pernyataan ini sekaligus menerangkan bahwa militer "akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun, dari pihak manapun, dan golongan apa pun yang menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945". Penyataan ini merupakan kecenderungan menduga para pemimpin Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI di tahun 1958 dan sebagai suatu alasan untuk menerapkan larangan itu. Beberapa orang percaya bahwa pemerintah tidak ingin menyaksikan Masyumi direhabilitasi karena adanya kecenderungan partai ini untuk membentuk partai Islam.

Lenyapnya Masyumi dari gelanggang politik menyebabkan terjadinya kekosongan tempat untuk menyalurkan aspirasi politik aliran Islam modernis seperti Muhammadiyah dan Persis. Itulah sebabnya pada tahun 1964 timbul keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan Partai Islam Indonesia (PII). Namun, karena semangat rehabilitasi Masyumi masih cukup besar pada waktu itu, maka usaha itu terbengkalai. Pada tahun 1967, juga terdengar berita bahwa Bung Hatta dan para alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bermaksud mendirikan partai pengganti Masyumi yang disebut "Partai Demokrasi Islam Indonesia" (PDII). Akan tetapi sebagaimana PII, PDII pun tidak kunjung terlaksana.

Setelah lahirnya Orde Baru, dengan anggapan bahwa di bawah kepemimpinan Soeharto akan lebih demokrat dibandingkan Soekarno, ide rahabilitasi Masyumi semakin besar. Namun usaha ini hanya mampu melahirkan "Partai Muslimin Indonesia" (PARMUSI) di bawah pimpinan Djarnawi Hadikusuma dan Lukman Harun sebagai sekretaris jenderal (1968-1970). Partai Muslimin Indonesia (semula disingkat PMI kemudian Parmusi) lahir pada tanggal 7 April 1967 yang dimaksudkan sebagai kelanjutan Masyumi dengan nama lain. Pemerintah Orde Baru setuju, tetapi beberapa perwira tentara tertentu berkeberatan dengan keikutsertaan para mantan pemimpin Masyumi dalam partai tersebut. Pada tanggal 24 Oktober 1967 Muhammad Natsir memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepemimpinan partai tersebut.

Sikap Persis di bawah pimpinan K.H.E. Abdurrahman terhadap Parmusi menunjukan sikap yang kurang responsif, dan menolak untuk menjadi anggota Parmusi dengan alasan pimpinannya tidak dipilih oleh umat. Dalam masalah ini Pimpinan Pusat Persis sering menyampaikan pernyataan-pernyataan lisan maupun tulisan pada badan legislatif dan eksekutif, walaupun Persis merupakan organisasi non-politik.

Selain menghadapkan jihadnya kepada masalah-masalah politik, Persis menghadapi pula aliran-aliran yang menyesatkan umat Islam, diantaranya aliran pembaharu Isa Bugis, aliran Islam Jama'ah, Darul Hadist, Inakrus Sunnah, dan berbagai macam aliran yang sesat dan menyesatkan. Untuk menghadapi aliran-aliran sesat dan sesat ini, para Mubaligh Persis dan Mubalighat Persistri dan Jam'iyyatul Banaat (sekarang Pemudi Persis) terjun kedaerah-daerah secara rutin dengan melaksanakan tabligh keliling. Insya Allah bersambung...

July 9, 2014

Segi-Segi Kehidupan K.H. E. Abdurrahman edisi 1
K.H. E. Abdurrahman
Oleh: Dadan Wildan Anas, M.Hum.

Bagi sebagian kalangan, salah satu tokoh Persis ini memang jarang dibicarakan. Ya, K.H. E. Abdurrahman turut mengisi daftar nama salah satu tokoh besar organisasi Islam Persis (Persatuan Islam). Mari kita simak mengenai segi kehidupannya.

Menurut Fauzi Nurwahid dalam skripsinya yang berjudul K.H..E. Abdurrahman; Perannya dalam Organisasi Persatuan Islam (1988) K.H. E. Abdurrahman dilahirkan di Kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur pada hari Rabu 12 Juni 1912 (26 Jumadi Tsaniah 1330 H). Ia merupakan putera tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Ghazali, seorang penjahit pakaian, dan ibunya bernama Hafsah, seorang pengrajin batik.

Pada usia 7-8 tahun, E. Abdrurrahman telah hatam Alquran dan pada usia ini pula ia mulai meniti jenjang pendidikan dengan memasudi madrasah Nahdlatul Ulama Al-lanah Cianjur (1919-1926). Di madrasah inilah penguasaan bahasa Arab dan ilmu alatnya semakin mantap. Selesai menamatkan pelajaran di madrasah Al-lanah, E. Abdurrahman pergi ke Bandung atas permintaan Tuan Swarha (Hasan Wiratmana) untuk mengajar di madrasah Nahdlatul Ulama Al-lanah Bandung (1928 – 1930). Sekitar tahun 1930, atas permintaan tuan Alkatiri, seorang tuan kaya di Bandung, ia diminta untuk memberikan bimbingan agama kepada putera-puteranya. Selain itu, Tuan Alkatiri pun mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI) di Gg. Ence Azis No. 12/10 Kebon Jati Bandung yang menyelenggarakan pendidikan agama bagi anak-anak pada pagi hari. E. Abdurrahman diberi tugas mengelola MPDI bersama-sama dengan sahabatnya O. Qomaruddin Saleh yang juga mengelola madrasah Al-Hikmah di Rancabali Padalarang.

Tahun 1933, E. Abdurrahman menikah dengan Komara dari keluarga Asyikin seorang ningrat Cianjur dan dikaruniai 13 orang anak; lima putera dan delapan puteri. Dalam perjalanan hidupnya, E. Abdurrahman telah melakukan perjalanan haji dua kali, tahun 1956 bersama-sama Isa Anshary, A. Hassan, Tamar Djaja, Emzita, dan Tamim beserta rombongan 40 orang, dan pada tahun 1981 membimbing jamaah haji Persis berjumlah 89 orang.

K.H. E. Abdurrahman dikenal sebagai seorang yang tawadhu, seorang ulama besar, ahli hukum, namun tidak ingin disanjung, sehingga tidak banyak dikenal umum. Ia sangat menghargai waktu, waktunya dihabiskan untuk menelaah kitab-kitab, mengajar di pesantren, dan hampir setiap malam mengisi berbagai pengajian.

Ulama besar ini, jika dilihat dari latar belakang pendidikannya hanyalah lulusan madrasah Al-Ianah Cianjur, namun kegigihannya dalam membuka cakrawala ilmu tidaklah terbatas pada jenjang pendidikan formal, ia mencoba memahami berbagai bahasa, khususnya bahasa Arab, Inggris, dan Belanda ia kuasai. Cakrawala keilmuwannya terbuka luas, dengan berlangganan surat kabar Sipatahoenan, Kompas, dan Pikiran Rakyat, juga surat kabar berbahasa Inggris "The Indonesia Observer", disamping selalu mendapat kiriman majalah-majalah berbahasa Arab dari Saudi Arabia dan Mesir. Keseriusannya menelaah kitab-kitab telah merupakan bagian kehidupannya. Perbendaharaan kitabnya yang begitu banyak dan keseriusan mengkajinya, merupakan faktor penunjang dalam membentuk dirinya sebagai ulama. Keahliannya meliputi berbagai bidang ilmu, antara lain teologi, syariah, ilmu tafsir, ilmu hadist, fiqih, ushul fiqh, dan ilmu hisab. Dengan ilmu yang dikuasainya, meski tidak pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, namun ia diangkat menjadi dosen UNISBA tahun 1959, dan tahun 1967 sebagai dosen FKIT IKIP Bandung.

Muhammad Natsir (Fauzi Nur Wahid, 1988:74), memberikan penilaian bahwa E. Abdurrahman mempunyai kelebihan dalam kecermatannya menetapkan hukum dari ijtihadnya, dengan landasan dalil yang selalu kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ulama seperti ini termasuk langka, bahkan jarang ditemui di luar negeri sekali pun.

Sosok E. Abdurrahman menunjukan orang yang sehat, bersih, dan selalu rapi dalam berpakaian. Apalagi jika akan selalu mengajar di pesantren, ia selalu tampil mengenakan celana panjang, berjas, dan berdasi. Hal ini ia lakukan bukan untuk disanjung dan menyombongkan diri, tetapi menghilangkan kesan yang mengatakan bahwa para ustadz di pesantren selalu berpakaian kotor, kumal dan jorok. Sikapnya senantiasa berhati-hati dalam berucap hingga tidak pernah menyakiti orang. Ia pun seorang penulis yang produktif, ia banyak menulis karangan lepas yang banyak tersebar di majalah-majalah, banyak menyusun bahan khutbah jumat, khutbah idul fitri dan idul adha. Buku-buku yang pernah disusunnya antara lain, Jihad dan Qital; Darul Islam; Ahlussunnah wal Jamaah; Dirasah Ilmu Hadis; Perbandingan Madzhab; Ahkamusyar'i; Risalah Jumat; Recik-Recik Dakwah; Sekitar Masalah Tarawih; Takbir dan Shalat Ied dilengkapi Khutbah Iedul Fitri; Hukum Kurban, Aqiqah dan Sembelihan; Petunjuk Praktis Ibadah Haji; Renungan Tarikh; Mernahkeun Hukum Dina Agama; Syiatul Aly; dan Risalah Wanita. Selain itu ia pun menulis dalam bentuk tanya jawab pada majalah Risalah dalam ruang Istifta.

Dalam perjuangannya di Persis menurut K.H.. Abdul Latief Muchtar, (1997: 12-13), K.H.. E. Abdurrahman sering berkata: "Kita harus mampu menghilangkan diri", hal ini mempunyai makna bahwa demi hidupnya pemikiran dan perjuangan untuk mempertahankan dan menegakan jam'iyyah perlu keikhlasan, berani melepaskan kepentingan pribadi untuk kepentingan jam'iyyah, dan tidak membanggakan diri terhadap jasa yang diberikan karena Allah. Dalam setiap tausiahnya, baliau selalu berkata, "Kita bukan pengikut dari generasi terdahulu, melainkan sebagai pelanjut." Hal ini mengandung makna bahwa pemikiran dan perjuangan Persis tidak taqlid, melainkan harus inovatif sesuai dengan perkembangan zaman dalam batas-batas kerangka Alquran dan Assunah. Sementara dalam metode dakwahnya, K.H.. E. Abdurrahman selalu menekankan bahwa, "Kita perlu mencari jelas, dan bukan mencari puas".

Pada hari Kamis, tanggal 21 April 1983, K.H..E. Abdurrahman meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena penyakit asma yang dideritanya. Insya Allah Bersambung...

July 7, 2014

Surat untuk Presidenku
Bismillahirrahmaanirrahiem.
Dengan mengharap Rahmat dan Ridho Allah SWT, semoga kita senantiasa diberikan kesempatan untuk selalu bersyukur dan berkhidmat dalam ajaran-Nya, Amien.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Dengan datangnya surat ini, saya Muhammad Rasyid Ridlo AL-Ghazaly menghaturkan banyak terimakasih karena bapak presiden berkenan membaca tulisan sederhana ini. Surat ini bukan dalam rangka sombong dan membanggakan diri karena berhasil sampai ke tangan bapak dengan selamat dan bisa dibaca langsung. Tapi surat ini saya tulis semata-mata ungkapan isi hati yang selama ini tidak tersampaikan.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Sebagai seorang kepala negara tentunya bapak memiliki banyak beban dan tugas yang harus dipikul demi kesejahteraan masyarakat. Sejahtera dalam arti saling rukun, makmur, dan sentosa dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan tentunya beragama. Kami sebagai rakyat harus tunduk dan patuh akan segala keputusan dan ketetapan yang bapak dan jajaran pemerintahan susun itu.

Namun, tentunya bapak juga mengetahui, sebagai warga negara, kami memiliki hak untuk berpendapat dan berbicara apabila ada ketetapan yang tidak sesuai dengan asas dan tujuan bernegara khususnya di Indonesia ini. Maka ini adalah kesempatan bagi saya pribadi untuk mengeluarkan uneg-uneg yang insya Allah mewakili sebagian warga.

Pertama, saya ingin menyampaikan bahwa bapak harus menempatkan kepentingan rakyat diatas segalanya. Apa yang rakyat butuhkan haruslah dilaksanakan. Murahnya barang pangan, minimalnya angka kemiskinan, terbukanya lapangan pekerjaan, tingginya motivasi berwirausaha, dan yang terpenting aman dan tentramnya dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang diakui oleh Negara kita.

Saya paham, bapak dan jajaran pemerintahan saat ini adalah orang yang mengerti dan memahami tugas dan peran masing-masing. Tapi jangan sampai menyalahgunakan kepercayaan kami, rakyat Indonesia yang menuntun bapak-bapak sampai ke Senayan dan mempermainkannya. Sebagaimana keyakinan bapak presiden, Bapak tahu bahwa manusia itu hidup tidak hanya saat ini. Manusia akan memperhitungkan segala yang dilakukannya di dunia. Bukan so' agamis, tapi hanya mengingatkan saja. Dan ternyata seorang kepala negara sangat menentukan akhlaq bangsa yang dipimpinnya.

Saya ingin katakan, kata siapa negara tidak boleh mengatur urusan ibadah suatu agama? Karena privasi-kah? Ataukah negara tidak mau ikut campur karena terlalu kompleks? Menurut saya tidak. Pemerintah sangat berperan penting dalam tatanan kemasyarakatan termasuk agama. Maka siapa yang nantinya mengizinkan pendirian bangunan berupa tempat peribadatan? Siapa pula yang mengatur urusan ibadah haji? Siapa pula yang mengizinkan perayaan natal, perayaan waisak, nyepi, gong xi fa chai, dan perayaan lain yang tentunya agama yang diakui oleh negara.

Karena saya yakin, sebagai seorang yang beragama, tentunya bapak dan jajaran pemerintahan menganut suatu agama tertentu, dan tidak mau ibadahnya itu terhambat atau bahkan terhenti hanya karena masalah perizinan.

Kedua, mencermati dan mengamalkan amanat UUD 45, asas Bhineka Tunggal Ika, dan pilar-pilar pancasila lain. Kita sebagai warga negara Indonesia tentunya harus berterima kasih dan bersyukur karena telah menerima hasil jerih payah perjuangan founding father dalam memerdekakan negara ini. Sebuah perjuangan yang mahal harganya, dibayar dengan nyawa, bersenjatakan bambu runcing melawan kokohnya patriot besi. Namun karena pertolongan dan bantuan Allah SWT, kemerdekaan itu kita rasakan sekarang, walau masih jauh dari kata 100%

Sebagai salah satu bentuk rasa syukur terhadap founding father, maka kita sebagai generasi penerus seharusnya melanjutkan dan melaksanakan esensi dari perjuangan mereka. Menanamkan sikap nasionalisme yang tinggi namun tetap agamis dan memiliki solidaritas yang kuat.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Ketiga adalah, maksimalkan potensi dan sumber daya negeri sendiri. Banyak opini yang menggambarkan bahwa Indonesia adalah surga dunia, dengan kekayaan alam yang melimpah, pemandangan alam yang sempurna, potensi sumber daya yang bergelimang, tentunya sudah menjadi keharusan bahwa kita sendiri lah yang merasakan nikmatnya "barang" sendiri.

Saya bahkan bosan dengan ungkapan Indonesia adalah surga dunia tersebut. Nampaknya bukan masyarakat kita sendiri yang merasakan, tapi mereka. Dunia. Dunia luar yang seharusnya tidak pernah bercokol dan menginjakkan kaki disini.

Saya yakin, bukan kita tidak memiliki solusi. Kita memiliki sumberdaya manusia yang cukup mumpuni. Bila ditata dengan baik, dan KETEGASAN seorang kepala negara, pasti Indonesia bisa mengelola potensi sumber daya dengan maksimal. Hanya saja akhir-akhir ini pemimpin negara ini terlalu takut dan pengecut untuk melawan mereka.

Kalaulah diumpamakan, bila potensi besi dan baja itu bertumpu di Indonesia, bila emas dunia itu sebagian besar ada di Indonesia, bila potensi kekayaan alam itu banyak tersimpan di Indonesia, lalu kita butuh apa lagi untuk mengelolanya? Mungkin saya terlalu kecil dan kurang memahami mengenai prosesnya, hanya saja begitu menyayangkan bila kita tidak menikmati kekayaan kita sendiri. Kita bukan tuan rumah di negeri sendiri. Miris sekali bangsa ini.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Tidak banyak hal yang bisa saya sampaikan. Besar harapan kami bahwa surat ini bukan hanya rangkaian kata-kata tak bernilai harganya. Saya sadar hanya rakyat biasa dibandingkan bapak presiden ini. Tapi untaian kata ini saya susun dengan penuh harapan bahwa bapak bisa mendengarkan apa yang saya rasakan.

Saya sangat cinta Indonesia. Cinta tanah air ini. Cinta bumi ibu pertiwi. Cinta segalanya tentang Indonesia. Rasa cinta ini mengalahakan kekecewaan saya terhadap Indonesia ini. Tapi tolong, jangan abaikan rasa cinta ini dengan terus menumbuhkan kebencian. Karena kebencian ini bukan mustahil tumbuh, tapi bagaimana sikap dan tindakan bapak ini yang menentukan.

Semoga bapak dan jajarannya bisa menjalankan tugas dengan maksimal.
Bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsi dan peran.
Bapak tidak tertarik dengan gemerlapnya dunia.
Bapak tidak tertarik dengan tawaran yang menggiurkan dari musuh negara.
Bapak tidak memperdulikan para gurita ekonomi dunia yang mencengkram sumber daya Indonesia.
Dan semoga bapak sangat mencintai Indonesia.

May 14, 2014

Mata Kita Buta Setiap Hari
Tahukah kamu, bahwa kita ternyata akan selalu mengalami kebutaan sekitar 40 menit setiap harinya yang sengaja dilakukan oleh sistem penglihatan kita sendiri?

Jadi begini ceritanya, ketika bola mata kita bergerak, ada samar cepat yang terjadi saat kita mengalihkan pandangan dari objek satu ke objek selanjutnya. Dan ternyata, diketahui bahwa otak kita tidak memiliki kemampuan untuk menangkap samar tersebut.

Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh sistem penglihatan kita adalah menghapus samar yang terjadi dari ingatan kita dan menggantinya dengan objek selanjutnya yang akan kita lihat. Hal ini disebut dengan saccadic masking (penyamaran saccadic). Masih belum jelas?

Mari kita lakukan percobaan kecil. Pertama, carilah jam analog (bukan jam digital ya, percobaan ini hanya bisa dilakukan menggunakan jam yang memiliki jarum penunjuk waktu). Lalu, coba lihat suatu benda, apa saja, dan dengan cepat alihkan pandanganmu ke arah jam tersebut. Ada yang aneh?

Coba perhatikan. Saat kita melihat jam, gerakan jarum detik pertama yang kita lihat akan terasa lebih lama dibandingkan gerakan selanjutnya.

Ketika mata melirik dengan cepat, persepsi waktu merenggang sedikit ke belakang. Otak kita mencatat bahwa kita telah melihat jam sedikit lebih lama dari waktu yang sesungguhnya.

Gambaran sederhana Saccadic Masking
Ilusi ini dikenal dengan sebutan ilusi jam-berhenti. Meskipun hal ini terjadi setiap kali mata kita mengalihkan pandangan dari satu titik fiksasi ke titik selanjutnya, hal ini jarang kita sadari. Alasannya adalah otak telah mengisi jeda waktu saat mata kita bergerak melihat benda satu ke benda berikutnya.
Subhanalloh
Wanita Lebih Unggul dalam 6 Hal daripada Pria
Menurut sejumlah riset, wanita bisa lebih unggul ketimbang pria. Dalam hal apa saja wanita lebih baik ketimbang kaum Adam. Berikut ini hasil pemaparan berbagai riset mengenai keunggulan wanita seperti dikutip Cosmpolitan:

1. Tulisan Tangan
Wanita memiliki kemampuan yang lebih baik dalam urusan tulis menulis dibandingkan pria. Hal ini terjadi sudah dari saat mereka kecil ketika mempelajari menulis huruf abjad. Serat-serat saraf yang mengontrol keterampilan motorik di otak laki-laki tidak sebaik yang perempuan miliki. Pada saat itu anak perempuan lebih baik mempelajari tulisan tangan ketimbang anak laki-laki.
(Tapi tidak denganku, tulisan tanganku bagus ah... hihi)

2. Sadar untuk Makan Sehat
Universitas Minnesota melakukan sebuah survei terhadap lebih dari 14 ribu orang yang mengungkapkan bahwa wanita lebih menjaga kesehatannya dengan memakan makanan yang sehat dibandingkan pria. Saat pria memilih pizza dingin di kulkas, wanita lebih memilih buah-buahan yang memiliki lebih banyak nilai nutrisi dan rendah kalori.
(Satuju ieu mah...)

3. Lebih Cepat Belajar
Penelitian yang dilakukan Universitas Goegia dan Universitas Columbia menemukan kalau wanita lebih cepat belajar ketimbang pria. Hal itu karena pada dasarnya wanita punya kemampuan untuk lebih mengembangkan pikirannya. Menurut riset tersebut wanita lebih penuh perhatian, fleksibel dan teroganisir. Jadi saat bekerja, wanita lebih mudah memahami tugas yang diberikan ketimbang rekan kerja prianya.
(Karasa oge...)

4. Lebih Pintar
Berdasarkan riset tes IQ dari berbagai belahan dunia, wanita memiliki IQ yang lebih tinggi daripada pria. Penelitian itu dilakukan oleh James Flynn yang meneliti IQ berbagai orang di dunia mulai dari Amerika, Eropa, Kanada, New Zealand, Argentina dan Estonia. Dari risetnya diketahui IQ wanita berada di atas rata-rata.
(Ah henteu oge..., mun rajin mah ia)

5. Lebih Mengesankan Saat Wawancara Kerja
Sebuah riset yang dilakukan University of Western Ontario mengungkapkan wanita lebih bisa mengatasi stres saat wawancara kerja. Penelitian menemukan meskipun wanita lebih panik saat melakukan persiapan wawancara, ketika hari-H kita justru lebih mengesankan pihak pewawancara ketimbang pria. Hal itu tentu saja karena wanita lebih mempersiapkan diri ketimbang kaum Adam.
(mm.. Maenya sih?)

6. Imunitas Tubuh Lebih Baik
Penelitian yang dilakukan Universitas McGill melihat bahwa wanita memiliki sistem imun lebih baik ketimbang pria. Hal itu karena hormon estrogen di dalam tubuh membuat wanita bisa melawan infeksi lebih kuat. Dalam hormon estrogen ada enzim tertentu yang menjadi proteksi pertama tubuh ketika diserang bakteri dan virus. Imunitas yang lebih baik ini membuat wanita lebih panjang umur ketimbang pria. Sekitar 85% orang yang berumur lebih dari 100 tahun adalah wanita.
(Ya ya ya...)

Sumber

February 12, 2014

Bisakah mencari kesempurnaan?
Ada satu kisah menarik mengenai "kesempurnaan" yang diangkat dari cerita Aristoteles dan Plato (True Story of Academia Garden).
-
Suatu hari di Academia Garden, Filsuf Plato bertanya kepada gurunya (Aristoteles): "Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?".
Sang Guru, Aristoteles menjawab: "Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang!"
-

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Plato kembali dengan tangan hampa.
-
Lalu Sang Guru bertanya: "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?" Plato: "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena ku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung jalan, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH. Akupun tak bisa kembali kebelakang lagi!".
-
Sambil tersenyum sang guru berkata: "Ya, itulah hidup. Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya. Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada. Yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan"
-
Pesan moral:
1. Hidup terus berjalan. Waktu tak bisa diputar. Manfaatkan setiap perbuatan kita sebaik mungkin dan jangan sia-siakan dengan perbuatan tak berarti.
2. Kesempurnaan bukan kewajiban. Tidak seharusnya manusia menuntut kesempurnaan, karena sampai kapanpun, mereka takkan pernah mendapatkannya.
3. Jangan ragu untuk memilih dan menentukan keputusan. Dengan pertimbangan yg matang dan ilmu yang dimiliki, manusia diberi akan untuk berfikir. Tetap berusaha dan belajar.
4. Melihat ke belakang bukan haram, namun tidak mengharuskan untuk berpindah haluan ke belakang dan melupakan pandangan ke depan.
5.  Kesempurnaan tidak akan menjadi milik manusia. Kesempurnaan hanyalah milik rokok (SAMPOERNA). Hehe...
#nineteenboy #spirit_on #motivation_story
-
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

January 30, 2014

Aku Ingin Menjadi Pelacur
Jangan dulu skeptis (curiga) dengan judul postingan Aku Ingin Menjadi Pelacur saya ini, baca dulu baru bicara.
-
Ini tentang pandangan awam seorang remaja yang kurang faham akan kejamnya dunia luar. Ia sangat berhasrat menjadi seorang pelacur karena di lingkungan sekitarnya terdapat sebuah gambaran hipotesis mengenai pelacur yang dikenal dengan nama “tante Betty”.
-
Untuk lebih lengkap, silahkan baca dengan seksama: Sebuah kisah dari seorang anak kecil “Aku Ingin Menjadi Pelacur” katanya.
-
Dulu cita-citaku ingin menjadi perawat seperti ibu.
-
Tapi ayah tidak suka pekerjaan itu. Ayah selalu menentang. Karena itu, ibu sekarang sudah tidak kerja lagi.
-
Sekarang aku mau ganti cita-citaku. Aku ingin menjadi pelacur.
-
Walaupun sebenarnya Aku tidak tahu pelacur itu kerjanya bagaimana, tapi sepertinya pekerjaan menarik.
-
Tante rumah sebelahku pelacur. Ibu yang bilang begitu.
-
Tante Betty selalu tampak cantik. Dandanannya selalu menarik. Kukunya dipoles warna merah.
-
Indah sekali. Bajunya juga bagus-bagus. Ibuku saja kalah. Ibu sehari-hari cuma memakai daster.
-
Kalau dari dulu ibu kerja seperti tante Betty, mungkin akan lebih cantik lagi.
-
Ibu tidak suka dengan tante sebelah itu. Ayah juga pernah bilang kalau tante Betty itu bukan orang baik.
-
Tetangga-tetangga lain juga bilang begitu.
-
Aku jadi heran mengapa semua berpikiran seperti itu. Padahal kelihatannya tante Betty orang baik. Cantik lagi. Sepertinya pelacur itu orang yang sangat penting.
-
Orang-orang banyak yang datang ke rumah tante Betty. Semuanya laki-laki dan mereka menghormati tante Betty.
-
Sepertinya mereka semua karyawan tante Betty. Aku kagum, bagaimana bisa seorang wanita jadi ketuanya laki-laki sebanyak itu. Apalagi mereka semua kaya-kaya.
-
Tante Betty selalu sibuk rapat dengan karyawannya, kadang sampai larut malam mobil anak buah tante Betty masih ada di depan rumahnya.
-
Berarti rapatnya penting sekali. Ibu pernah bilang laki-laki itu tidak bisa menghargai wanita.
-
Tapi aku lihat bapak-bapak yang datang ke rumah tante Betty memperlakukan tante Betty dengan sopan santun.
-
Waktu itu aku pulang sekolah dan ibu juga masih belum datang dari pasar, lihat ayah keluar dari rumah tante Betty.
-
Waktu aku tanya, ayah bilang ada urusan sebentar. Aku jadi tambah kagum dengan tante Betty.
-
Bagaimana tidak, ayahku insinyur pertanian, berarti pekerjaan pelacur itu ada hubungannya dengan cocok tanam.
-
Waktu aku tanya lagi, ayah malah memukulku dan membawaku ke dalam lalu menutup pintu rumah.
-
Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa ayah memukulku.
-
Kemarin tante Betty ulang tahun. Rumahnya ramai sekali.
-
Para karyawannya semua datang membawakan kado. Pestanya sampai larut malam.
-
Aku bilang ke ayah bahwa hari ini tante Betty ulang tahun. Ayah bilang: “iya, ayah tahu”.
-
Aku jadi tambah heran. Padahal ayah tidak pernah ingat ulang tahun ibu. aku jadi tambah kagum dengan pekerjaan tante Betty.
-
Tante Betty mobilnya ganti-ganti.
-
Tante Betty juga punya banyak sopir pribadi. Kemana-mana tante Betty selalu diantar sopirnya.
-
Mungkin orang-orang iri melihat tante Betty. Karena itu juga mereka tidak suka dengannya.
-
Aku pikir dengan menjadi pelacur, aku bisa jadi kaya. Aku semakin yakin. Aku ingin jadi pelacur.
-
Sampai sekarang aku belum bilang ke ayah dan ibu tentang cita-citaku ini.
-
Semoga saja ayah tidak menentang lagi.
-
Kata hati seorang putri kecil yg belum mengenal kejamnya dunia.
-
Bukan mengajarkan untuk kalian menjadi seperti itu. Kisah tersebut memang fiktif. Tapi didasarkan dari kejadian nyata dan BUKAN UNTUK DITIRU!!
-
Gambaran tante Betty itu hanyalah "cangkang" yang hanya dilihat dari luar saja. Kita tidak pernah tahu bagaimana "isi" dan "makna" dari pelacur itu sendiri. Dan kalian - para pembaca - insya Allah sudah tahu busuknya pekerjaan itu.
-
Sekali lagi tulisan Aku Ingin Menjadi Pelacur ini hanya gambaran faktual yang sangat miris terjadi disekitar kita. Mari kita arahkan saudara kita agar terhindar dari kondisi seperti itu. Perbanyak belajar, cari tahu, diskusi dan terpenting do'a supaya diberikan keteguhan Iman dan Islam. Insya Allah.
-
Tweet from @IslamCintaa (http://chirpstory.com/li/185972)
Follow me @nineteenboy_GD

January 20, 2014

Figur Ulul Albab; otak Jerman, hati Mekkah
Sudah membaca buku kisah "Ainun dan Habibie" atau bahkan sudah menonton filmnya? Mungkin kebanyakan anda lebih tertarik dan tersentuh dengan kisah romantis kesetiaan sepasang suami istri, namun justru yang saya rasakan di sepanjang tulisan dalam buku dan film, adalah sebuah pertunjukan "peperangan" dari seorang anak bangsa kepada kebijakan pemerintahnya yang tidak berdaulat dan "tamparan" bagi budaya bangsanya yang tidak mandiri di atas tanah airnya sendiri.

Pada paruh tahun 80an akhir, sosok Habibie menjelma menjadi idola dan simbol sosok intelektual yang shalih. Seorang intelektual yang mumpuni diakui dunia barat, yang secara material sudah kaya karena royalti dari rancangan sayap pesawat terbang yang terus mengalir seumur hidup, dan digambarkan sebagai sosok yang taat dan rajin beribadah, bahkan tidak pernah meninggalkan puasa sunnah hari Senin dan Kamis.

Pada masanya bahkan masih sampai kini, sosok ini menjadi model bagi banyak sekolah dan lembaga pendidikan Islam, dengan jargon "mencetak cendekiawan yang berotak Jerman dan berhati Mekkah". Beberapa pihak bahkan menyebut sekolahnya sebagai lembaga yang mencetak Ulil Albab. Bisa jadi karena sedikit banyak sosok Habibie waktu masa itu dianggap pantas sebagai model Ulil Albab dalam perspektif cendekiawan.

Begitulah, "ruh intelektual" dari sosok Habibie nampaknya lebih kental dikenal dari "ruh pejuang". Makna Ulil Albab pun menyempit menjadi makna seorang cendekiawan pandai yang memiliki kesalihan personal.

Efeknya adalah lahirlah konsep2 pendidikan Islam yang berupaya memadukan kedua sisi itu dengan nama "IMTAQ dan IPTEK", dengan ciri khas bergedung hebat, berorientasi mecusuar dan elitis alias terpisah dari masyarakatnya, sebagaimana pusat menara gading para intelektual.

Apa yang salah? Mungkin tiada yang salah, namun yang kurang adalah memunculkan "ruh perlawanan" untuk membebaskan bangsanya dari penindasan bangsa lain dan memperjuangkannya menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri. Sesungguhnya itulah esensi semangat dari Habibie muda.

Benarkah Habibie hanya seorang Intelektual atau Cendekiawan saja?
Sejak menginjakkan kaki di Jerman, yang ada di kepala Habibie adalah membuat pesawat untuk Indonesia, untuk mensejahterakan bangsanya, untuk keadilan sosial di negerinya. Hanya itu! Bukan sebagaimana cita2 para mahasiswa hasil gemblengan pendidikan berorientasi kelas pekerja, yaitu bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar.

Habibie muda sadar dengan potensinya di masa depan. Ia mendatangi pemerintah dan menawarkan untuk membangun Industri Pesawat sendiri. Mental demikian mustahil lahir dari jiwa2 yang tidak merdeka dan tidak mencintai Indonesia.

Soekarno dan pemerintahannya tidak mendengar jelas suara itu. Maka, habibie muda melakukan perlawanan. Ia bekerja di negeri Jerman, hasil karyanya begitu dihargai. Bahkan sindiran2 tentang Indonesia, seakan sirna dengan karya-karya yang dibuat oleh Habibie.

Rezim Soekarno berubah menjadi Rezim Soeharto. Nama habibie yang sudah meroket di luar negeri, membuat ketertarikan rezim pemerintahan Soeharto. Yang ingin dilakukan Soeharto adalah menjadikan Indonesia menjadi macan di asia. Maka, ia membutuhkan hal2 yang mendukung itu. Teknologi salah satunya.

Habibie pun dipanggil. Dia diminta memimpin proyek industri transportasi Indonesia. Lagi-lagi habibie, melihat jeli masa depan Indonesia yang jaya. Ia yakin benar, bila Industri Strategis dikembangkan sedemikian rupa, maka Indonesia yang terdiri atas 17.000 kepulauan ini berubah menjadi pesat. Mantan ketua umum ICMI ini, menyadari bahwa selaiknya potensi besar negeri ini disadari.

Visi Habibie terhadap teknologi adalah agar bangsa ini berdaulat, agar pulau2 terpencil bisa terhubung dan sejahtera, agar putra bangsa bisa membuat sendiri pesawat yang murah namun canggih sesuai kebutuhan bangsa ini. Bandingkan dengan visi teknologi dari mobil nasional, robot nasional dsbnya yang hanya berorientasi industri semata.

“I have some figures which compare the cost of 1kg of airplane compared to 1kg of rice. 1kg of airplane costs $30000 and 1kg of rice is $0,07. And if you want to pay for your 1kg of high-tech products with a kg of rice, I don’t think we have enough.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)

Kalimat diatas merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya. Habibie ingin menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri high-tech (teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah $30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen. Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton, maka akan diperoleh 4,5 juta ton beras.

Jadi Habibie sungguh-sungguh menginginkan bangsa ini berdaulat, bukan sekedar mempelajari dan membuat teknologi yang tidak ada kaitannya dengan kondisi bangsa kini dan masa depan.

Proyek pesawat terbang, gatotkaca mengguncang dunia. Barat melalui media, berupaya melunturkan semangat kebangkitan Indonesia. Bahkan, Soeharto yang arogan itu, kini menjadi musuh masa depan bagi Kapitalisme Eropa dan Amerika.

Dikisahkan, kritik terhadap permainan Korupsi terlihat. Bagaimana mudahnya cara-cara tender kotor sering dilakukan. Habibie mengkritik itu semua. Siapa yang tidak tahu semua Partai dan Pengusaha menghalalkan konspirasi tender proyek pemerintahan untuk logistik pemilu mereka.

Jujur, Indonesia tidak pernah kekurangan para Teknokrat yang memiliki kapasitas keilmuan di atas teknokrat barat. Indonesia memliki pula para Politikus ulung yang bersahaja, taqwa bahkan jenius dalam membuat kebijakan pro-rakyat. Indonesia memiliki para ahli kesehatan yang sangat konsen dalam menyelesaikan krisis kesehatan dan penyakit. Bahkan, bila diberikan keleluasaan dan peluang bisa jadi Obat HIV/AIDS itu dapat ditemukan.

Potensi Indonesia ini begitu besar. Sangat besar sebesar luasnya wilayah teritorial Indonesia. Inilah pentingnya ruh perjuangan dan pembebasan atas penindasan dan penguatan kemandirian bangsa ditanamkan di sekolah-sekolah. Lihatlah bagaimana ruh intelektual berpadu dengan ruh pembebasan atas penindasan ini nampak pada sosok HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantoro, M. Hatta, Kartini dsb.

Alangkah jahatnya (bukan lucunya) para pemimpin negeri ini. Mereka kurang bersahabat dengan nurani dan tidak mensyukuri karunia ilahi atas Indonesia. Politik kotor telah jadi kebiasaan dan dihalalkan atas nama kepentingan kelompok. NeoKapitalisme telah subur dan mencengkram. Diperparah oleh sekolah dan lembaga pendidikan yang hanya berorientasi melahirkan intelektual atau kelas pekerja. Padahal sejatinya pendidikan melahirkan jiwa-jiwa pembebas penindasan negeri ini melalui beragam potensi yang dimiliki anak-anak Indonesia, teknologi adalah salah satunya.

Alhasil, sampai kapanpun maka Indonesia akan jalan ditempat. Kita tidak sekedar butuh banyak habibie baru, tetapi mereka yang berani berkata benar, memberikan kemampuannya dengan keseriusan dalam membangun negeri, dan tentu negeri yang besar tidak akan melupakan Tuhannya. Maka, sepatutnya lahir para birokrat, politikus, teknokrat, ilmuwan dan akademisi serta kaum muda yang mau berjuang untuk membebaskan negeri ini karena Allah SWT

Lihatlah bagaimana Habibie dengan kecintaannya pada Technology berhasil memadukannya dengan kecintaan pada Indonesia, kecintaan pada bangsa Indonesia dan kecintaan pada keluarganya. Semuanya adalah karunia Allah swt yang mesti disyukuri secara terpadu dengan perjuangan sampai mati. Bukan kecintaan pada kelompok dan golongan, dengan mengatasnamakan cinta pada Indonesia.

Kita semua yang masih mencintai negeri ini tentu merasa sedih dan terpukul ketika menyaksikan Habibie ditemani Ainun masuk ke dalam hanggar pesawat di PTDI, menyaksikan pesawat CN235. karya anak bangsa yang diperjuangkan dengan jiwa dan raga, teronggok bagai besi tua. Tiada yang berteriak membela, tiada yang peduli. Semua bungkam masa bodoh. Sambil memegang tangan Ainun, Habibie berkata: "Maafkan aku untuk waktu-waktu mu dan anak-anak yang telah kuambil demi cita-cita ini"

Sesungguhnya kita tidak sedang menangisi Habibie, tetapi sesungguhnya kita seolah sedang ditampar oleh Habibie, kita sedang menangisi diri sendiri, menangisi ketidakmampuan kita untuk menjadi seperti Habibie atau membuat pendidikan yang banyak melahirkan Habibie.

Menjadi seperti Habibie, bukan untuk menjadi intelektual seperti Beliau, namun untuk memiliki cinta murni yang sama, yaitu Cinta pada potensi unik pribadi kita, Cinta pada Bangsa ini, Cinta pada Alam Indonesia, Cinta pada Keluarga, Cinta pada Allah Swt, Cinta pada semua karunia yang ada lalu kemudian memadukannya dalam Perjuangan di Jalan Allah untuk membebaskan bangsa dan manusia demi Peradaban yang lebih adil dan damai. Habibie menyebutnya keterpaduan ini dengan Manunggal.
Habibie berkata:

”Manunggal adalah ”Compatible” atau kesesuaian, Karena dalam cinta sejati terdapat empat elemen berupa, Cinta yang mumi, cinta yang suci, cinta yang sejati dan cinta yang sempurna.

sumber

December 15, 2013

Cerita 5 ekor monyet
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda ?

Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.

Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah, para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan’ seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. “Hai, mengapa kami tidak boleh naik ?” protes keduanya”.

Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh” jelas monyet C.

Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. “Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas … Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya ?” tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik …

Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yang d iinginkannya…..
=================

Manakah diantara karakter diatas yang menggambarkan tingkah laku anda saat ini ?

Karakter A dan B adalah orang yang pernah melakukan sesuatu, dan gagal. Karena itu mereka kapok, tidak akan mengulanginya lagi, dan berusaha mengajarkan ke orang lain tentang kegagalan tersebut. Mereka tidak ingin orang lain juga gagal seperti mereka. Karakter C dan D, adalah orang yang menerima petunjuk dari orang lain, hal-2 apa yang tidak boleh dilakukan, dan mereka mematuhinya tanpa berani mencobanya sendiri. Karakter E adalah type orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu, sebelum mereka mencobanya sendiri. Mereka juga berani menentang arus dan menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginan mereka.

Pisang dalam cerita diatas menggambarkan impian kita. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang menyebabkan impian kita terkubur.

Orang-2 dengan karakter ABCD akan mengatakan kepada kita hal-2 seperti ini”, Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia-2 seperti itu. Percuma. Saya dulu sudah pernah melakukannya berkali-2 dan gagal. Sebagai seorang teman yang baik, saya tidak mau kamu gagal seperti saya” atau mungkin kalimat “Kamu mau gagal kayak si X … lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh”. Bukankah hal-2 seperti itu yang sering kita dengar sehari-2 ?

Orang dengan karakter E akan selalu berpikir optimis dalam menjalankan sesuatu. “Kalaupun orang lain gagal melakukan sesuatu, belum tentu saya juga akan gagal” adalah kekuatan yang selalu memompa motivasinya. Dan kegagalan orang lain dapat dipelajari dan dijadikan batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan suatu ketakutan.

Nah, saya akan memberikan satu ilustrasi lagi. Saya akan membawa anda ke tahun 70-an. Apa yang akan anda lakukan, bila suatu hari ada seorang mahasiswa bercelana jeans, kacamata tebal, bertampang culun, bajunya lusuh, datang menemui anda dan berkata “Saya punya suatu produk yang bagus, tapi saya tidak punya modal. Mau gak pinjamin saya modal 100 dollar ? Kalau produk ini sukses, kita berdua bakal jadi orang paling kaya di dunia lho”.

Hampir semua akan menghina dan mentertawakan mahasiswa tsb, bahkan mungkin menganggapnya gila. Berapa orang yang akan menjawab “Wow, bagus sekali, coba jelaskan apa rencana anda, agar kita bisa sama-2 kaya ?” Mungkin satu orang diantara sejuta, mungkin juga tidak ada.

Bagaimana kalau saya katakan bahwa mahasiswa tersebut adalah Bill Gates, yang kini sudah mencapai impiannya menjadi orang terkaya di dunia ?

Bukankah itu dulu yang dilakukan Bill Gates pada awal karirnya . Dikelilingi orang type ABCD, ditolak, dilecehkan, dan berbagai macam hinaan lainnya. Untungnya, Bill Gates termasuk orang dengan karakter E. Dan dengan pengorbanan dan kerja keras, dia berhasil meraih impiannya.

" Jangan biarkan orang lain membunuh impian anda. Maju terus, hadapi semua rintangan dan raih impian anda. "

Sumber : resensi.net

December 14, 2013

Do'a yang Tertunda
Ada satu cerita inspiratif yang menggambarkan respon Allah pada do'a hamba-Nya. Ini ceritanya:
-
Seseorang mengeluh pada Ustadz, "Dimanakah keadilan Tuhan, telah lama aku meminta dan memohon padaNya, namun tak pernah dikabulkan. Aku shalat, puasa, bersedekah, berbuat kebajikan, tapi tak satupun keinginanku dikabulkan. Padahal seorang teman yang kukenal yang ibadahnya kacau, bicaranya menyinggung hati, akhlaknya buruk, tapi apa yang dimintanya terkabul dengan cepat. Oh sungguh Tuhan tidak adil.
-
"Ustadz berkata, "Pernahkah engkau didatangi pengamen?" Pernah, tentu saja" Kata orang itu serius.
-
"Bayangkan jika pengamen itu. Berpenampilan seram, bertato, bertindik, nyanyiannya tak merdu memekakkan telinga, apa yang kau lakukan?" Orang itu menjawab, "segera kuberi uang agar dia cepat berlalu dari hadapanku".
-
Lalu bagaimana jika pengamen itu besuara merdu mendayu, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang akan kau lakukan?".
-
Kudengarkan dan kunikmati hingga akhir lagu lalu kuminta ia bernyanyi lagi sekali lagi dan tambah lagi", kata orang itu sambil tertawa.
-
"Kalau begitu bisa saja Tuhan bersikap begitu pada kita hambaNya. Jika ada manusia yang berakhlak buruk dan dibenciNya berdoa dan memohon padaNya, mungkin akan Dia firmankan pd malaikat "Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak dengan pintanya".
-
Tapi bila yang memohon do'a adalah hamba yang sholeh yang rajin bersedekah, maka mungkin saja Tuhan berfirman pada malaikatNya : "Tunggu. Tunda dulu apa yang dipintanya, aku menyukai do'a-do'anya, Aku menyukai isak-tangis nya. Aku tak ingin dia menjauh dari Ku setelah mendapat apa yg dipintanya. Aku ingin mendengar tangisnya karena Aku mencintainya.
-
"Kesimpulan kisah di atas, selalulah BERSANGKA BAIK pada Tuhan, karena kita sebenarnya tidak betul-betul tahu apa yang terbaik bagi diri kita.
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

July 27, 2013

WOMEN IS SPECIAL, DOESN'T IT?
Bismillahirrahmaanirrahim
Tertanggal postingan ini diturunkan, tulisan ini bukan karena "genderitas". Saya lelaki, cuma pemerhati wanita. Wajar bukan?

Pada dasarnya, lelaki memang butuh wanita, hanya orang yang tol*l yang memilih dengan sesama jenisnya. Ya, fenomena homosex yang sudah sangat menghegemoni didunia, memang sedikit banyak memberikan efek radikal pada orang-orang awam.
So, bagi kalian (lelaki khususnya) yang merasa masih normal, ulasan singkat mengenai keistimewaan wanita ini mungkin bisa membantu mempertahankan rasa kagum dan cinta kita pada sang maha Pencipta yang sangat sempurna memberikan pelengkap hidup.

Pertama, WANITA ITU TIDAK MINTA BANYAK
Ia hanya ingin didengarkan.
Ia hanya ingin dihargai.
Ia hanya butuh ketulusan cinta dan kasih sayang.

Kedua, WANITA ITU TANGGUH
Ia mampu tetap tersenyum ketika hatinya bersedih.
Ia mampu tetap berharap walau kadang dikecewakan.
Ia mampu tetap bertahan walu hatinya penuh beban.
Ia selalu bisa mengalahkan kekarnya otot lelaki walau hanya dengan sebuah "kerutan" kening dan "murung" wajahnya.

Ketiga, WANITA ITU MOTIVATOR
Ia dapat menjadi pendukung sejatimu seumur hidup.
Ia mampu membuat semangatmu kembali menyala ketika engkau mencoba menyerah.
Ia akan tetap mendukungmu untuk terus berjuang dengan belaian kasih sayangnya.

Keempat, WANITA ITU PEMAAF
Ia akan memaafkan ketika engkau mencoba membohonginya.
Ia akan memaafkan ketika engkau mencoba memarahinya.
Ia akan memaafkan walau salahmu sudah teramat besar kepadanya.

Bukan karena ia bodoh..
Melainkan karena besar harapannya agar engkau kembali pada jalan yang benar.

Kita lihat dan rasakan itu, sosok Ibu sangatlah tak tergantikan. Dilengkapi dengan seorang Ayah disekitar kita. Dan pada hakikatnya, wanita lebih diunggulkan dalam Islam dibandingkan pria. Tak perlu saya utarakan lebih lanjut, tinggal rasakan dan bedakan, seberapa hebatnya peran masing-masing terhadap diri kita sendiri.

Yuk! Introspeksi semua....