April 6, 2015

Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi
Menanggapi 5 bulan pasca pelantikan Jokowi sebagai presiden, kali ini saya ingin menulis sebuah Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi yang mungkin bisa bermanfaat untuk pembaca.
Rezim JOKOWI lebih parah dari ORBA terhadap ISLAM.
Jokowi merupakan sosok pemimpin yang terlahir dari peran besar media sekuler dukungan asing. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah momok terhadap rakyat Indonesia yang notabene Muslim. Sebagai contoh adalah ketika ia menjabat sebagai walikota Solo dan menggandeng wakil walikota yang berasal dari golongan kafir bernama FX Hadi Rudyatmo. Lalu Jokowi mencalonkan menjadi Gubernur DKI dan berhasil menyematkan status Gubernur DKI dengan meninggalkan Solo dipimpin orang kafir untuk pertama kali.

Begitu pula nasibnya dengan DKI Jakarta, ibukota Republik Indonesia ini juga memiliki masyarakat mayoritas Islam dan belum pernah dipimpin oleh orang kafir sebelumnya. Namun hal ini berbeda ketika Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden, dan meninggalkan Jakarta dipimpin oleh keturunan Tionghoa, yakni Basuku Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok.

Sungguh catatan miris terhadap Muslim Indonesia. Ketika dua daerah berbeda yang sebelumnya tidak pernah dipimpin kafir, namun kini Jokowi memecahkan rekor tersebut dengan “keserakahan” kekuasaannya.

Langkah keberhasilannya merebut hati rakyat memang menggunakan cara unik dan terbilang jarang digunakan kandidat lain. Ketika masa-masa kampanye dulu, Jokowi dan timses (tim sukses) menggembor-gemborkan prestasi yang bersifat temporer (sementara) semata. Kita ingat pada tahun 2009 dengan mobil Esemka yang berasal dari “tangan karya modus” walikota Solo menghipnotis Indonesia akan sosok pemimpin inspiratif yang betul-betul mengedepankan produksi dalam negeri. Namun apa kabar Esemka saat ini? Entah kemana kabarnya mobil tersebut yang hingga saat ini belum lagi menghiasi pemberitaan media. Dan hebatnya lagi, sejak saat itu Jokowi mendapat gelar walikota terbaik di dunia berdasarkan majalah New York Times. Sebuah majalah milik Amerika yang notabene kaum sekular dan penyokong utama Jokowi untuk tembus mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI.

Kita juga pasti masih ingat dengan gerakan “blusukan” yang sangat populer ketika Jokowi sibuk mencalonkan menjadi Presiden RI yang ternyata berhasil menjadi “icon” perjuangan bagi “wong cilik” karena ia begitu dekat dengan rakyat. Timses Jokowi ini memang cerdas dalam membuat isu publik yang tengah dibutuhkan masyarakat. Sosok yang selama ini memang diidam-idamkan menjadi pemimpin yang tidak hanya untuk DKI tapi seluruh Indonesia. Terbukti, dengan gerakan ini Jokowi berhasil memenangkan Pilpres 2014 lalu.

Bahkan ketika ia menjabat menjadi presiden RI, ia tetap menggunakan trik blusukan ini untuk menjaga image “pembela wong cilik” supaya tidak muncul istilah “kacang lupa pada kulitnya”. Ketika duduk di kursi presiden, Jokowi tetap bisa dekat dengan rakyat.

Setelahnya ia terpilih jadi presiden dengan menggandeng politisi senior yang tempo lalu di pilpres 2009 “gagal” adalah Jusuf Kalla (JK), Jokowi juga menggandeng beberapa nama dalam Kabinet Indonesia Kerja orang-orang dari golongan kafir, mereka adalah:

  1. 1. Kepala staf kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan (Kristen Protestan)
  2. 2. Kepala tim ahli wakil presiden, Sofyan Wanandi (alias Liem Bian Koen – Katolik)
  3. 3. Sekretaris kabinet, Andi Wijayanto (Kristen Protestan)
  4. 4. Anggota dewan pertimbangan presiden, Rusdi Kirana (Kristen Protestan)
  5. 5. Kepala badan kordinasi penanaman modal, Franky Sibarani (Kristen Katolik)

Walau terbilang bukan jabatan strategis dalam pemerintahannya, namun pemasangan perwakilan kafir di kabinet ini cukup “berani” diambil oleh Jokowi.

Dari beberapa kejadian diatas, ini mengindikasikan bahwa pemerintahan Jokowi memang benar-benar sedang menggoda sang macan untuk bangun. Dia sedang menguji kesabaran dari mujahid muslim di berbagai pelosok daerah untuk bertindak. Namun kami disini bukan hanya berembel-embel Muslim, kami berbicara sebagai seorang rakyat Indonesia yang prihatin akan langkah pemerintahan yang terkesan ngaco dan berani dengan Islam.

Baru-baru ini – di tahun anggaran tahun 2015 – pemerintah telah resmi menyetop suplai anggaran untuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang notabene sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk umat Islam. Posisi MUI disini sungguh esensial karena Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Islam, maka dari itu sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah. Berbeda dengan ormas lain yang memang hidup dengan anggotanya itu sendiri. MUI ini ibarat sesepuh di pemerintahan, walau tidak tercatat secara struktural, tapi arahan dan fatwa-fatwanya harus diperhatikan oleh pemerintahan demi menjaga keutuhan NKRI kedepannya. Dan rezim Jokowi ini malah memberhentikan suplai anggaran yang tentunya dana tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan umat Islam sebagai pemeluk agama juga sebagai penduduk Indonesia.

Kebijakan lain rezim Jokowi yang “melabrak” Islam datang dari kementrian komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) dengan memblokir 21 situs islam Indonesia pada tanggal 30 Maret 2015 yang sangat mengagetkan masyarakat Indonesia. Kemenkominfo menegaskan bahwa 21 situs tersebut diduga memiliki paham radikal dalam menyebarkan ajaran Islam, sesuai dengan permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Situs-situs tersebut adalah:
  1. 1. Arrahmah.com
  2. 2. Ghur4ba.blogspot.com
  3. 3. Muqawamah.com
  4. 4. Voa-islam.com
  5. 5. Panjimas.com
  6. 6. Lasdipo.com
  7. 7. Hidayatullah.com
  8. 8. Thoriquna.com
  9. 9. Gemaislam.com
  10. 10. Dakwatuna.com
  11. 11. Salam-online.com
  12. 12. Eramuslim.com
  13. 13. Kafilahmujahid.com
  14. 14. Aqlislamiccenter.com
  15. 15. Daulahislam.com
  16. 16. An-najah.net
  17. 17. Kiblat.net
  18. 18. Shoutussalam.com
  19. 19. Muslimdaily.net
  20. 20. Dakwahmedia.com
  21. 21. Azzammedia.com
  22. 22. Indonesiasupportislamicatate.blogspot.com

Saya pribadi tak habis pikir, kok bisa-bisanya rezim Jokowi memblokir situs-situs tersebut. Dari beberapa situs diatas adalah yang sering saya kunjungi karena mengandung informasi dan berita yang bagus juga berbobot mengenai Islam. Tidak ada sama sekali artikel yang menandakan pertentangan atau radikalisme seperti yang dituduhkan BNPT. Kalau era SBY, situs-situs yang di filtering itu situs berbau pornoaksi dan pornografi, lah kok sekarang malah situs berbau Islam? “Kunaon Jok? Sieun ku Islam? Anjeun urang Islam lin?”

Anehnya lagi, mengapa situs-situs berbau liberal dan menyesatkan – seperti ahlulbaitindonesia.com (milik Syiah), islamlib.com (Liberalis), islamtoleran.com (Sekular) – malah tidak disentuh sama sekali. Ini semakin membingungkan umat Islam. Namun bagi orang yang mengetahui dan paham mengenai “siapa dibalik tangan kekuasaan Jokowi”, tentu tidak mengherankan dengan kejadian-kejadian seperti ini. Namun bila dibiarkan, tentu saja ini akan menjadi masalah besar yang tidak hanya akan meruntuhkan keyakinan umat Islam dalam beribadah, juga akan merubuhkan azas dan sistem NKRI itu sendiri karena melibatkan langsung penduduk Muslim Indonesia. Dan kalau boleh saya bilang, rezim jokowi lebih parah dari ORBA terhadap Islam.

Saya hanya bisa berharap agar rezim Jokowi-JK bisa diberikan hidayah oleh Allah SWT dengan betul-betul mengedepankan kepentingan Negara, bukan kepentingan asing yang merantai kekuasaan presiden “boneka”nya. Saya sangat cinta Indonesia. Cinta akan tanah air ini. Cinta bumi pertiwi. Cinta segalanya tentang Indonesia. Begitu pula dengan masyarakat lain yang sangat mencintai Indonesia ini.

Maka dari itu, tolong. Tolong pehatikan kami, bukan malah memperhatikan mereka. Tolong jangan biarkan kebencian ini semakin menjadi-jadi dengan tingkah laku dan kebijakan anda yang “menantang” kami, Masyarakat Muslim Indonesia. Semoga rezim kali ini bisa menjalankan tugas dengan maksimal, bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsi dan perannya. Anda tidak tertarik akan gemerlapnya dunia, anda tidak takut akan “kungkungan” antek-antek asing, anda tidak (lagi) tertarik akan tawaran menggiurkan dari musuh Negara. Tidak memperdulikan para gurita ekonomi dunia yang hanya ingin kekayaan Indonesia. Semoga anda semakin cinta Indonesia.

Itulah sebuah catatan kecil rapor rezim Jokowi dari saya. Ditunggu komentar dari para pembaca, terimakasih.

Referensi:
1. fpi.or.id
2. wikipedia.com
3. duniamuallaf.blogspot.in
4. nasional.inilah.com
5. hukumonline.com

April 3, 2015

Ketika Masa Lalu Kembali Tergambar
Di jum’at pagi ini, saya terinspirasi sebuah pengajaran dari pengalaman yang sangat berharga, yakni tentang ketika masa lalu kembali tergambar oleh seorang manusia. Entah ini tergolong puisi atau apa, sebuah goresan tinta (ketikan tangan) yang berhasil ku catatkan bisa dilihat dibawah:

Aku hidup diantara tiga dunia. Dulu, sekarang, dan nanti.
Aku pernah hidup dalam dunia yang kusebut “dulu”
Kini aku hidup dalam dunia yang kusebut “sekarang”
Dan kelak aku akan hidup dalam dunia yang kusebut “nanti”.

Aku punya catatan sejarah langkah kaki dalam hidup yang “dulu”
Sebuah catatan yang membuatku kini lebih banyak belajar.
Kehidupan yang membuatku kini semakin berpengalaman.
Pengandaian yang terkadang kurindukan.

Aku hidup dalam dunia “sekarang”
Sebuah dunia yang menggambarkan siapa aku sekarang.
Semua hal yang sedang kulakukan adalah sebuah perjuangan.
Hal yang terkadang membuatku dalam waktu dekat jatuh dan terbangun.

Aku juga memiliki berjuta impian, harapan, keinginan yang tentu saja tidak bisa kulakukan sekarang.
Ada penghalang yang menjadikanku terpisah dengannya.
Hal tersebut adalah waktu yang selalu saja kehadirannya menjadi misteri.
Dan itulah yang membuatku lebih termotivasi.

Dulu, hidupku adalah suatu hal yang membingungkan.
Terkadang bisa membuatku tersenyum bahagia, tertawa gembira.

Saat itu aku tertawa lepas.
Saat itu aku berjalan bebas.
Saat itu aku belajar dengan luas.
Aku selalu merindukan hal tersebut bisa kembali terjadi sekarang.
Selalu kubayangkan senyum dulu bisa terjadi sekarang.
Setiap waktu aku ingin melihat sosok diriku dibandingkan sekarang.

Namun aku lupa, sekarang adalah siapa diriku sebenarnya.
Masa lalu tetaplah masa lalu.
Waktu takkan pernah bisa berputar karena kita bukan yang mengatur sejarah.
Walau satu detik saja, ia takkan pernah kembali.
Dan sekarang adalah waktunya ku berubah.
Sekarang adalah waktunya ku berpindah.
Sekarang saatnya aku mengganti arah.

Aku hidup bukan untuk masa lalu.
Kini aku hidup untuk masa depan.
Segala hal yang kulakukan saat ini, untuk sebuah masa depan.
Masa dimana cita-cita pun tercatatkan.
Waktu dimana harapan pun tergambarkan.
Keadaan dimana banyak hal yang kuimpikan.

Maafkan aku yang sering terpeleset dalam masa lalu. Aku salah.
Maafkan aku yang terlalu berharap ia kan kembali datang.
Maafkan aku yang terkadang lupa berjuang.
Maafkan aku yang tertarik menoleh kebelakang.
Maafkan aku yang selalu membuatnya seolah-olah penghalang.
Maafkan aku yang menjadikannya tak berimbang.
Disanalah aku belajar ikhlas.

Itulah tulisan saya tentang ketika masa lalu kembali tergambar. Semoga bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung. Have a nice Friday... :)

March 14, 2015

Masih Belajar dan Akan Terus Belajar
Kali ini ana ingin sedikit bercerita tentang sebuah ungkapan yang sangat memotivasi ana selama masa sekolah bahkan sampai saat ini, kalimat itu adalah "Masih Belajar dan akan terus Belajar". Ana tidak akan membahas tentang mengapa bisa menyukai kalimat tersebut, karena panjang sekali, dan butuh waktu khusus. Hehe... Lebay. Ana ingin bercerita tentang realita kalimat tersebut dengan yang ana alami saat ini.

Tidak ada hal yang lebih menyenangkan untuk dibahas saat ini - saat muda, saat remaja - selain membahas "cinta" betul? Yaa walau banyak yang tak menyangka ana masih 23an (boros wajah katanya), namun nyatanya ana masih tertarik untuk membahasnya.

Ana akan mempersempit pembahasan langsung kepada manusia. Kepada lawan jenisnya. Namun perlu diperhatikan, bahwa ini hanya hal kecil dari banyaknya kepentingan dalam hidup ana sebagai manusia.

Ana pernah membaca sebuah pesan dari meme yang cukup menggugah hati. Ceritanya gini: "wanita itu ingin dimengerti dengan cara yang sulit dimengerti". Satu lagi: "Kamu adalah apa yang aku tulis dan aku adalah apa yang tak pernah kau baca". Pernah denger? Mungkin. Menarik ya? Hehe...

Dari beberapa kasus yang saya alami sendiri, memang wanita iti mahluk kompleks, penuh tanya dan perlu bekerja keras untuk mendapat perhatiannya. Namun bila kita sudah mendapat simpati darinya, mereka akan memberikan segalanya kepada kita, bahkan harga dirinya. Ya. Harga dirinya.

Maka dari itu, wanita pintar dan beragama menerapkan proteksi/pelindung untuk menjaga harkat dan martabatnya agar tidak terjerumus dalam permainan cinta. Ya, cinta itu ibarat permainan. Kita harus tahu cara memainkannya agar kita menikmatinya. Kita bisa terus mengulanginya, sebanyak dan sesering kita mau.

Wanita punya beribu cara "aneh" untuk membuat mereka mahal dan patut diperjuangkan. Ana sebagai pria terkadang kebingungan bila menghadapi wanita demikian. Tapi sebagai seorang pria, semakin "aneh" wanita bertindak, maka semakin tertantang untuk mendapatkannya. Beneran. Ini yang ana rasakan sebagai pria.

Kalo tadi ana bilang: "namun bila kita sudah mendapat simpati darinya (wanita), mereka akan memberikan segalanya". Dan kalau pria sudah cinta pada wanita, seaneh apapun sikapnya, maka ia takkan meminta hal yang belum saatnya ia miliki, sampai wanita mengijinkannya.
Tadi sempet ana singgung tentang harga diri kan? Nah, wanita kalo udah cinta bisa memberikan segalanya. Tapi pria kalo udah cinta, takkan minta yang aneh-aneh yang belum waktunya. Cukup adil bukan?

Kadang ana sendiri sering menuntut wanita akan sesuatu untuk dilakukan, bahkan akan yang belum saatnya dipinta. Disana ana kadang berfikir, "cintakah ana padanya? Disaat hal rahasia itu belum waktunya, masih pantaskah ana disampingnya?" Pertanyaan yang terkesan "alay" memang, tapi itulah faktanya.

Saat ana ingin quick response darinya, ternyata ada saja hal yang mengganjal dan membuat jadi slow response.
Saat ana ingin informasi lebih, kutanyakan banyak hal sehingga (mungkin) dia kebingungan menjawabnya.
Saat ana butuh bersamanya (di dunia virtual), namun waktu yang tidak tepat dan Allah belum mengizinkan kita saling berkomunikasi.
Saat ana banyak membuka akun-akun sosialnya, berharap ada sesuatu yang bisa buat hatiku tenang dan jari ini mengetikkan komentar, namun belum ada.
Saat ana butuh balasan "kehangatan" dan terkadang ia balas dengan ketidakjelasan.

Semua pengalaman itu terjadi bukan karena kesalahan keadaan. Tapi itu murni kesalahan pengertian. Mungkin ia sedang bekerja sehingga tak membalas dengan segera chat ana.

Dia sering kebingungan dengan banyaknya pertanyaan yang ana ajukan. Kita saja kalo diberi pertanyaan beruntun - walau gampang - tetep bingung mau jawab apa. Ya kan? Hehe...
Saat ana memiliki passion "socialite" sedangkan dia tidak (atau mungkin belum). Itulah yang menjadikan ana memiliki banyak akun sosial dibandingkan dia. Makanya dumay itu adalah kehidupan kedua bagiku. Berbeda dengan dia, yang masih meraba dan belum mengetahui manfaat dan madhorotnya.

Daaaaannn banyak lagi hal yang ternyata hanyalah sebuah kesalahpengertianan ana padanya.
Teruntuk dia, #MyFebruary, ana minta maaf untuk keegoisannya. Disitulah makna Masih Belajar dan akan terus Belajar tercipta dan termakna. Semoga mengeti. Hehe...

Dan buat ana pribadi, semoga tulisan ini bisa lebih meningkatkan positifitas dalam berfikir. Tak main cepet memutuskan tanpa berfikir panjang. Yaa... Masih Belajar dan akan terus Belajar.

Makanya, terkadang saya selalu inget dua istilah itu, "wanita itu ingin dimengerti dengan cara yang sulit dimengerti". Satu lagi: "Kamu adalah apa yang aku tulis dan aku adalah apa yang tak pernah kau baca" itu karena kekhilafan ana akan keadaan yang sudah tercipta ini. Mmm....

Bagaimanapun juga, terimakasih karena masih berada disampingku walau banyak alasan untukmu meninggalkanku.


Sekian tulisan sederhana tentang masih belajar dan akan terus belajar ini. Sebuah coretan #TintaMerah teruntuk pemilik #TintaBiru yang sedang menunggu disana. Have a nice day and see you here.

March 7, 2015

Ada apa dengan kita
Ada apa dengan kita? Disaat mendapat keindahan, kita lupa akan Pemberi keindahan.
Ada apa dengan kita? Disaat dekat dengan kebaikan, kita tak tahu dari siapa kebaikan.
Ada apa dengan kita? Disaat semua tertawa, kita bahkan lupa Pemberi tawa.

Ada apa dengan kita? Disaat mendapat musibah, kita selalu mendekatkan diri dengan seolah terpaksa.
Ada apa dengan kita? Disaat cobaan menerpa, kita selalu berusaha mengingat sang Pemberi cobaan bermula.
Ada apa dengan kita? Disaat kawanan tak disamping, kita malah berlari menjauhinya seolah mereka meninggalkan.

Jangan hanya menyalahkan mereka, tapi salahkan diri kita.
Jangan hanya mengurungkan niat mulia, tapi kita tak tahu bagaimana caranya.
Jangan hanya so’ so’an kamu kuat, padahal kamu rapuh hatinya.
Jangan hanya manis dalam hari-harinya, padahal kamu sendiri tahu bahwa pahit yang sedang dirasa.

Asap mengepul tentulah ada api didalamnya.
Masalah timbul tentulah ada akar padanya.
Berdo’alah secara maqbul agar kau tahu jalan keluarnya.

Allah takkan memberi ujian melebihi batas kemampuan kita kok.
Tapi kenapa kita seolah merendahkan kemampuan yang diberikan Allah?
Kenapa kita malah meremehkan hasil karya cipta Allah?

Kita bukanlah kita bila tak tahu siapa kita.
Allah bukanlah Tuhan bila kalian tak tahu siapa Tuhan sebenarnya.
Manusia cenderung akan me-nomorsatukan sesuatu/seseorang.
Entah itu benda mati, benda hidup, benda ghaib.
Tinggal hati dan pikiran kita saja yang bertindak kemana.
Apakah akan memperhatikan hal yang mati? Benda hidup? Atau benda ghaib padahal hidup?
Itu tergantung kita.

Kita mungkin tak tahu bagaimana Adam a.s. yang sekuat tenaga berjuang hidup kala belum ada apa-apa di dunia.Kita mungkin lupa bagaimana Daud a.s. didera penyakit yang tiada henti mendera.Kita mungkin tak ingat bagaimana Ibrahim a.s. begitu berani melawan penduduk dan raja.Kita mungkin tak pernah membaca bagaimana Isa a.s. difitnah kaum tak bertanggung jawab bahwa beliau disalib.Kita juga mungkin sedikit tahu tentang bagaimana Muhammad S.A.W. menjadi suri tauladan seluruh manusia sepanjang zaman.

Apakah kesemuanya dilakukan dengan cara mudah?
Apakah mereka bisa bersenang-senang seperti kita saat ini?
Apakah para Nabi itu dianggap remeh oleh pendukungnya?
Apakah utusan terbaik Allah itu tak gentar ketika diberikan ujian?

TIDAK. Mereka manusia biasa. Ya. Manusia biasa.
Mereka makan, tidur, bisa berolahraga, sering menangis, bisa berdo’a, bisa mengeluh, mudah tertawa, tak takut akan jalan kebenaran. Itulah manusia.
Manusia diberikan pilihan oleh Allah seluas-luasnya untuk memilih jalan hidup.
Jalan kanan? Tentu akan mendapat kebahagiaan di akhirat kelak.
Jalan kiri? Tentu akan merasakan kesenangan di dunia saja.
Bila saja para Nabi tersebut mengikuti hawa nafsunya, tentulah kita takkan bisa senikmat ini beribadah.
Bila saja para Nabi takabur akan nikmat Tuhan-Nya, tentulah kita masih berada pada zaman kegelapan.
Zaman dimana kemaksiatan merajalela dibandingkan saat ini.
Bila saja para Nabi lupa akan karunia Allah, tentulah mereka takkan (lagi) menjadi suri tauladan Muslim sedunia.

Subhanalloh. Sungguh mulia mereka. Para Nabi yang Allah kirimkan ke muka bumi ini.
Apakah kita tak mau seperti mereka?
Memang terasa mustahil untuk bisa mencapai 100% menyamainya.
Tapi setidaknya kita harus berusaha untuk mendekati rekor pencapaiannya.
Banyak ibroh yang bisa kita petik dari mereka.

Maka dari itu, janganlah kita berputus asa dengan ujian ringan ini. Ya, ujian ringan.
Kita anggap semua ujian ini ringan.
Karena kalau kita menganggap semua ujian berat, kita akan terus terbebani dan tidak santai dalam menyelesaikannya.

Ingatlah pula, pelaut ulung takkan lahir dari ombak damai.
Mereka lahir dan dibesarkan dari deburan badai yang bertubi-tubi mendera.
Jalan menuju puncak gunung itu menukik tajam, berkerikil batu, berhembus debu.
Dan kita akan lupa semua itu bila kaki sudah memijaki puncak tertinggi bumi.
Ada apa dengan kita? Tidakkah kita tertarik melakukannya?
Wallohu a’lam.

December 31, 2014

Manfaatkanlah sebelum kalian terlambat
Jika kamu memancing ikan, setelah seekor ikan melekat di mata kail, kamu harus mengambil ikan itu. Jangan begitu saja kamu lepaskan lagi ke dalam air. Karena ia akan sakit oleh bekas ketajaman mata kail. Dan mungkin saja ia akan menderita selama hidupnya. Begitu juga kamu. Ketika berani mengatakan cinta pada seseorang. Setelah memberi banyak harapan padanya. Setelah ia mulai menyayangimu. Kamu harus menjaga hatinya. Jangan meninggalkannya begitu saja. Karena dia akan terluka oleh kenangan bersamamu. Dan mungkin saja ia tidak akan bisa melupakanmu selama hidupnya. Manfaatkanlah sebelum kalian terlambat.
———————————————————————
Kalau kamu memiliki lukisan cantik. Anggaplah ia sekedar perhiasan biasa. Jangan terlalu memuja keindahannya. Jika kamu menganggapnya yang terbaik tanpa cacat. Maka saat kamu menemukan satu bagian saja yang rusak. Kamu sulit untuk menerimanya, akhirnya ia dibuang. Padahal jika kamu coba memperbaikinya mungkin lukisan itu masih bisa digunakan lagi. Begitu juga jika kamu mengenal seseorang. Anggaplah dia manusia biasa. Terimalah apa adanya. Jangan terlalu mengaguminya. Jika kamu menganggapnya yg paling sempurna dan begitu istimewa. Maka, ketika dia sekali saja melakukan kesalahan. Kamu tidak bisa terima. Kamu kecewa dan meninggalkannya. Padahal jika kamu memaafkan, mungkin saja hubunganmu akan terus hingga ke jenjang yang paling membahagiakan. Manfaatkanlah sebelum kalian terlambat.
———————————————————————
Jika kamu sudah memiliki sepiring nasi yang baik untuk dirimu. Berkhasiat. Mengenyangkan. Janganlah kamu sia-siakan. Mencoba mencari makanan yang lain. Terlalu ingin mengejar kelezatan. Suatu saat, nasi itu akan basi dan kamu tidak bisa lagi memakannya. Kamu akan menyesal. Begitu juga jika kamu telah bertemu seseorang yang bisa membawa kebaikan pada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu sia-siakan. Lalu coba membandingkan dengan yang lain. Terlalu sibuk mengejar kesempurnaan. Suatu saat, kamu akan kehilangannya ketika dia sudah menjadi milik orang lain. Kamu juga akan menyesal. Manfaatkanlah sebelum kalian terlambat.

October 13, 2014

Terorisme; Islamkah yang Bertanggungjawab
Mungkin ini tema klasik, hal yang sudah sering kita jumpai dan bahas beberapa waktu kebelakang, yakni terorisme. Terorisme di dunia bukanlah hal baru, namun ketika berita itu mencuat ke publik, tentu selalu menjadi trending topic. Hal ini selalu menjadi topik hangat dan aktual sejak kejadian 9/11 World Trade Center di NY, USA silam yang dikenal dengan "September Kelabu".Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung WTC dan Pentagon sebagai korban utama penyerangan ini yang memakan korban kurang lebih 3.000 orang.

Kejadian ini merupakan isu global yang memengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi Terorisme sebagai musuh internasional. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia melawan Terorisme Internasional[1]. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya Tragedi Bali, tanggal 12 Oktober 2002 yang merupakan tindakan teror, menimbulkan korban sipil terbesar di dunia[2], yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Perang terhadap Terorisme yang dipimpin oleh Amerika, mula-mula mendapat sambutan dari sekutunya di Eropa. Pemerintahan Tony Blair termasuk yang pertama mengeluarkan Anti Terrorism, Crime and Security Act, December 2001, diikuti tindakan-tindakan dari negara-negara lain yang pada intinya adalah melakukan perang atas tindak Terorisme di dunia, seperti Filipina dengan mengeluarkan Anti Terrorism Bill[3].

Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, target-target serta metode Terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind)[4]dan naasnya, yang menjadi dalang penyebab semua ini selalu dikaitkan dengan Islam.

Kalalulah kita berasumsi bahwa setiap pengeboman bunuh diri – terorisme – itu bagian dari (interpretasi) Quran, semua pelaku terorisme itu benar menggambarkan Islam, dan Islam bertanggungjawab atas semua pembunuhan massal itu, maka benarlah Islam sebagai agama kekerasan dan perang. Maka saya ingin bertanya satu hal.

"Kenapa tidak semua orang - mayoritas - Islam melakukannya? Kalaulah benar itu interpretasi (tafsir) yang quran berikan tentang Jihad, kenapa sampai saat ini, saya M. Rasyid Ridlo tidak melakukannya kepada anda?”

Dari 3 milyar populasi manusia di dunia, pemeluk Islam ada di posisi kurang lebih 1 milyar, lalu mengapa hanya sekitar 16.000 pengeboman di dunia[5](dr tahun 1900-2005) kasus saja yang terjadi?
Kalaulah benar Quran mewajibkan ummatnya memerangi kafir dengan kekerasan, pastinya setiap waktu akan terjadi pengeboman disana disini, termasuk dirumah anda. Kenapa itu tidak terjadi?
Statemen media massa - kaum oposisi - dewasa ini tentang Islam sangatlah banyak menjerumuskan Islam. Padahal tidak demikian. Mereka hanya melihat Islam dari "borok" nya saja. Tapi tidak melihat keindahan (kebersihan) bagian tubuh yang lain.

Mereka - oposisi - tidak menganggap sekitar 99,999% umat Islam yang sangat mencintai kedamaian dan sangat menghormati pemeluk agama selain Islam masih hadir saat ini. Bahkan mereka tidak mengira, bahwa mungkin saja yang mengantarkan makanan kepada mereka itu pemeluk Islam. Bisa saja supir yang mengantarkan mereka pergi ke kantor itu orang islam. Mereka tidak tahu, bahwa siapa pensuplai minyak terbesar yang memegang peranan penting perkembangan dan pertumbuhan negaranya?

Media… oh media. Sungguh besar sekali pengaruhmu, naak.

Ya sudahlah, selama media massa itu dikuasai kaum kafir, kita umat Islam akan selalu terbelakang menyebarkan data dan fakta apa yang sebenarnya terjadi disana. Saran saya pribadi, tetaplah berlaku sebagai Muslim yang taat akan perintah-Nya, dan selalu menjauhi larangan-Nya. Dan bagi kalian orang yang tidak tahu mendetail tentang Islam, tunggulah saatnya hingga Allah menunjukkan kalian bukti bahwa Islam adalah agama benar. Wallohu a’lam.



[2] Indriyanto Seno Adji, Bali, “Terorisme dan HAM” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia, (Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001), hal.51.
[4] Mulyana W. Kusumah, Terorisme dalam Perspektif Politik dan Hukum, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III (Desember 2002): 22.
[5] Courtesy video in Youtube

September 25, 2014

Kenapa Allah Belum Menjawab Do’a Kita? Sebuah Analogi Sederhana
Mungkin pernah diantara kita yang sering bertanya, “Kenapa Allah Belum Menjawab Do’a Kita? Bahkan ketika kita sudah melaksanakan ibadahnya dengan sering, dan meninggalkan larangannya dengan banyak” Disini saya tulis Sebuah Analogi Sederhana, karena saya selalu teringat akan sebuah kisah tentang dua orang pria dengan dua orang pengamen.

Dikisahkan ada seorang bapak yang bertanya pada ustadz dalam salah satu kesempatan. Bapak itu mengeluh dan curhat ke ustadz tersebut perihal do’anya yang belum diijabah oleh Allah SWT.

Bapak: “Ustadz, kenapa sampai saat ini Allah belum mengabulkan do’a-do’a saya? Padahal saya sering sholat malam, sholat fardhu tidak ketinggalan berjama’ah terutama shubuh dan isya, sholat dhuha menjadi fokus perhatian dan sholat sunnat lain. Zakat kutunaikan, infaq kusegerakan, haji sudah kulakukan. Lalu kenapa Allah masih belum saja mengabulkan do’a saya? Bahkan tetangga saya sendiri yang jarang sholat ke mesjid, apalagi sholat malam, tidak baik dengan tetangga, malah diberikan kemudahan oleh Allah?”

Ustadz itu memberikan sebuah analogi dengan pengamen. Lalu terjadilah percakapan lanjut:
Ustadz: “Pak, ibaratnya begini. Bila bapak sedang berada disebuah cafe, lalu didatangi dua orang pengamen. Satu pengamen bernyanyi dengan suara yang tidak mengenakan telinga bapak, apa yang bapak akan lakukan?”
Bapak: “Saya akan segerakan memberinya uang supaya cepat pergi”
Ustadz: “Nah, sekarang bila bapak kedatangan pengamen satu lagi. Namun kali ini ia bernyanyi dengan suara emas dan enak didengar. Apa yang akan bapak lakukan?”
Bapak: “Saya akan tunggu sampai ia selesai menyanyikan lagu itu. Bahkan saya bisa saja memintanya bernyanyi lagu lain. Lalu kenapa ustadz menyangkut pautkan dengan pengamen?”
Ustadz: “Begini, itu adalah perumpamaan ijabahnya sebuah do’a. Kita saja – seorang manusia – akan mensegerakan hal yang tidak disukai untuk cepat berlalu. Dan akan memperlambat hal yang dicintai untuk tidak cepat pergi. Maka dari itu Allah mensegerakan tetangga bapak untuk bisa cepat merasakan kebahagiaan sementaranya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai hamba-Nya yang sering berdo’a, sholat malam, dan selalu berbuat kebaikan terhadap sesama. Dan Allah ingin mendengar rintihan hamba-Nya dalam bersujud memohon kepada-Nya bahkan justru terkesan menahan do’a-do’anya.

Allah ingin melihat cucuran air mata hamba-Nya karena takut kepada-Nya. Bukan Allah lupa atau pilih kasih. Tetapi Allah selalu punya alasan terhadap sesuatu. Mungkin karena kita belum siap pada saat ini menerima rizqi dari-Nya.
Maka dari itu, tetaplah berhusnudzon kepada Allah dan terus memohon tanpa jemu sedikitpun.
Subhanalloh… Wallohu a’lam.

September 11, 2014

Yang Terlupakan Dari Sosok Ayah
Setelah banyak tulisan tentang orangtua, lebih khusus ke ibu. Kali saya muat tulisan mengenai hal yang terlupakan dari sosok ayah. Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, baik yang sedang bekerja diperantauan, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya, akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya. Lalu bagaimana dengan ayah?

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak kecil, ayah biasanya mengajari putra kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Ibu bilang: “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya“, Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.

Tapi sadarkah kamu? Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta mainan baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas: “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang.” Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata: “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!“. Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja, kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!” Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu. Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu!

Ketika anak perempuannya mulai sering ditelpon lelaki, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia. Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir.

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut… Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu. Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?

“Bahwa anak kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur atau apapun itu. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Ayah harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.

Tapi yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang“. Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT. Kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan… Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah: “Tidak…. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu“. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “anak kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Untuk anak wanita, sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Ayah tahu. Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya. Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia.

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:
“Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya”.

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.

Ayah telah menyelesaikan tugasnya.
Ayah, Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu.

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.

August 19, 2014

MEDSOS; Hegemoni Remaja Indonesia di 2014
Dapet inspirasi entah darimana, yang jelas hal ini terpikirkan begitu saja. Selebihnya silahkan persepsikan masing-masing.

Gini, tahun 2014 itu udah menjamur banget yang namanya MEDSOS alias media sosial. Anak-anak hingga dewasa bahkan orangtua-pun pengen ikut eksis disana. Menurut tafsiran sendiri, MEDSOS itu fasilitas yang bisa kalian temukan dengan jaringan internet dan bisa menghubungkan banyak orang. Contohnya kayak Twitter, Facebook, Instagram, BBM, LinkedIn, Google+, dll.

Ga bisa dipungkiri, saya sendiri memang korban dari MEDSOS ini, namun nampaknya ga terlalu lebay deh, "mungkin" itu juga. Kalian bisa cek deh akun-akun medsos saya nanti dibawah. Hehe...

Ada yang menggunakan fasilitas MEDSOS ini buat kebaikan, ada yang iseng, ada yang sekedar tertarik karena yang lain punya akun, masa kita enggak; dan berbagai alasan lain, bahkan ada yang memiliki niat jahat. Wallohu a'lam. Yang jelas kembali ke diri kita masing-masing.

Saya ga merasa bahwa saya paling suci yang menggunakan MEDSOS ini untuk berdakwah dalam kebaikan, itu penilaian oranglain. Hanya saja saya ingin membagikan cerita hidup yang mungkin bagus untuk dipetik hikmahnya. Mudah-mudahan. Dan ternyata seiring berjalannya waktu, kutemukanlah hal ini. Hal yang mungkin ga ngeh bagi kita, yang sudah terjebak dengan hegemoni MEDSOS. Parahnya dalam keburukan, baik itu cewek ataupun cowok.

Disini saya rangkum hanya hal yang bisa saya temukan saja. Selebihnya silahkan persepsikan sendiri.

KEBIASAAN BURUK CEWEK DI MEDSOS:
1. Sering pasang foto sok cakep, hasil editan photoshop, alay, kulit item jadi putih WTF!
2. Kurang menghargai privasi mereka. Semua foto di-share, nama pacar, emak, bapak, tetangga, kucing, anjing peliharaan, hobi dll dan mempostingkannya di instagram, dkk.
3. Sering update status hal-hal berbau cinta, romansa, sakit hati, gosip, kesombongan, infotainment (cewek banget)
4. Kalo internetan (MEDSOS) bisa sampe lupa makan.
5. Setiap ada kejadian langsung dipikirin "wah ini yang bakal aku tulis disini (MEDSOS)"...

KEBIASAAN BURUK COWO DI MEDSOS:
1. Sering komen hal-hal gak penting di wall cewek yang menarik perhatiannya.
2. Minta perhatian dengan kasih komen-komen sok penting, sok baek, sok lucu di update status cewek yang disukainya.
3. Saling menjatuhkan antar pria lewat comment-comment parah, kata-kata kotor, dan hal bullshit lainnya
4. Jadi orang gila yang selalu monitor cewek incerannya, liat foto-foto, komen status, dan bahkan sering private message ke dia. MODUS abis.
5. Langsung meleleh begitu liat foto cewek cakep
6. Kadang komen gak pake otak, langsung komen tanpa ngerti menyinggung perasaan orang lain ato nggak.

Bener nggak????
Ya kembali lagi ke kutipan diatas. Silahkan persepsikan sendiri, ini hanyalah penelitian pribadi dan insya Allah bisa dipertanggungjawabkan.
Terimakasih sudah membaca artikel saya. Datang lagi ya..

Oiya, ini tautan akun MEDSOS saya. Silahkan follow/add/invite, apapun itu namanya, yang jelas kita bisa bersilaturahmi. Insya Allah. (Klik aja linknya)

August 2, 2014

Fenomena Selfie; Ikutan Jangan?
#marimenulis
Ga suka? Lewat…
Care? Mangga…

Ga asing kan dengan kata ini? Apa yang terbersit dipikiran kalian ketika mendengarkan/melihat kata ini? Poto kolagen (kotak-kotak)? Manyun, senyum, tampak gigi, jutek dalam satu pose? Wanita? Poto sendirian/kelompok? Whatever you does. Yang jelas erat kaitannya dengan sebuah gambar.

Tren selfie ini belakangan menarik perhatian para remaja seluruh dunia tahun 2013 lalu. Tapi tahukah kalian, ternyata istilah selfie ini (poto narsis) dikenal sudah dari tahun 2002 silam?

Tau ga sih kalian apa selfie itu? Kalo kata kak Wiki, selfie adalah jenis foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau telepon kamera dan sering diunggah ke akun media sosial. Ya, media sosial. Ini menjadi syarat utama selfie itu sendiri selain objek gambar. Karena percuma kalo kita poto narsis, selfie sendiri tapi ga diaplod ke twitter, facebook, instagram, reddit, flickr, dll. Selfie pun akan terasa hambar bila tak diaplod, betul girls?

Lah, kenapa girls? Padahal bapak-bapak sampai kakek-kakek pun berminat melestarikannya. Ia lah, dimana-mana, kapan saja, mereka berpose sungguh serius bahkan lucu-lucuan. Salah? #Nggakok. Trus kenapa? #LanjutAjaDulu

Ia dong, istilah selfie ini ternyata lebih digandrungi oleh 75% wanita dunia dan 90%nya wanita di Indonesia (Survey Nielsen). Ya, wanita. Kenapa wanita? #LanjutAjaDulu Sadar atau tidak, diakui atau tidak, memang wanita lah yang sering memenuhi beranda kita dengan setumpuk gaya selfie nya.

“Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya, dengan harapan mendapat komentar baik dari orang yang melihatnya dan lalu melakukannya lagi dan lagi (posting poto selfie)” ujar Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media, seperti dikutip oleh Guardian (14/07). Paham ga? #LanjutAjaDulu

Intinya, ada pendapat yang mengatakan bahwa selfie itu adalah bagian gangguan mental seseorang yang haus akan pujian dan perhatian orang-orang dengan menampilkan poto diri dan memajangnya di akun media social berharap banyak orang yang menyukai dan memuji dirinya. #selfiekillsyourmentality

Berapa banyak kalian menghabiskan waktu berfoto kolagen? Ngumpulin 4-10 foto lalu dijadikan satu, lalu diaplod ke socmed? Sehari bisa sampe 5 kan? #selfiekillsyourmentality

Berapa sering poto #selfie kalian disukai follower? #selfiekillsyourmentality

Seberapa sering kecewa karena tidak ada satupun respon baik dari follower terhadap foto #selfie mu? #selfiekillsyourmentality

Yang lebih parah, untuk muslimah. Seberapa sering kalian berfoto berdua dengan kekasih ato apalah namanya, dan memajangnya disocmed? #selfiekillsyourmentality Apalagi dengan berpegangan tangan? Pake bahasa so’ romantic. #Selfie_is_Preet

Apalagi ya trending topic nya? Sudah ah cukup. #LanjutAjaDulu

Sadar ga sih, kalian para cewe yang seharusnya bisa lebih menjaga diri dan menghargai diri sendiri dibanding pria umumnya? Ia dong. #WanitaItuPerhiasan sedangkan #PriaHanyaBesiSaja

Gimana enggak. Pria itu lebih ditolerir kalo berpanas-panasan disianghari, mengangkut beban berat, berkeringat, bau, kena hujan, kepanasan, karena ia – termasuk saya – bagaikan besi yang dibiarkan dipinggir jalan. Bahkan sampai malam hari pun, para pria masih tampak tidak bermasalah kalo masih liar kesana kemari bekerja. Gimana kalo cewe yang gitu? Apa tanggapanmu? #WanitaItuPerhiasan

Cewe kalo dikasih kerja berat saja jangankan kalian cewe yang liat. Cowo sebadung-badungnya pun ga tega. Cewe diciptakan bukan untuk panas-panasan kayak cowo. Cewek itu bagaikan perhiasan yang disimpan, dijaga dan dikunci keberadaannya. Dikeluarkan sekali-kali, dibersihkan, dan dirawat setiap hari bahkan setiap jam oleh sang pemiliknya. Karena ia mahal. Cacat sedikit, maka jatuh harganya.

Dengan kalian sering memajang poto selfie di socmed, itu sama dengan kalian memurahkan diri sendiri. Maka pantas saja kalo kalian sering banget tersakiti karena lelaki, apalagi bila diawali dari perkenalan socmed. #selfiekillsyourmentality

Dengan selfie juga kalian sama dengan membuka peluang lebar-lebar bagi lelaki yang memiliki niat buruk ke kalian. Saya pernah liat status kurang lebih gini, “Dirumah sepi, mending poto selfie”. Gimana kalo ada orang yang kalian kenal dan punya niat buruk ke kalian? Kalian ga pernah tahu selama kalian sendiri yang tidak ngasih kesempatan.

Pula Selfie itu perlahan menggerus mental kalian. Ia lah. Kalian yang sering selfie akan berfikir, “kali ini berapa respon ya (liker atau commenter) foto selfie ini”, dan itu otomatis menjadikan kalian haus akan pujian karena merasa tidak ada yang memperhatikan keberadaan kalian di dunia nyata. Kasian. #selfiekillsyourmentality.

_ “Oh, saya tidak haus pujian, saya hanya ingin mengekspresikan diri di socmed”, ekspresi apa? Ekspresi selfie nya? Sama aja keles #selfiekillsyourmentality
_ “Ah, itu mah pendapat orang aja yang ga suka ke kita”, justru itu yang membuat kita gangguan mental. Haus akan pujian, dan rapuh akan kritikan. #selfiekillsyourmentality
_ “Jangan percaya, bohong!”, itu malah semakin menguatkan tulisan ini bahwa kau benar gangguan mental. #selfiekillsyourmentality

Ada satu hal yang menggelitik saya sebagai alumni sekolah berbasis agama (Madrasah…..) bahkan madrasah sendiri itu tidak bisa mengontrol santri-santrinya dari virus selfie ini. Virus selfie ini sudah menjamur, sebarannya sungguh sporadic. Jadi tidak bisa ditentukan apakah yang terjangkit virus selfie ini basis sekolah agama atau bukan, semua sama. Parah.

Yang lebih parah, poto selfie bareng pasangannya YANG BELUM MENIKAH itu dipajang berdua, berpegangan tangan, mau berhadapan atau balik badan, tetep aja ketauan “b*go!” (Sori, bahasanya kasar)

Silahkan percaya atau tidak. Saya sendiri termasuk orang yang pernah poto selfie, tapi tidak maniak se-maniak para cewek disana. Karena kebayang mungkin kalo cowo yang selfie kolagen, apalagi sering. Najis. Bahkan gw yang cowo males lihatnya. Unfollow langsung. Haha…

Setelah kalian baca ini, ketika tahu Fenomena Selfie; Ikutan Jangan? Monggo tentukan sendiri. Ini sih opini, yang mau komen silahkan. Terimakasih.

July 8, 2014

Pelangi Selepas Gerimis
Indah kata dimulai dari hati
Indah raga dimulai dari diri
Indah hari dimulai dari pagi
Indah warna dimulai dari mimpi

Tak pelak kutemui caci di indahnya hati
Tak jarang kudapati sakit di indahnya raga
Tak kecil duri kulangkahi di indahnya hari
Tak sedikit kurasai hati ini bergeliat merasakan kelamnya warna hati

Kata-kata indah seringkali kulihat begitu menyeruak menghiasi seisi hari-hari.
Tapi nyatanya tak selalu membuatku bergeming dengan ribuan kata kutemui.
Kala raga ini berjaya, lain daripada masa-masa sakitnya, seringkali kuberdiri berpijak di kokohnya bumi dengan begitu kuatnya.
Tapi nyatanya tak selalu membuatku bisa sekokoh pohon yang menancapkan akar dengan begitu kuatnya.
Di serangkaian bergantinya hari kulalui, selalu kujejali dengan seluruh kemampuanku untuk bisa meraih keberhasilan yang kudambakan.
Tapi nyatanya tak selalu kumeraih apa yang kumimpikan.

Ku bersujud...
Ku berdo'a...
Ku memohon kepada yang kuasa...
Akankah semua ketidaktahuanku akan tujuan indah ciptaan-Mu ini menjerumuskanku dalam kegelapan...
Akankah semua kekuranganku membuatku alfa dan melupakan nikmat akan anugerah terbesar-Mu, yakni Islam...
Akankah hari-hari ini mampu kulalui dengan terus mengingat dan meraih kedekatan dengan-Mu...
Akankah kegelisahanku ini berakhir...

Padahal kutahu...
Indahnya waktu itu ketika bersujud terhanyut dalam berdo'a kepada-Mu.
Padahal kutahu...
Sempurnanya waktu itu ketika berbuat sesuai dengan perintah-Mu.
Padahal kutahu...
Alangkah senangnya Engkau, Rabbi bila hamba-Mu ini terus menerus mengingat-Mu dalam setiap langkah dan fikirku.
Padahal kutahu...
Nikmatnya bisa singgah di syurga-Mu, dan itu mahal harganya.
Padahal kutahu...
Pedih dan mengerikannya bagiku bila sampai ditempat kembali terburuk, Neraka-Mu.

Kini, indahnya hari bisa kurasakan kembali.
Kini, indahnya raga kutemukan lagi.
Kini, indahnya kata kudapati lagi.
Terima kasih Rabb.
Bagiku, inilah pelangi selepas gerimis.

Sweetest Place, June 7 2014
#pelangiselepasgerimis #nineteenboy #my21

July 7, 2014

Surat untuk Presidenku
Bismillahirrahmaanirrahiem.
Dengan mengharap Rahmat dan Ridho Allah SWT, semoga kita senantiasa diberikan kesempatan untuk selalu bersyukur dan berkhidmat dalam ajaran-Nya, Amien.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Dengan datangnya surat ini, saya Muhammad Rasyid Ridlo AL-Ghazaly menghaturkan banyak terimakasih karena bapak presiden berkenan membaca tulisan sederhana ini. Surat ini bukan dalam rangka sombong dan membanggakan diri karena berhasil sampai ke tangan bapak dengan selamat dan bisa dibaca langsung. Tapi surat ini saya tulis semata-mata ungkapan isi hati yang selama ini tidak tersampaikan.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Sebagai seorang kepala negara tentunya bapak memiliki banyak beban dan tugas yang harus dipikul demi kesejahteraan masyarakat. Sejahtera dalam arti saling rukun, makmur, dan sentosa dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan tentunya beragama. Kami sebagai rakyat harus tunduk dan patuh akan segala keputusan dan ketetapan yang bapak dan jajaran pemerintahan susun itu.

Namun, tentunya bapak juga mengetahui, sebagai warga negara, kami memiliki hak untuk berpendapat dan berbicara apabila ada ketetapan yang tidak sesuai dengan asas dan tujuan bernegara khususnya di Indonesia ini. Maka ini adalah kesempatan bagi saya pribadi untuk mengeluarkan uneg-uneg yang insya Allah mewakili sebagian warga.

Pertama, saya ingin menyampaikan bahwa bapak harus menempatkan kepentingan rakyat diatas segalanya. Apa yang rakyat butuhkan haruslah dilaksanakan. Murahnya barang pangan, minimalnya angka kemiskinan, terbukanya lapangan pekerjaan, tingginya motivasi berwirausaha, dan yang terpenting aman dan tentramnya dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang diakui oleh Negara kita.

Saya paham, bapak dan jajaran pemerintahan saat ini adalah orang yang mengerti dan memahami tugas dan peran masing-masing. Tapi jangan sampai menyalahgunakan kepercayaan kami, rakyat Indonesia yang menuntun bapak-bapak sampai ke Senayan dan mempermainkannya. Sebagaimana keyakinan bapak presiden, Bapak tahu bahwa manusia itu hidup tidak hanya saat ini. Manusia akan memperhitungkan segala yang dilakukannya di dunia. Bukan so' agamis, tapi hanya mengingatkan saja. Dan ternyata seorang kepala negara sangat menentukan akhlaq bangsa yang dipimpinnya.

Saya ingin katakan, kata siapa negara tidak boleh mengatur urusan ibadah suatu agama? Karena privasi-kah? Ataukah negara tidak mau ikut campur karena terlalu kompleks? Menurut saya tidak. Pemerintah sangat berperan penting dalam tatanan kemasyarakatan termasuk agama. Maka siapa yang nantinya mengizinkan pendirian bangunan berupa tempat peribadatan? Siapa pula yang mengatur urusan ibadah haji? Siapa pula yang mengizinkan perayaan natal, perayaan waisak, nyepi, gong xi fa chai, dan perayaan lain yang tentunya agama yang diakui oleh negara.

Karena saya yakin, sebagai seorang yang beragama, tentunya bapak dan jajaran pemerintahan menganut suatu agama tertentu, dan tidak mau ibadahnya itu terhambat atau bahkan terhenti hanya karena masalah perizinan.

Kedua, mencermati dan mengamalkan amanat UUD 45, asas Bhineka Tunggal Ika, dan pilar-pilar pancasila lain. Kita sebagai warga negara Indonesia tentunya harus berterima kasih dan bersyukur karena telah menerima hasil jerih payah perjuangan founding father dalam memerdekakan negara ini. Sebuah perjuangan yang mahal harganya, dibayar dengan nyawa, bersenjatakan bambu runcing melawan kokohnya patriot besi. Namun karena pertolongan dan bantuan Allah SWT, kemerdekaan itu kita rasakan sekarang, walau masih jauh dari kata 100%

Sebagai salah satu bentuk rasa syukur terhadap founding father, maka kita sebagai generasi penerus seharusnya melanjutkan dan melaksanakan esensi dari perjuangan mereka. Menanamkan sikap nasionalisme yang tinggi namun tetap agamis dan memiliki solidaritas yang kuat.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Ketiga adalah, maksimalkan potensi dan sumber daya negeri sendiri. Banyak opini yang menggambarkan bahwa Indonesia adalah surga dunia, dengan kekayaan alam yang melimpah, pemandangan alam yang sempurna, potensi sumber daya yang bergelimang, tentunya sudah menjadi keharusan bahwa kita sendiri lah yang merasakan nikmatnya "barang" sendiri.

Saya bahkan bosan dengan ungkapan Indonesia adalah surga dunia tersebut. Nampaknya bukan masyarakat kita sendiri yang merasakan, tapi mereka. Dunia. Dunia luar yang seharusnya tidak pernah bercokol dan menginjakkan kaki disini.

Saya yakin, bukan kita tidak memiliki solusi. Kita memiliki sumberdaya manusia yang cukup mumpuni. Bila ditata dengan baik, dan KETEGASAN seorang kepala negara, pasti Indonesia bisa mengelola potensi sumber daya dengan maksimal. Hanya saja akhir-akhir ini pemimpin negara ini terlalu takut dan pengecut untuk melawan mereka.

Kalaulah diumpamakan, bila potensi besi dan baja itu bertumpu di Indonesia, bila emas dunia itu sebagian besar ada di Indonesia, bila potensi kekayaan alam itu banyak tersimpan di Indonesia, lalu kita butuh apa lagi untuk mengelolanya? Mungkin saya terlalu kecil dan kurang memahami mengenai prosesnya, hanya saja begitu menyayangkan bila kita tidak menikmati kekayaan kita sendiri. Kita bukan tuan rumah di negeri sendiri. Miris sekali bangsa ini.

Bapak presiden RI yang saya hormati,
Tidak banyak hal yang bisa saya sampaikan. Besar harapan kami bahwa surat ini bukan hanya rangkaian kata-kata tak bernilai harganya. Saya sadar hanya rakyat biasa dibandingkan bapak presiden ini. Tapi untaian kata ini saya susun dengan penuh harapan bahwa bapak bisa mendengarkan apa yang saya rasakan.

Saya sangat cinta Indonesia. Cinta tanah air ini. Cinta bumi ibu pertiwi. Cinta segalanya tentang Indonesia. Rasa cinta ini mengalahakan kekecewaan saya terhadap Indonesia ini. Tapi tolong, jangan abaikan rasa cinta ini dengan terus menumbuhkan kebencian. Karena kebencian ini bukan mustahil tumbuh, tapi bagaimana sikap dan tindakan bapak ini yang menentukan.

Semoga bapak dan jajarannya bisa menjalankan tugas dengan maksimal.
Bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsi dan peran.
Bapak tidak tertarik dengan gemerlapnya dunia.
Bapak tidak tertarik dengan tawaran yang menggiurkan dari musuh negara.
Bapak tidak memperdulikan para gurita ekonomi dunia yang mencengkram sumber daya Indonesia.
Dan semoga bapak sangat mencintai Indonesia.

June 30, 2014

Tulisan dari Dinda part 2

Kisah sederhana. dari awal yang yang biasa, kini berbeda, Kisah sederhana ini menjadi awal tak biasa. Kisah yang memang tak seharusnya di sesali karena memang ini lah jalan nya dan memang ini lah kenyataannya, bukan karena paksaan ini hanya lah hal yang tak prnh terduga untuk kita. Tapi tidak untuk kehendakNya. Tapi memang ini masalah hati dan perasaan yang merasakan hingga timbul rasa yg tak biasa berupa kenyamanan.

Ini hanya kisah sederhana yang menjadi luar bisa karena kita yang menjalani dan merubahnya. Berawal dari panggilan khusus yang merubahnya sehingga sampai saat ini terasa berbeda. Dan bukan pula karena hal itu saja msh bnyak hal yg membuat kisah sederhana ini tak biasa. Yang akhirnya berbuah kenyamana. Tak tahu alasan nya apa tapi mungkin ini memang sekenarioNya. Hal yang memang tak harus di pertanyakan lagi karena masing-masing dari kita tentu punya alasan tersendiri.

Memang tak harus di publikasikan pd jutaan orang atau sekian bnyak orang kedekatan ini. Karena itu saja tak cukup dan memang tak hrus seperti itu. Karena semua tak cukup dengan ucapan, yang terpenting adalah pembuktian dan pertanggung jwaban terhadap ucapan yang terlontar. Mungkin itu cukup untukku. Ini bukanlah teater yang bermain hanya sekedar peran ini real yaa ini nyata karena kita merasakannya.

Dalam kisah sederhana ini tertanam harapan. Harapan yang logis dan harapan yang hrus di wujudkan agar tak hanya menjadi angan-angan saja. Harapan itu tak mungkin ada jika memang tak ada pemahaman yang kuat. Dan harapan itu tak akan terwujud dan selamanya akan menjadi angan-angan ketika tak ada usaha sama sekali.

Kisah ini memang sederhana, karena terjadi dngn singkat namun kisah ini menuai cerita yang tak akan pernah habisnya, memikirkan bagaimana dan mengapa semua terjadi terus menerus memang tak pernah beres, karena begitu bnyak cerita dalam kisah sederhana ini. Tapi tentu beralasan. Dan alasan itu kembali pd diri kita masing masing.

Entahlah..
Maka mulai saat ini, detik ini, hari ini dan waktu seterusnya. Jalani saja apa ada nya. :) dan ingat sebuah harapan timbul karena kita paham apa yang kita harapkan. Dan harapan yang kuat tentu hrs ada usaha yang kuat pula. TerimaKasih 8-)
D.I.N.D.A

June 26, 2014

Tulisan dari Dinda...
Entah atas sebab dan dasar apakah itu semua berawal.
Dari detik, menit jam dan entah apalah itu.
Yang jelas seiring berjalannya waktu dan hari yang terus silih berganti semuanya pun terjadi.
-
Awal yang sulit di tebak karena tak terencana akan seperti ini dan tak pernah terpikir sedikitpun.
Namun, mungkin semua terjadi karena memang sudah waktunya.
Memang benar dan mungkin ini yang di maksud dari kata itu, terasa indah bila sudah waktunya, SubhanaAllah.
-
Skenario Allah memang indah, dengan cara yang sederhana namun luar biasa. :)
Semua terjadi dari hal kecil, mungkin dapat di katakan hal sepele yang biasa-biasa saja.
Tapi, nyatanya tidak!
Semua berubah menjadi hal yang tak biasa bahkan hal itulah semua berawal.

Terasa aneh, ya memang aneh teringat semua terjadi begitu singkat.
Unik? Ya tentu unik.
Bagaimana tidak ? :o semua terjadi karena hal yang tak terduga yang tak pernnah terpikir sebelumnya.
Tapi mungkin ini sudah menjadi sekenarioNya. :)

Kedekatan ini terjadi begitu singkat, bahkan terkadang terlintas dalam pikiran apakah kedekatan ini akan terjadi singkat pula? Entahlah -_-

Entah sebuah kecemasan atau kenegatifan dalam berpikir. Dan semoga tidak :)
Dekatnya hari ini ataupun esok hari mudah-mudahan selalu bisa berbagi walau pun dari hal-hal kecil. :)
Terimakasih.
Syukron telah membuat cerita baru dalam hidupku.
Semoga tak ada penyesalan saat kau nanti lebih mengenalku :)
-
DINDA

May 18, 2014

Pemilu dan Omong Kosong Kerakyatan
Pemilihan Umum yang akrab disebut Pemilu sudah lama berlangsung di negara ini. Alasanya cukup mulia yakni memilih wakil rakyat dan pemimpin Negara, dalam upaya mensejahterakan rakyat sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945. Namun faktanya, pesta demokrasi itu hanya dijejali omong kosong para politikus partai politik demi sebongkah harta yang tersembunyi dibalik jabatan wakil rakyat. Dengan anggaran yang fantastis, pemilu hanya melahirkan kekisruhan dan kelompok “vocal group” berbaju safari.

Janji gombal politis yang menjadi omong kosong pemilu bersandar di tiga kepentingan pokok masyarakat antara lain, pendidikan, kesehatan dan eknomi. Ketiga bidang penting itu nyaris keluar dari semua mulut para politikus yang maju diperhelatan Pemilihan Legeslatif. Janji manisnya serupa, untuk meciptakan Pendidikan dan layanan kesehatan bagi semua masyarakat, serta menciptakan lapangan kerja yang seimbang dalam rangka meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) masyarakat.

Alih-alih janji politik itu terealisasi, kenyataanya masyarakat tetap susah dalam memenuhi kebutuhan pokok yang diamanatkan Undang-undang 1945 sebagai tugas Negara secara utuh. Caleg yang jadi sibuk dengan kepentingannya sendiri, sementara caleg yang tidak jadi sibuk dengan tudingan curang dan meraih simpati masyarakat. Para capres yang mencalonkanpun sama, selalu diawali dengan janji manis dan pada akhirnya masyarakat selalu menjadi kambing hitamnya. Mereka, kami tetap bekerja keras demi sesuap nasi untuk kebutuhan hidupnya.

Lalu, dimana letak kepentingan rakyat yang abadi sebenarnya. Jelas tidak ada dan rakyat tetap saja diapaksa kerja rodi demi mempertahankan roda kehidupan.

Menilik pada janji politik pendidikan gratis, tentu saja hal mustahil bisa dilaksanakan jika tergantung pada anggaran yang ada. Program ini, bukan kali sekarang saja berdengung karena sudah lama dikumandangkan sejak rezim-rezim pemerintahan terdahulu berkuasa. Buktinya, rakyat masih saja tercekik dengan biaya pendidikan yang melangit. Kondisi ini karena, anggaran pendidikan yang seharusnya sampai pada penerima, tersumbat prilaku korupsi pejabat dan wakil rakyat itu sendiri. Alhasil, pendidikan tetap berbayar dan program sekolah gratis hanya kupasan program kerja usang para elit diatas. Meski tidak bisa dipungkiri, anggaran gratis itu ada namun komersialisasi pendidikan tetap tinggi. Pendidikan dewasa ini hanya barang mahal yang hanya mampu bagi mereka yang berharta.

Bila dibandingkan dengan jaman penjajahan, program pendidikan lebih terbilang berhasil dan menciptakan tokoh-tokoh bangsa yang berkualitas. Waktu itu baik era Kartini maupun budi oetomo bersusah payah mengentaskan kebodohan tanpa pamrih. Sekolah rakyat benar-benar gratis sehingga masyarakat antusias dan mau belajar. Saat ini, disaat justru Negara telah merdeka, pendidikan menjadi mahal. Inilah yang membuat aneh, apakah Negara yang salah atau pelaku kebijakan yang tidak becus menghasilkan pemikiran seperti pejuang pendidikan jaman penjajahan.

Merealisasikan pendidikan gratis, harusnya  bukan hanya program dan janji politik basi melainkan kemauan para elit poltik dan pemerintah untuk jujur dan mau memberikan hak rakyat itu secara cuma-cuma tanpa embel-embel lainnya.

Dibidang kesehatan, meski pemerintah dan para elit politik sepakat menggelontorkan anggaran triliunan rupiah untuk Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jemkesmas), tetap saja pelaksana program itu masih karut marut. Rakyat kecil terkadang harus gigit jari saat hendak berobat dan anggaran Jamkesmas tidak ada. Ironisnya, untuk mendapatkan kartu itu birokrasinya berbelit dan terkadang mengungtungkan oknum pekerja rendahan. Sehingga, kesehatan gratis bagi warga miskin tetap saja muatan politik yang tidak terbukti secara nyata.

Setidaknya dua faktor itu menggambarkan, kalau pemilu hanya sebuah proses yang tidak menghasilkan keburuntungan bagi rakyat kecil selain omong kosong kerakyatan tadi. Kerakyatan seperti apa, jika para calon wakil rakyat saja duduk dari hasil pembelian suara haram yang diperdagangkan oknum penyelenggara. Sudahlah, apapun bentuknya pemilu tetap hanya milik kaum kapitalis yang haus jabatan wakil rakyat demi gengsi semata.

Indonesia oh Indonesia... Mari kita #selamatkanIndonesia.

May 10, 2014

Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Masihkah?
Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Masihkah?
Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sbagai prasasti, trimakasihku untuk pengabdianmu.
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa
(Sartono)

Melihat, mendengar, dan membaca hymne guru diatas tentunya memiliki makna yang sangat mendalam dan menyentuh bagi para guru maupun murid. Kata orang, “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikiran saya mengenai eksistensi seorang guru pada zaman ini, masih relevan-kah predikat guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”? Mengingat memang perjuangan mereka yang tak kenal lelah dalam mengorbankan waktu bahkan tenaga demi masa depan para pewaris bangsa, Negara dan tentunya Agama.


Dari hymne diatas, guru disanjung dan dipuja luar biasa karena diibaratkan sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun penyejuk dalam kehausan, dan sebagai patriot pahlawan bangsa. Namun apakah cukup hanya berhenti pada sekadar sanjungan dan pujian? Terlebih di akhir bait lagu tersehut dikatakan guru adalah patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Cukupkah seorang guru hanya diberi gelar “Pahlawan tanpa tanda jasa” dizaman yang penuh dengan nuansa materialistis ini?

Di zaman yang semakin susah ini, orang tidak akan mampu hidup hanya dengan sanjungan dan pujian. Gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” tidak akan mampu memberi hidup yang layak bagi mereka, bahkan justru membebani; yang dibutuhkan bukan sekadar sanjungan atau pujian atau gelar, lebih pada perhatian dan penghargaan atas suatu pengabdian yang begitu luar biasa.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana ceritanya seorang guru diberi gelar tersebut dan kaitannya dengan realitas sekarang ini? Sepengetahuan penulis, guru diberikan gelar tersebut ketika dulu sosok seorang guru yang belum sebanyak saat ini. Mereka yang berani mengambil langkah puluhan kilometer demi mengajar, walaupun banyak pula murid yang sama demikian. Ditambah dengan pendapatan yang tidak besar bahkan kekurangan dari segi materi. Sungguh ironis. Disaat suatu bangsa bisa berdiri tegak dan kuat, mereka lupa bahwa ada sosok guru dibalik keberhasilan bangsa tersebut.

Tidak akan pernah ada pemimpin dunia tanpa seorang guru. Takkan pernah ada peradaban bila tidak ada guru didalamnya. Guru adalah pelita. Guru adalah pusaka. Guru bagaikan cahaya. Hanya tinggal kita saja, para muridnya yang mengambil sikap dan langkah “kanan” atau “kiri”. Tapi itu bukan salah mereka. (Rasyid)

Tidak ada satu negarapun di dunia ini yang memiliki pemimpin yang sudah hebat dari sejak ia lahir. Ia akan selalu membutuhkan seorang guru. Guru ini bermakna luas. Guru ini tidak hanya mereka yang datang menggunakan sepeda butut, sepatu kucel, baju hanya itu-itu saja. Tapi esensi guru adalah pengajar, pemberitahu, pemberi ilmu. Bahkan orangtua kita pun sebenarnya adalah guru kita. Kita bisa mengambil pelajaran dari adik kelas kita. Kita bisa mengajarkan sesuatu kepada orangtua kita.

Disaat posisi guru mengalami degradasi materi, pemerintah Indonesia melakukan uji materi UU Sisdiknas tahun 2003 dan memulai sebuah program bernama sertifikasi guru yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan masyarakat Indonesia. Apa itu sertifikasi??

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi dengan mengacu pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Bagi guru yang lulus sertifikasi berhak menerima tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan melalui Dana Alokasi Umum terhitung mulai bulan Januari tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat pendidik.

Intinya, sertifikasi guru ini sebagai langkah pemerintah Indonesia menyejahterakan guru demi tercapainya mutu pendidikan Indonesia yang baik. Kesejahteraan disini bermakna materi (baca: duit). Asumsinya, bila guru sejahtera, maka kinerja guru akan makin baik. Dengan kinerja baik, maka pendidikan pun akan berjalan optimal. Bila pengajaran dan pendidikan berjalan normal, maka peserta didik pun akan berprestasi baik.

Namun nampaknya pemerintah lupa beberapa hal. Pertama, factor penentu keberhasilan mutu pendidikan suatu Negara BUKAN hanya ditentukan oleh kesejahteraan materi seorang guru. Diperlukan pula sebuah madrasah akhlaq bagi para guru. Karena dewasa ini banyak diberitakan bahwa program sertifikasi guru itu bukannya malah membuat kinerja mengajar semakin baik, justru sebaliknya. Ini berkaitan erat dengan etika (akhlaq) guru itu sendiri dalam menyikapi pemberian dana hibah tersebut.

Kedua, kurang atau bahkan tidak efektifnya sistem penetapan ujian sertifikasi dengan format portofolio. Buktinya sudah menjadi barang umum bahwa ujian sertifikasi diwarnai dengan plagiatisme. Dan banyak lagi poin-poin mengenai catatan sertifikasi sebagai langkah perbaikan mutu pendidikan di Indonesia.

Hal yang ingin saya bahas disini adalah mengenai eksistensi dan tanggungjawab seorang guru dengan label “pahlawan tanpa tanda jasa” itu. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, label tersebut akan selalu menempel dalam seorang guru (baca: guru sekolah/madrasah).

Bila didunia agamis (baca: pesantren) mungkin posisi guru masih mendekati dengan label pahlawan tanpa tanda jasa itu, walaupun sekarang program sertifikasi sudah merambah ke dunia madrasah (MI, MTs, dan MA). Bukan berarti pula di sekolah umum jauh dari harapan pemerintah khususnya yang justru malah memperburuk citra guru itu sendiri.

Beberapa waktu kebelakang, kita dikejutkan dengan berita pencabulan guru di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Banyak juga oknum-oknum guru yang memandang anak didiknya sebagai lahan menghasilkan uang demi kepentingan mereka sendiri dan komunitasnya. Bahkan tak jarang biaya sekolah pun menjadi sangat mahal yang secara otomatis akan menyeleksi orang-orang yang tidak mampu dalam membayar uang sekolah.

Kemudian yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah di manakah posisi guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Apakah karena mereka kian membantu memberikan jawaban Ujian Nasional kepada anak didiknya? Atau mereka yang lebih suka memakan gaji buta tanpa memberikan pelajaran kepada muridnya? Atau bahkan mereka yang dengan bangganya menodai (mencabuli) kesucian anak didiknya sendiri?
Guru adalah sebuah profesi di bidang pendidikan. Peran guru memang penting demi kemajuan bangsa yang dimulai dari bidang pendidikan hingga bidang-bidang yang lainnya. Terlepas dari pandangan tepat tidaknya predikat “pahlawan tanpa tanda jasa” tersebut, masih banyak hal lain yang bisa diambil hikmahnya dari tugas seorang guru.

Peran moral dan sosial adalah salah satu hal yang tak lepas dari guru. Ketika seseorang telah berkomitmen untuk menjadi seorang guru, maka dia juga harus siap untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya, baik dari segi pengetahuan ataupun akhlaknya. Selain itu, dia juga harus bisa mewariskan cita-cita luhur para pahlawan bangsa, yang telah gugur, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertera di Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itulah kita juga harus yakin bahwa tak semua guru pada zaman seperti saat ini hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja. Masih banyak sekali orang-orang yang berprofesi sebagai guru dan tetap menjalankan amanahnya sebagai pribadi yang ikhlas dalam mengamalkan ilmunya bahkan rela menghabiskan waktu mereka demi mendapatkan anak didik yang cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Sumber inspirasi

May 1, 2014

Mari Kita Bicara Indonesia
Kalian bangga menjadi Indonesia?
Pernah dengan lantang kalian mengatakan; “saya Indonesia!”?

Sudahkah kita sebagai orang Indonesia merasa bangga lantaran hidup di tanah air ini? Pernahkah kita merasa hina bila oranglain mencerca Negara kita? Atau kita sudah bisa merasakan bagaimana sikap kita terhadap suasana yang terjadi di Negara kita ini? Dengan keindahan geografis, kesempurnaan alam, kekayaan sumber daya, sampai pada berbagai kasus tindak pidana yang terjadi disini.



Namun apa yang terjadi saat ini? Disaat para remaja 2014 sibuk dengan mode “selfie”, “galau”, “eksis di medsos”, dan mode lainnya, dengan tidak sadar mereka sudah mengabaikan bahkan melupakan mengenai cerita heroik bagaimana Indonesia bisa merdeka hingga saat ini, walaupun kemerdekaan itu masih jauh dari kata “aman dan tenteram”. Tapi saya tidak akan membahas mengenai indeks kemerdekaan.

Tapi tidak sedikit pula para remaja 2014 ini mulai banyak yang menulis mengenai kehebatan Indonesia saat ini, tidak sedikit pula mereka yang sadar akan kekurangan Indonesia dan mulai mencari solusinya.

Mari kita bicara Indonesia.
Terletak di 95 derajat bujur timur sampai 141 derajat bujur timur 6 derajat lintang utara sampai 11 derajat lintang selatan, Indonesia merupakan Negara kepulauan paling barat pulau “We”, paling timur “Papua”, paling utara “Miangas”, paling selatan “Rote”.

Garuda menjadi lambang Negara, memiliki sayap sebanyak 17 bulu disetiap sisi, sedang bulu di ekor berjumlah 8, dan bulu disekitar leher berjumlah 45 melambangkan tanggal kemerdekaan resmi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Indonesia juga berjuluk dengan sebutan “nusantara” yang secara etimologi tersusun dari dua kata, ”nusa” dan ”antara”. Jika dikupas dari kata per kata, kata ”nusa” dalam bahasa Sanskerta berarti pulau atau kepulauan. Sedangkan dalam bahasa Latin, kata ”nusa” berasal dari dari kata nesos yang berarti semenanjung, bahkan suatu bangsa. Maka kata ”nusa” juga mempunyai kesamaan arti dengan kata nation dalam bahasa Inggris yang berarti bangsa. Dari sini bisa ditafsirkan bahwa kata ”nusa” dapat memiliki dua arti, yaitu kepulauan dan bangsa.

Kata kedua yaitu ”antara” memiliki padanan dalam bahasa Latin, in dan terra yang berarti antara atau dalam suatu kelompok. ”Antara” juga mempunyai makna yang sama dengan kata inter dalam bahasa Inggris yang berarti antar (antara) dan relasi. Sedangkan dalam bahasa Sanskerta, kata ”antara” dapat diartikan sebagai laut, seberang, atau luar (sebagaimana pemaknaan dalam Sumpah Palapa Patih Gadjah Mada di Kerajaan Majapahit). Dari sini bisa ditafsirkan bahwa kata ”antara” mempunyai makna, yaitu antar (antara), relasi, seberang, dan laut.

Dari penjabaran di atas, penggabungan kata ”nusa” dan ”antara” menjadi kata ”nusantara” dapat diartikan sebagai kepulauan yang dipisahkan oleh laut atau bangsa-bangsa yang dipisahkan oleh laut.

Arti dari pernyataan pertama dapat merujuk pada keseluruhan wilayah di dunia. Sedangkan pernyataan kedua dapat berarti bangsa-bangsa (yang kini telah bersulih menjadi negara-negara) di seluruh dunia. Pernyataan kedua juga dapat dikembangkan lagi, yaitu kata ”nusantara” mempunyai persamaan dengan kata ”internasional” (international) yang jika dikupas dari kata per kata menjadi inter atau antara atau laut dan nation atau bangsa. Sehingga kata ”internasional” (international) dapat bermakna bangsa-bangsa yang terpisah oleh laut atau dapat pula berarti relasi antara bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Namun layaknya manusia, selain kelebihan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau disingkat NKRI memiliki kekurangan pula Dari 1001 cerita tentang kelemahan Indonesia, kita harus tahu bahwa ada 1002 alasan mengapa kita harus bangga akan Negara Indonesia.

Dibalik maraknya kasus korupsi, bunuh diri, degradasi moral, dan tindak negatif lain, tentunya hal tersebut bukan hanya untuk direnungi semata. Kekurangan itu bukan untuk difikirkan, tapi untuk dicarikan solusinya. Kekurangan itu bukan untuk difikirkan oleh kita yang tidak memiliki “power” atau kekuasaan, tapi itu urusan mereka para wakil rakyat yang kita pun turut andil memprakarsai naiknya mereka di kursi panas Senayan sana.

Hal yang harus kita lakukan sebagai rakyat biasa, diawali dengan membanggakan dan mengingat hal-hal positif akan Indonesia, bagaimana kemerdekaan itu bisa diraih, heterogenitas masyarakat dengan puluhan suku bangsa, bahasa, dan kebudayaannya, prestasi yang pernah diraih oleh anak-anak bangsa di berbagai bidang seperti pendidikan, olahraga, dan lainnya.

Bila kita hanya terdiam dan terpaku akan kekurangan saja, maka kita takkan mengambil langkah untuk maju dan mencari solusinya.Jalan terbaik untuk mengurangi bahkan menghapus hal buruk adalah dengan berfikiran positif dan berfikir hal-hal baik tentang masalah kita.

Berikut bakal saya tulis mengenai hal; kenapa kamu, kita, mereka harus bangga akan Indonesia.

Pertama, Indonesia adalah negara yang merebut kemerdekaannya dengan perjuangan bangsanya sendiri, bukan atas hadiah dari penjajah. Lupakah kita dengan sejarah? Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang adalah bayaran mahal atas darah bahkan nyawa para pahlawan yang berjuang hanya dengan bambu runcing melawan para penjajah yang beralatkan baja. Senjata mereka mungkin sangat sederhana, namun mereka memiiki senjata tak terlihat yang luar biasa yaitu semangat nasionalisme, persatuan, keyakinan, optimisme untuk merdeka. Tidakkah kita bangga atas prestasi tak ternilai negeri kita?

Kedua, Indonesia merupakan negeri yang indah dan subur. Membentang dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari pulau besar dan kecil dengan kekeyaan alam yang luar biasa, baik hayati maupun non hayati dan keindahan yang begitu memukau seperti Bali, Wakatobi, Raja Ampat, dan masih banyak lagi.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keindahan alam yang sangat mempesona. Pesona keindahan alam Indonesia sudah menjadi buah bibir masyarakat dunia sejak dahulu, sehingga Indonesia menjadi tujuan wisata favorit masyarakat dunia. Pada 2012 saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 8 juta turis asing yang mengunjungi Indonesia.

Ketiga, Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa. Hal ini tentu saja sangat mengagumkan, karna jarang sekali ada negara yang memiliki ribuan suku bangsa seperti yang dimiliki oleh Indonesia.
Indonesia tidak hanya kaya akan hasil alam namun juga kaya akan budaya dengan ribuan suku, ras, tradisi, dan beberapa agama. Meski demikian Indonesia tetap hidup rukun, seperti semboyannya Bhinneka Tunggal Ika.

Keempat, Indonesia dikenal dengan masyarakatnya yang ramah dan santun. Contoh kecilnya, di negara-negara eropa mereka memanggil kakak atau abangnya dengan sebutan nama saja, sementara kita memanggil dengan sapaan kakak atau abang sebagai wujud penghormatan kepada yang lebih tua. Untuk hal berpakaian, sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengutamakan kesopanan dengan berpakaian yang menutup aurat. Mungkin karena keramahan dan kesopan inilah yang membuat banyak touris yang kerasan di Indonesia.

Kelima, Indonesia merupakan negeri yang cukup aman dimana kaum minoritas tidak merasa tertekan tinggal di negeri ini. Coba kita bandingkan dengan negara-negara lain yang sering bergejolak, seperti Mesir, dimana kaum minoritas tertindas. Di Indonesia kaum minoritas bisa dengan tenang melaksanakan ibadahnya selama itu tidak sesat dan mengganggu kepercayaan lain. Di negara dimana untuk beribadah seperti sholat saja harus sembunyi-sembunyi bahkan daerah yang mengesampingkan mereka yang berjilbab.

Keenam, meski Indonesia sering diremehkan di mata asing, kita tetap berusaha membuktikan kalau kita bisa walaupun dengan jatuh bangun. Kita bisa lihat bagaimana pemain Timnas berusaha sekuat mungkin untuk menang meski kadang mereka sadar mereka tidak sebanding dengan lawannya yang jauh lebih unggul. Untuk hasinya dapat kita lihat sepak bola Indonesia mulai berangsur-angsur bangkit meski dihadapi sekelumit masalah. Indonesia juga terkenal dengan diunggulkannya dalam olahraga badminton. Kita kenal siapa Rudy Hartono, Taufik Hidayat, Susi Susanti, Tomi Dwi Kurniawan, dan atlet lainnya.

Tidak hanya di bidang olahraga, aspek intelektual dan teknologi modern pun selalu ada nama yang berasal dari Indonesia, salah satunya adalah Arrival Dwi Sentosa, pelajar kelas 2 SMPN 48 Bandung, yang di claim sebagai pembuat antivirus Artav yang sekarang sudah didownload ribuan orang.

Kemudian Muhammad Yahya Harlan, siswa kelas 1 SMP Alam Bandung pembuat situs salingsapa.com. Lucu, jika sebagian orang masih buta tentang facebook, sedangkan anak ini sudah bikin sesuatu yang gak kalah dengan facebook.

Di zaman orde baru kita juga pernah membuktikan kepada dunia kita bisa menciptakan pesawat terbang dengan tipe N219 yang seluruhnya dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri, di bawah arahan B J Habibie. Cemoohan negara lain awalnya sempat diterima B J Habibie, namun akhirnya mereka mengakui kempuannya.

Lalu ada karya busana Dian Pelangi yang go internasional bahkan ratu Inggris menyukainya, Syamsi Ali yang bertugas sebagai staf Penhumas Perwakilan tetap RI untuk kantor PBB adalah Imam di Islamic Center of New York yang menjadi murabbi bagi warga dunia yang mengalami kegersangan spritual di New York. Selanjutnya ada Chris John, juara tinju dunia merupakan sedikit contoh prestasi anak bangsa di kancah Internasioanal dari sekian banyak lainya.

Jadi, masihkah kita gengsi untuk mengatakan "bangga menjadi bangsa Indonesia" dari begitu banyak  prestasi dan kebanggaan yang kita miliki? Cintailah Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita ini. Mengutip dari perkataan Prabowo; “Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi”.

Lantas, apakah kalian merasa cemburu?
Cemburu dengan prestasi yang dicatat orang Indonesia lain?
Yasudah, kita tidak akan membahas tentang itu, yang terpenting kamu, kita, mereka, dan semua orang Indonesia mulai sadar dan “ngeh” dengan keunggulan bangsa kita. Jangan difikirkan saja mengenai “kekurangan” bangsa kita. Nah, ini tugas kita kaum muda. Sebagai generasi penerus perjuangan founding father, sepatutnya kita harus memajukan bangsa kita dari berbagai aspek terutama permasalah moral bangsa.

Sekian tulisan dari saya. Semoga bermanfaat. Wassalam.
Bagi rekan yang mau copas, silahkan dengan syarat disertakan link dan author dari penulis. Hehe… Be a pair blogger. 

Bahan tulisan:
Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3