April 10, 2015

Pola Konspirasi Yahudi
Melihat dinamika perpolitikan dunia khususnya Indonesia, nampaknya cukup relevan bila hal tersebut dikaitkan dengan pola konspirasi Yahudi. Disadari atau tidak, suka atau benci, kita harus sadar, bahwa “mereka” memegang kontrol dunia walau hanya segelintir saja dimuka bumi ini. Apa saja pola konspirasi yahudi itu? Mari simak satu persatu.

Pertama, Perbanyak kejahatan.

Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, konspirasi harus mewujudkan “hasrat alami” manusia ini. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.

Kedua, Kebebasan politik sesungguhnya utopis.

Walau begitu, konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.

Ketiga, Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya.

Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan itu. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.

Keempat, Lakukan cara apapun.

Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapapun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikkan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik. Cara haram akan mereka anggap halal, karena mereka takkan pernah menggunakan cara halal dalam menyebarkan konspirasi ini.

Kelima, Kebenaran adalah kekuatan konspirasi.

Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana. Sebuah kebenaran yang dilakukan secara terpaksa (kebohongan publik yang dibuat seolah-olah benar) akan selalu digencarkan mereka demi mendapat kepercayaan bahwa mereka ada dipihak semua orang.

Keenam, Secret is number one!

Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan konspirasi akan mencapai tingkat dimana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.

Ketujuh, Ambil simpati Rakyat

Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktator. Inilah satu-satunya jalan. Maka dari itu, peran media sangat substansial dalam melancarkan misi ini.

Kedelapan, Kuasai sarana pencapaiannya.

Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah :minuman keras, narkotika, pengrusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.

Kesembilan, Nyalakan api kebencian.

Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya.

Kesepuluh, Kami harus diakui!

Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi “tuhan” bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi (pemerintahan dikuasai minoritas dan mendapat perlakuan spesial) keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan konspirasi.

Kesebelas, dikobarkannya perang dengan tetangga.

Perang yang dikobarkan konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini. Orang Yahudi ini ahli dalam mengambinghitamkan satu pihak. Mereka akan menyulut api kebencian satu negara dengan negara tetangganya. Jadi tidak perlu mengeluarkan biaya lebih kan? Keren memang rencananya.

Keduabelas, kuasai pemerintahan.

Pemerintahan bentukan konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan konspirasi. Tidak bisa yang lain. Ini demi kelancaran propaganda mereka, karena mereka tahu bila pemerintahan masih dikuasai orang kontra mereka, mereka akan sedikit kesulitan dalam bergerak dan melakukan lobi politik.

Ketigabelas, Konspirasi akan menguasai opini dunia.

Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan 1000 orang non-Yahudi (gentiles/ghoyim) sebagai balasannya. Terbukti bahwa saat ini, berbagai media terkenal dan tersohor adalah milik mereka. Maka dari itu mereka akan seenak hati menyebarkan propaganda sesuai dengan yang diinginkan atau dengan kata lain memutarbalikkan fakta.

Keempatbelas, membasmi rezim kontra mereka.

Setelah konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggung-jawab atas terjadinya kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.

Kelimabelas, Krisis ekonomi.

Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan. Secara, ketika kurs rupiah melemah, maka pemerintah dipaksa meminjam suntikan dana ke IMF (International Monetary Fund) atau bank Dunia untuk membantu pembelanjaan pemerintah karena harga belanja yang kian melonjak.

Keenambelas, Penyusupan ke dalam jantung freemason Eropa

Hal tersebut dilakukan agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi konspirasi untuk memuluskan tujuannya. Jaringan freemason ini tersebar di seluruh dunia, terutama dibanyak negara eropa yang memiliki kekuatan finansial dan militer baik seperti Inggris, Prancis, Jerman, dll untuk meminta bantuan.

Ketujuhbelas, sebarkan ini sampai rakyat histeria.

Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.

Kedelapanbelas, timbulkan terus kekacauan

Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi ini. Kita ambil contoh kasus di berbagai negara arab seperti Afghanistan, Pakistan, Irak, dll. Mereka seolah-olah “hero” dengan mengambil opini “sang penyelamat kedamaian” karena membasmi terorisme.

Kesembilanbelas, ambil petugas kenegaraan dari kelompoknya.

Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga ditingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.

Keduapuluh, Monopoli Ekonomi.

Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekuatan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.

Keduapuluhsatu, kuasai SDA negara non-Yahudi

Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan. Kita lihat saja Indonesia yang mulai disusupi berbagai perusahaan asing dengan nilai investasi dimulai milyaran hingga trilyunan rupiah. Tidak ada kesemuanya yang memprioritaskan Indonesia. Semuanya hanya mementingkan negaranya (baca: Yahudi).

Keduapuluhdua, jual senjata.

Meletuskan perang dan memberinya-menjual-senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin. Perlu diketahui juga, perputaran uang untuk jual beli senjata akan semakin cepat bila peperangan dibanyak negara (yang diacak-acak oleh Yahudi) khususnya arab sana dengan dalih membasmi terorisme.

Keduapuluhtiga, Rezim terselubung.

Satu rezim terselubung akan muncul setelah konspirasi berhasil melaksanakan programnya. Ini yang kita kenal dengan pemberontak. Mereka (Yahudi) seolah-olah kaum tertindas yang diserang membabi-buta oleh Muslim, padahal kenyataannya tidak. Maka mereka akan menempatkan orang-orang khusus untuk lobi politik dengan mitra mereka untuk menyusun strategi rezim terselubung sebagai kaum pemberontak.

Keduapuluhempat, Kuasai anak muda.

Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan. Juga mereka akan bahagia membasmi anak muda muslim yang hafidz (hafal al-Quran) karena mereka takut dengan anak yang sudah bisa menghafal Quran. Mereka ketakutan, akan seperti apa mereka nanti bila masih kecil saja sudah hafal Quran.

Keduapuluhlima, rubah undang-undang

Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya. Ini adalah pola konspirasi terakhir yang mereka canangkan. Sebuah finalisasi agenda yang menjadi titik ukur keberhasilan sempurnanya.
09-04-15 Konspirasi Yahudi
Ngeri memang membaca pola konspirasi Yahudi tersebut. Tapi kita tidak seharusnya tinggal diam. Mereka berjumlah sedikit, sangat sedikit. Peran media lah yang membuat mereka “seakan-akan” kuat dan lincah dalam bergerak. Mereka sebenarnya penakut. Untuk menghadapi anak kecil saja mereka menodongkan Tank. Apa bukan penakut itu?
Itulah tulisan mengenai pola konspirasi yahudi, semoga bermanfaat. Sumber tulisan

April 6, 2015

Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi
Menanggapi 5 bulan pasca pelantikan Jokowi sebagai presiden, kali ini saya ingin menulis sebuah Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi yang mungkin bisa bermanfaat untuk pembaca.
Rezim JOKOWI lebih parah dari ORBA terhadap ISLAM.
Jokowi merupakan sosok pemimpin yang terlahir dari peran besar media sekuler dukungan asing. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah momok terhadap rakyat Indonesia yang notabene Muslim. Sebagai contoh adalah ketika ia menjabat sebagai walikota Solo dan menggandeng wakil walikota yang berasal dari golongan kafir bernama FX Hadi Rudyatmo. Lalu Jokowi mencalonkan menjadi Gubernur DKI dan berhasil menyematkan status Gubernur DKI dengan meninggalkan Solo dipimpin orang kafir untuk pertama kali.

Begitu pula nasibnya dengan DKI Jakarta, ibukota Republik Indonesia ini juga memiliki masyarakat mayoritas Islam dan belum pernah dipimpin oleh orang kafir sebelumnya. Namun hal ini berbeda ketika Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden, dan meninggalkan Jakarta dipimpin oleh keturunan Tionghoa, yakni Basuku Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok.

Sungguh catatan miris terhadap Muslim Indonesia. Ketika dua daerah berbeda yang sebelumnya tidak pernah dipimpin kafir, namun kini Jokowi memecahkan rekor tersebut dengan “keserakahan” kekuasaannya.

Langkah keberhasilannya merebut hati rakyat memang menggunakan cara unik dan terbilang jarang digunakan kandidat lain. Ketika masa-masa kampanye dulu, Jokowi dan timses (tim sukses) menggembor-gemborkan prestasi yang bersifat temporer (sementara) semata. Kita ingat pada tahun 2009 dengan mobil Esemka yang berasal dari “tangan karya modus” walikota Solo menghipnotis Indonesia akan sosok pemimpin inspiratif yang betul-betul mengedepankan produksi dalam negeri. Namun apa kabar Esemka saat ini? Entah kemana kabarnya mobil tersebut yang hingga saat ini belum lagi menghiasi pemberitaan media. Dan hebatnya lagi, sejak saat itu Jokowi mendapat gelar walikota terbaik di dunia berdasarkan majalah New York Times. Sebuah majalah milik Amerika yang notabene kaum sekular dan penyokong utama Jokowi untuk tembus mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI.

Kita juga pasti masih ingat dengan gerakan “blusukan” yang sangat populer ketika Jokowi sibuk mencalonkan menjadi Presiden RI yang ternyata berhasil menjadi “icon” perjuangan bagi “wong cilik” karena ia begitu dekat dengan rakyat. Timses Jokowi ini memang cerdas dalam membuat isu publik yang tengah dibutuhkan masyarakat. Sosok yang selama ini memang diidam-idamkan menjadi pemimpin yang tidak hanya untuk DKI tapi seluruh Indonesia. Terbukti, dengan gerakan ini Jokowi berhasil memenangkan Pilpres 2014 lalu.

Bahkan ketika ia menjabat menjadi presiden RI, ia tetap menggunakan trik blusukan ini untuk menjaga image “pembela wong cilik” supaya tidak muncul istilah “kacang lupa pada kulitnya”. Ketika duduk di kursi presiden, Jokowi tetap bisa dekat dengan rakyat.

Setelahnya ia terpilih jadi presiden dengan menggandeng politisi senior yang tempo lalu di pilpres 2009 “gagal” adalah Jusuf Kalla (JK), Jokowi juga menggandeng beberapa nama dalam Kabinet Indonesia Kerja orang-orang dari golongan kafir, mereka adalah:

  1. 1. Kepala staf kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan (Kristen Protestan)
  2. 2. Kepala tim ahli wakil presiden, Sofyan Wanandi (alias Liem Bian Koen – Katolik)
  3. 3. Sekretaris kabinet, Andi Wijayanto (Kristen Protestan)
  4. 4. Anggota dewan pertimbangan presiden, Rusdi Kirana (Kristen Protestan)
  5. 5. Kepala badan kordinasi penanaman modal, Franky Sibarani (Kristen Katolik)

Walau terbilang bukan jabatan strategis dalam pemerintahannya, namun pemasangan perwakilan kafir di kabinet ini cukup “berani” diambil oleh Jokowi.

Dari beberapa kejadian diatas, ini mengindikasikan bahwa pemerintahan Jokowi memang benar-benar sedang menggoda sang macan untuk bangun. Dia sedang menguji kesabaran dari mujahid muslim di berbagai pelosok daerah untuk bertindak. Namun kami disini bukan hanya berembel-embel Muslim, kami berbicara sebagai seorang rakyat Indonesia yang prihatin akan langkah pemerintahan yang terkesan ngaco dan berani dengan Islam.

Baru-baru ini – di tahun anggaran tahun 2015 – pemerintah telah resmi menyetop suplai anggaran untuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang notabene sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk umat Islam. Posisi MUI disini sungguh esensial karena Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Islam, maka dari itu sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah. Berbeda dengan ormas lain yang memang hidup dengan anggotanya itu sendiri. MUI ini ibarat sesepuh di pemerintahan, walau tidak tercatat secara struktural, tapi arahan dan fatwa-fatwanya harus diperhatikan oleh pemerintahan demi menjaga keutuhan NKRI kedepannya. Dan rezim Jokowi ini malah memberhentikan suplai anggaran yang tentunya dana tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan umat Islam sebagai pemeluk agama juga sebagai penduduk Indonesia.

Kebijakan lain rezim Jokowi yang “melabrak” Islam datang dari kementrian komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) dengan memblokir 21 situs islam Indonesia pada tanggal 30 Maret 2015 yang sangat mengagetkan masyarakat Indonesia. Kemenkominfo menegaskan bahwa 21 situs tersebut diduga memiliki paham radikal dalam menyebarkan ajaran Islam, sesuai dengan permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Situs-situs tersebut adalah:
  1. 1. Arrahmah.com
  2. 2. Ghur4ba.blogspot.com
  3. 3. Muqawamah.com
  4. 4. Voa-islam.com
  5. 5. Panjimas.com
  6. 6. Lasdipo.com
  7. 7. Hidayatullah.com
  8. 8. Thoriquna.com
  9. 9. Gemaislam.com
  10. 10. Dakwatuna.com
  11. 11. Salam-online.com
  12. 12. Eramuslim.com
  13. 13. Kafilahmujahid.com
  14. 14. Aqlislamiccenter.com
  15. 15. Daulahislam.com
  16. 16. An-najah.net
  17. 17. Kiblat.net
  18. 18. Shoutussalam.com
  19. 19. Muslimdaily.net
  20. 20. Dakwahmedia.com
  21. 21. Azzammedia.com
  22. 22. Indonesiasupportislamicatate.blogspot.com

Saya pribadi tak habis pikir, kok bisa-bisanya rezim Jokowi memblokir situs-situs tersebut. Dari beberapa situs diatas adalah yang sering saya kunjungi karena mengandung informasi dan berita yang bagus juga berbobot mengenai Islam. Tidak ada sama sekali artikel yang menandakan pertentangan atau radikalisme seperti yang dituduhkan BNPT. Kalau era SBY, situs-situs yang di filtering itu situs berbau pornoaksi dan pornografi, lah kok sekarang malah situs berbau Islam? “Kunaon Jok? Sieun ku Islam? Anjeun urang Islam lin?”

Anehnya lagi, mengapa situs-situs berbau liberal dan menyesatkan – seperti ahlulbaitindonesia.com (milik Syiah), islamlib.com (Liberalis), islamtoleran.com (Sekular) – malah tidak disentuh sama sekali. Ini semakin membingungkan umat Islam. Namun bagi orang yang mengetahui dan paham mengenai “siapa dibalik tangan kekuasaan Jokowi”, tentu tidak mengherankan dengan kejadian-kejadian seperti ini. Namun bila dibiarkan, tentu saja ini akan menjadi masalah besar yang tidak hanya akan meruntuhkan keyakinan umat Islam dalam beribadah, juga akan merubuhkan azas dan sistem NKRI itu sendiri karena melibatkan langsung penduduk Muslim Indonesia. Dan kalau boleh saya bilang, rezim jokowi lebih parah dari ORBA terhadap Islam.

Saya hanya bisa berharap agar rezim Jokowi-JK bisa diberikan hidayah oleh Allah SWT dengan betul-betul mengedepankan kepentingan Negara, bukan kepentingan asing yang merantai kekuasaan presiden “boneka”nya. Saya sangat cinta Indonesia. Cinta akan tanah air ini. Cinta bumi pertiwi. Cinta segalanya tentang Indonesia. Begitu pula dengan masyarakat lain yang sangat mencintai Indonesia ini.

Maka dari itu, tolong. Tolong pehatikan kami, bukan malah memperhatikan mereka. Tolong jangan biarkan kebencian ini semakin menjadi-jadi dengan tingkah laku dan kebijakan anda yang “menantang” kami, Masyarakat Muslim Indonesia. Semoga rezim kali ini bisa menjalankan tugas dengan maksimal, bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsi dan perannya. Anda tidak tertarik akan gemerlapnya dunia, anda tidak takut akan “kungkungan” antek-antek asing, anda tidak (lagi) tertarik akan tawaran menggiurkan dari musuh Negara. Tidak memperdulikan para gurita ekonomi dunia yang hanya ingin kekayaan Indonesia. Semoga anda semakin cinta Indonesia.

Itulah sebuah catatan kecil rapor rezim Jokowi dari saya. Ditunggu komentar dari para pembaca, terimakasih.

Referensi:
1. fpi.or.id
2. wikipedia.com
3. duniamuallaf.blogspot.in
4. nasional.inilah.com
5. hukumonline.com

January 19, 2015

Mukjizat Lalat dan Penelitian Abad 20
Bismillah. Kali ini saya akan share tulisan tentang mukjizat Lalat dan Penelitian Abad 20 oleh Joan Clark. Tulissn ini diambil dari situs bersama dakwah. (Link dibawah)
-
Sewaktu muda, Syaikh Abdel Daem Al Kaheel pernah tak mampu menjawab pertanyaan orang ateis yang menghina salah satu hadits Nabi. “Bagaimana mungkin Nabi kalian menyuruh menenggelamkan lalat yang hinggap di minuman sembari menjelaskan di salah satu sayapnya ada obat. Lalu kalian mau meminum minuman seperti itu?” tanyanya nyinyir.
-
Al Kaheel paham bahwa yang dimaksud orang atheis tersebut adalah sabda Rasulullah:
-
إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ، فَإِنَّ فِى إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً
“Jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat” (HR. Al Bukhari)
-
Tentu sebagai mukmin ia yakin dengan kebenaran hadits ini. Tetapi, bagaimana menjelaskan kepada orang atheis yang tidak mempercayai apapun kecuali materi?
-
Beberapa tahun kemudian, ketika menulis buku Asrar As Sunnah An Nabawiyah (Rahasia Sunnah Nabi), Syaikh Abdel Daem Al Kaheel menjelaskan kebenaran hadits ini dalam satu bab tersendiri dengan didukung oleh sejumlah penelitian, terutama penelitian Joan Clark.
-
Dokter dari Australia itu melakukan penelitian tentang lalat dan menemukan bahwa permukaan luar tubuh lalat mengandung antibiotik yang dapat mengobati banyak penyakit. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa obat pada sayap itulah yang membuat lalat tidak terkena penyakit yang dibawanya sendiri.
-
Hasil penelitian Joan Clark ini cukup mengejutkan sekaligus memancing banyak ilmuwan lain untuk melakukan penelitian berikutnya. Hasilnya menunjukkan fakta lebih rinci bahwa cara terbaik mengeluarkan zat antibiotik pada lalat adalah dengan cara mencelupkannya ke dalam air. sebab, zat antibiotik tersebut terutama terdapat pada permukaan luar tubuh dan sayapnya.
-
Setelah penelitian tersebut, seorang dokter dari Rusia kemudian mengembangkan pengobatan baru dengan lalat. Sedangkan Profesor Juan Alvarez Bravo dari Universitas Tokyo mengisyaratkan pengembangan pemanfaatan ekstrak lalat untuk pengobatan.
-
Dalam Fatawa Mu’ashirah, Syaikh Dr Yusur Qardhawi ketika menerangkan hadits lalat ini juga menguatkannya dengan hasil penelitian yang menunjukkan kebenaran sabda Rasulullah bahwa dalam sayap lalat terdapat obat untuk menetralisir penyakit yang terdapat pada sayapnya yang lain.
-
Masya Allah… fakta-fakta ilmiah ini baru terungkap mulai abad ke-20. Sedangkan Rasulullah telah mensabdakannya 13 abad sebelumnya. Lalu siapa yang mengajari Rasulullah kalau bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Hal ini juga menjadi salah satu bukti kebenaran Islam yang seharusnya membuat iman dan rasa syukur kita kian meningkat. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/bersamadakwah]
Sumber

May 14, 2014

Mata Kita Buta Setiap Hari
Tahukah kamu, bahwa kita ternyata akan selalu mengalami kebutaan sekitar 40 menit setiap harinya yang sengaja dilakukan oleh sistem penglihatan kita sendiri?

Jadi begini ceritanya, ketika bola mata kita bergerak, ada samar cepat yang terjadi saat kita mengalihkan pandangan dari objek satu ke objek selanjutnya. Dan ternyata, diketahui bahwa otak kita tidak memiliki kemampuan untuk menangkap samar tersebut.

Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh sistem penglihatan kita adalah menghapus samar yang terjadi dari ingatan kita dan menggantinya dengan objek selanjutnya yang akan kita lihat. Hal ini disebut dengan saccadic masking (penyamaran saccadic). Masih belum jelas?

Mari kita lakukan percobaan kecil. Pertama, carilah jam analog (bukan jam digital ya, percobaan ini hanya bisa dilakukan menggunakan jam yang memiliki jarum penunjuk waktu). Lalu, coba lihat suatu benda, apa saja, dan dengan cepat alihkan pandanganmu ke arah jam tersebut. Ada yang aneh?

Coba perhatikan. Saat kita melihat jam, gerakan jarum detik pertama yang kita lihat akan terasa lebih lama dibandingkan gerakan selanjutnya.

Ketika mata melirik dengan cepat, persepsi waktu merenggang sedikit ke belakang. Otak kita mencatat bahwa kita telah melihat jam sedikit lebih lama dari waktu yang sesungguhnya.

Gambaran sederhana Saccadic Masking
Ilusi ini dikenal dengan sebutan ilusi jam-berhenti. Meskipun hal ini terjadi setiap kali mata kita mengalihkan pandangan dari satu titik fiksasi ke titik selanjutnya, hal ini jarang kita sadari. Alasannya adalah otak telah mengisi jeda waktu saat mata kita bergerak melihat benda satu ke benda berikutnya.
Subhanalloh
Wanita Lebih Unggul dalam 6 Hal daripada Pria
Menurut sejumlah riset, wanita bisa lebih unggul ketimbang pria. Dalam hal apa saja wanita lebih baik ketimbang kaum Adam. Berikut ini hasil pemaparan berbagai riset mengenai keunggulan wanita seperti dikutip Cosmpolitan:

1. Tulisan Tangan
Wanita memiliki kemampuan yang lebih baik dalam urusan tulis menulis dibandingkan pria. Hal ini terjadi sudah dari saat mereka kecil ketika mempelajari menulis huruf abjad. Serat-serat saraf yang mengontrol keterampilan motorik di otak laki-laki tidak sebaik yang perempuan miliki. Pada saat itu anak perempuan lebih baik mempelajari tulisan tangan ketimbang anak laki-laki.
(Tapi tidak denganku, tulisan tanganku bagus ah... hihi)

2. Sadar untuk Makan Sehat
Universitas Minnesota melakukan sebuah survei terhadap lebih dari 14 ribu orang yang mengungkapkan bahwa wanita lebih menjaga kesehatannya dengan memakan makanan yang sehat dibandingkan pria. Saat pria memilih pizza dingin di kulkas, wanita lebih memilih buah-buahan yang memiliki lebih banyak nilai nutrisi dan rendah kalori.
(Satuju ieu mah...)

3. Lebih Cepat Belajar
Penelitian yang dilakukan Universitas Goegia dan Universitas Columbia menemukan kalau wanita lebih cepat belajar ketimbang pria. Hal itu karena pada dasarnya wanita punya kemampuan untuk lebih mengembangkan pikirannya. Menurut riset tersebut wanita lebih penuh perhatian, fleksibel dan teroganisir. Jadi saat bekerja, wanita lebih mudah memahami tugas yang diberikan ketimbang rekan kerja prianya.
(Karasa oge...)

4. Lebih Pintar
Berdasarkan riset tes IQ dari berbagai belahan dunia, wanita memiliki IQ yang lebih tinggi daripada pria. Penelitian itu dilakukan oleh James Flynn yang meneliti IQ berbagai orang di dunia mulai dari Amerika, Eropa, Kanada, New Zealand, Argentina dan Estonia. Dari risetnya diketahui IQ wanita berada di atas rata-rata.
(Ah henteu oge..., mun rajin mah ia)

5. Lebih Mengesankan Saat Wawancara Kerja
Sebuah riset yang dilakukan University of Western Ontario mengungkapkan wanita lebih bisa mengatasi stres saat wawancara kerja. Penelitian menemukan meskipun wanita lebih panik saat melakukan persiapan wawancara, ketika hari-H kita justru lebih mengesankan pihak pewawancara ketimbang pria. Hal itu tentu saja karena wanita lebih mempersiapkan diri ketimbang kaum Adam.
(mm.. Maenya sih?)

6. Imunitas Tubuh Lebih Baik
Penelitian yang dilakukan Universitas McGill melihat bahwa wanita memiliki sistem imun lebih baik ketimbang pria. Hal itu karena hormon estrogen di dalam tubuh membuat wanita bisa melawan infeksi lebih kuat. Dalam hormon estrogen ada enzim tertentu yang menjadi proteksi pertama tubuh ketika diserang bakteri dan virus. Imunitas yang lebih baik ini membuat wanita lebih panjang umur ketimbang pria. Sekitar 85% orang yang berumur lebih dari 100 tahun adalah wanita.
(Ya ya ya...)

Sumber

May 10, 2014

Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Masihkah?
Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Masihkah?
Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sbagai prasasti, trimakasihku untuk pengabdianmu.
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa
(Sartono)

Melihat, mendengar, dan membaca hymne guru diatas tentunya memiliki makna yang sangat mendalam dan menyentuh bagi para guru maupun murid. Kata orang, “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikiran saya mengenai eksistensi seorang guru pada zaman ini, masih relevan-kah predikat guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”? Mengingat memang perjuangan mereka yang tak kenal lelah dalam mengorbankan waktu bahkan tenaga demi masa depan para pewaris bangsa, Negara dan tentunya Agama.


Dari hymne diatas, guru disanjung dan dipuja luar biasa karena diibaratkan sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun penyejuk dalam kehausan, dan sebagai patriot pahlawan bangsa. Namun apakah cukup hanya berhenti pada sekadar sanjungan dan pujian? Terlebih di akhir bait lagu tersehut dikatakan guru adalah patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Cukupkah seorang guru hanya diberi gelar “Pahlawan tanpa tanda jasa” dizaman yang penuh dengan nuansa materialistis ini?

Di zaman yang semakin susah ini, orang tidak akan mampu hidup hanya dengan sanjungan dan pujian. Gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” tidak akan mampu memberi hidup yang layak bagi mereka, bahkan justru membebani; yang dibutuhkan bukan sekadar sanjungan atau pujian atau gelar, lebih pada perhatian dan penghargaan atas suatu pengabdian yang begitu luar biasa.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana ceritanya seorang guru diberi gelar tersebut dan kaitannya dengan realitas sekarang ini? Sepengetahuan penulis, guru diberikan gelar tersebut ketika dulu sosok seorang guru yang belum sebanyak saat ini. Mereka yang berani mengambil langkah puluhan kilometer demi mengajar, walaupun banyak pula murid yang sama demikian. Ditambah dengan pendapatan yang tidak besar bahkan kekurangan dari segi materi. Sungguh ironis. Disaat suatu bangsa bisa berdiri tegak dan kuat, mereka lupa bahwa ada sosok guru dibalik keberhasilan bangsa tersebut.

Tidak akan pernah ada pemimpin dunia tanpa seorang guru. Takkan pernah ada peradaban bila tidak ada guru didalamnya. Guru adalah pelita. Guru adalah pusaka. Guru bagaikan cahaya. Hanya tinggal kita saja, para muridnya yang mengambil sikap dan langkah “kanan” atau “kiri”. Tapi itu bukan salah mereka. (Rasyid)

Tidak ada satu negarapun di dunia ini yang memiliki pemimpin yang sudah hebat dari sejak ia lahir. Ia akan selalu membutuhkan seorang guru. Guru ini bermakna luas. Guru ini tidak hanya mereka yang datang menggunakan sepeda butut, sepatu kucel, baju hanya itu-itu saja. Tapi esensi guru adalah pengajar, pemberitahu, pemberi ilmu. Bahkan orangtua kita pun sebenarnya adalah guru kita. Kita bisa mengambil pelajaran dari adik kelas kita. Kita bisa mengajarkan sesuatu kepada orangtua kita.

Disaat posisi guru mengalami degradasi materi, pemerintah Indonesia melakukan uji materi UU Sisdiknas tahun 2003 dan memulai sebuah program bernama sertifikasi guru yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan masyarakat Indonesia. Apa itu sertifikasi??

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi dengan mengacu pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Bagi guru yang lulus sertifikasi berhak menerima tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan melalui Dana Alokasi Umum terhitung mulai bulan Januari tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat pendidik.

Intinya, sertifikasi guru ini sebagai langkah pemerintah Indonesia menyejahterakan guru demi tercapainya mutu pendidikan Indonesia yang baik. Kesejahteraan disini bermakna materi (baca: duit). Asumsinya, bila guru sejahtera, maka kinerja guru akan makin baik. Dengan kinerja baik, maka pendidikan pun akan berjalan optimal. Bila pengajaran dan pendidikan berjalan normal, maka peserta didik pun akan berprestasi baik.

Namun nampaknya pemerintah lupa beberapa hal. Pertama, factor penentu keberhasilan mutu pendidikan suatu Negara BUKAN hanya ditentukan oleh kesejahteraan materi seorang guru. Diperlukan pula sebuah madrasah akhlaq bagi para guru. Karena dewasa ini banyak diberitakan bahwa program sertifikasi guru itu bukannya malah membuat kinerja mengajar semakin baik, justru sebaliknya. Ini berkaitan erat dengan etika (akhlaq) guru itu sendiri dalam menyikapi pemberian dana hibah tersebut.

Kedua, kurang atau bahkan tidak efektifnya sistem penetapan ujian sertifikasi dengan format portofolio. Buktinya sudah menjadi barang umum bahwa ujian sertifikasi diwarnai dengan plagiatisme. Dan banyak lagi poin-poin mengenai catatan sertifikasi sebagai langkah perbaikan mutu pendidikan di Indonesia.

Hal yang ingin saya bahas disini adalah mengenai eksistensi dan tanggungjawab seorang guru dengan label “pahlawan tanpa tanda jasa” itu. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, label tersebut akan selalu menempel dalam seorang guru (baca: guru sekolah/madrasah).

Bila didunia agamis (baca: pesantren) mungkin posisi guru masih mendekati dengan label pahlawan tanpa tanda jasa itu, walaupun sekarang program sertifikasi sudah merambah ke dunia madrasah (MI, MTs, dan MA). Bukan berarti pula di sekolah umum jauh dari harapan pemerintah khususnya yang justru malah memperburuk citra guru itu sendiri.

Beberapa waktu kebelakang, kita dikejutkan dengan berita pencabulan guru di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Banyak juga oknum-oknum guru yang memandang anak didiknya sebagai lahan menghasilkan uang demi kepentingan mereka sendiri dan komunitasnya. Bahkan tak jarang biaya sekolah pun menjadi sangat mahal yang secara otomatis akan menyeleksi orang-orang yang tidak mampu dalam membayar uang sekolah.

Kemudian yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah di manakah posisi guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Apakah karena mereka kian membantu memberikan jawaban Ujian Nasional kepada anak didiknya? Atau mereka yang lebih suka memakan gaji buta tanpa memberikan pelajaran kepada muridnya? Atau bahkan mereka yang dengan bangganya menodai (mencabuli) kesucian anak didiknya sendiri?
Guru adalah sebuah profesi di bidang pendidikan. Peran guru memang penting demi kemajuan bangsa yang dimulai dari bidang pendidikan hingga bidang-bidang yang lainnya. Terlepas dari pandangan tepat tidaknya predikat “pahlawan tanpa tanda jasa” tersebut, masih banyak hal lain yang bisa diambil hikmahnya dari tugas seorang guru.

Peran moral dan sosial adalah salah satu hal yang tak lepas dari guru. Ketika seseorang telah berkomitmen untuk menjadi seorang guru, maka dia juga harus siap untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya, baik dari segi pengetahuan ataupun akhlaknya. Selain itu, dia juga harus bisa mewariskan cita-cita luhur para pahlawan bangsa, yang telah gugur, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertera di Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itulah kita juga harus yakin bahwa tak semua guru pada zaman seperti saat ini hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja. Masih banyak sekali orang-orang yang berprofesi sebagai guru dan tetap menjalankan amanahnya sebagai pribadi yang ikhlas dalam mengamalkan ilmunya bahkan rela menghabiskan waktu mereka demi mendapatkan anak didik yang cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Sumber inspirasi

May 4, 2014

Rengkong; Kesenian Cianjur yang Patut Dilestarikan
Cianjur adalah salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam Kabupaten Cianjur. Masyarakatnya sebagian besar beragama Islam dan pada umumnya menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam.

Di daerah ini, tepatnya di Kampung Kandangsapi, Desa Cisarandi, Kecamatan Warungkondang ada sebuah kesenian tradisional yang bernama “rengkong”.



Asal-usul kesenian ini bermula dari pemindahan padi huma (ladang) ke saung (lumbung padi). Masyarakat Jawa Barat pada umumnya, termasuk masyarakat Warungkondang (Cianjur), di masa lalu --sebelum mengenal bercocok tanam padi di sawah (sistem irigarasi)-- pada umumnya adalah sebagai peladang (ngahuma) yang berpindah-pindah.

Padi ladang yang telah dituai tentunya tidak dibiarkan di ladang, tetapi mesti dibawa pulang. Mengingat bahwa jarak antara areal ladang dan pemukiman (rumah peladang) relatif jauh, maka diperlukan suatu alat untuk membawanya, yaitu pikulan yang terbuat dari bambu.

Mereka menyebutnya sebagai “awi gombong”. Pikulan yang diberi beban padi kurang lebih 25 kilogram yang diikat dengan injuk kawung (tali ijuk) ini jika dibawa akan menimbulkan suara atau bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan batang pikulan itu sendiri. Dan, bunyi yang dihasilkan menyerupai suara burung rangkong (sejenis angsa). Oleh karena itu, ketika bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan dikembangkan menjadi sebuah jenis kesenian disebut “rengkong”.

Konon, kesenian rengkong ini dikenal oleh masyarakat Warungkondang, khususnya masyarakat Kampung Sukaratu, Desa Cisarandi, sejak akhir abad ke-19. Adupan orang memperkenalkan dan atau mengembangkannya adalah Said (almarhum). Di kampung lain (Sukaratu) dikembangkan oleh seorang pengusaha genteng (1920--1967). Jadi, beban yang semula berupa padi diganti dengan genteng. Sedangkan, di Kampung Kandangsapi dikembangkan oleh Sopian sejak tahun 1967.

Peralatan
Peralatan yang diperlukan untuk mewujudkan kesenian yang disebut sebagai rengkong ini adalah peralatan yang menghasilkan bunyi rengkong itu sendiri dengan berbagai ukuran (ada yang besar dan kecil). Peralatan itu terdiri dan atau terbuat dari pikulan, tambang ijuk, padi, dan minyak tanah. Pikulan terbuat dari dari sebatang awi gombong (bambu gombong) yang tipis dengan panjang 2 atau 2,5 meter. Ujung yang satu dan lainnya terbuka (tidak tertutup oleh ruas bambu).

Kemudian, kurang lebih 30 centimeter dari ujung-ujungnya dilubangi (menyerupai kentongan) sepanjang kurang lebih 38 centimeter. Tambang ijuk yang panjangnya 2 sampai 2,5 meter berfungsi sebagai pengikat padi padi yang akan digantungkan pada sebatang awi gombong yang berfungsi sebagai pikulan. Kemudian, padi yang beratnya 20—25 kilogram sebagai beban pikulan. Lebih dari itu dikhawatirkan pikulan akan patah. Dan, minyak tanah berfungsi sebagai pengesat gesekan antara tali dan pikulan, sehingga gesekan menghasilkan bunyi yang nyaring. Peralatan lainnya adalah dodog dan angkung buncis.

Pemain dan Busana
Jumlah pemain rengkong secara keseluruhan ada 14 orang dengan rincian: 2 orang sebagai pembawa rengkong besar; 3 orang sebagai pembawa rengkong kecil; 4 orang sebagai pemain dodog, yaitu dodog: tingrit, tongsong, brung-brung, dan gedeblag; dan pemain angklung buncis yang terdiri atas 5 orang. Sedangkan, busana atau pakaian yang dikenakan adalah pakaian tradisional yang berupa: kampret atau pangsi, ikat kepala, dan sarung.

Pementasan
Kesenian rengkong yang ada di Warungkondang ini biasanya hanya dipentaskan dalam rangka memeriahkan hari-hari besar agama dan atau nasional (17 Agustusan) dalam bentuk arak-arakan. Dalam sebuah pementasan biasanya pemain rengkong yang berjumlah 5 orang berada di barisan depan. Kemudian, diikuti oleh para pemain angklung buncis dan para pemain dodog. Namun demikian, adakalanya pementasan dikemas secara kolektif. Artinya, para pemain boleh bergerak kemana saja (bercampur jadi satu).

Fungsi
Ketika rengkong belum dikembangkan menjadi sebuah jenis kesenian, ia semata-mata hanya berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari seseorang yang membawa beban (padi) dengan cara dipikul. Dalam hal ini gesekan antara tali pikulan dan pikulan dimanfaatkan sebagai irama pengiring, sehingga beban yang relatif berat tidak begitu dirasakan karena karena diiringi oleh bunyi-bunyian yang khas. Dan, ketika rengkong menjadi sebuah jenis kesenian fungsinya juga tidak jauh berbeda, yaitu sebagai hiburan.

Sebagai catatan, kesenian yang disebut sebagai rengkong ini tidak hanya ada di daerah Cianjunr semata, tetapi juga di daerah Sukabumi dan Banten. Bedanya, di kedua daerah tersebut rengkong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi ada fungsi lain yang melatarbelakanginya, yaitu ungkapan terima kasih kepada Dewi padi yang telah memberikan kesejahteraan berupa panen yang melimpah. Oleh karena itu, rengkong selalu ditampilkan dan kegiatan atau upacara penyimpanan padi ke lumbung.

Nilai Budaya
Kesenian adalah ekspresi jiwa manusia yang terwujud dalam keindahan. Oleh karena itu, kesenian apapun termasuk kesenian rengkong yang didukung dengan peralatan sederhana, mengandung nilai estetika (keindahan). Namun demikian, jika dikaji secara teliti kesenian yang disebut sebagai rengkong ini tidak hanya mengandung nilai estetika saja, tetapi ada nilai-nilai lainnya yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja keras dan kerjasama. Nilai kerja keras tercermin dalam membunyikan suara khas yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan. Ini artinya, padi dengan berat tertentu dipikul. Dan, ini tentunya memerlukan kerja keras. Kemudian, nilai kerja sama tercermin dalam pementasan.

Dalam hal ini tanpa kerja sama yang baik mustahil pementasan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Malahan, ada nilai lainnya (religius) sebagaimana yang ditunjukkan oleh masyarakat Sukabumi dan Banten.

May 1, 2014

Mari Kita Bicara Indonesia
Kalian bangga menjadi Indonesia?
Pernah dengan lantang kalian mengatakan; “saya Indonesia!”?

Sudahkah kita sebagai orang Indonesia merasa bangga lantaran hidup di tanah air ini? Pernahkah kita merasa hina bila oranglain mencerca Negara kita? Atau kita sudah bisa merasakan bagaimana sikap kita terhadap suasana yang terjadi di Negara kita ini? Dengan keindahan geografis, kesempurnaan alam, kekayaan sumber daya, sampai pada berbagai kasus tindak pidana yang terjadi disini.



Namun apa yang terjadi saat ini? Disaat para remaja 2014 sibuk dengan mode “selfie”, “galau”, “eksis di medsos”, dan mode lainnya, dengan tidak sadar mereka sudah mengabaikan bahkan melupakan mengenai cerita heroik bagaimana Indonesia bisa merdeka hingga saat ini, walaupun kemerdekaan itu masih jauh dari kata “aman dan tenteram”. Tapi saya tidak akan membahas mengenai indeks kemerdekaan.

Tapi tidak sedikit pula para remaja 2014 ini mulai banyak yang menulis mengenai kehebatan Indonesia saat ini, tidak sedikit pula mereka yang sadar akan kekurangan Indonesia dan mulai mencari solusinya.

Mari kita bicara Indonesia.
Terletak di 95 derajat bujur timur sampai 141 derajat bujur timur 6 derajat lintang utara sampai 11 derajat lintang selatan, Indonesia merupakan Negara kepulauan paling barat pulau “We”, paling timur “Papua”, paling utara “Miangas”, paling selatan “Rote”.

Garuda menjadi lambang Negara, memiliki sayap sebanyak 17 bulu disetiap sisi, sedang bulu di ekor berjumlah 8, dan bulu disekitar leher berjumlah 45 melambangkan tanggal kemerdekaan resmi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Indonesia juga berjuluk dengan sebutan “nusantara” yang secara etimologi tersusun dari dua kata, ”nusa” dan ”antara”. Jika dikupas dari kata per kata, kata ”nusa” dalam bahasa Sanskerta berarti pulau atau kepulauan. Sedangkan dalam bahasa Latin, kata ”nusa” berasal dari dari kata nesos yang berarti semenanjung, bahkan suatu bangsa. Maka kata ”nusa” juga mempunyai kesamaan arti dengan kata nation dalam bahasa Inggris yang berarti bangsa. Dari sini bisa ditafsirkan bahwa kata ”nusa” dapat memiliki dua arti, yaitu kepulauan dan bangsa.

Kata kedua yaitu ”antara” memiliki padanan dalam bahasa Latin, in dan terra yang berarti antara atau dalam suatu kelompok. ”Antara” juga mempunyai makna yang sama dengan kata inter dalam bahasa Inggris yang berarti antar (antara) dan relasi. Sedangkan dalam bahasa Sanskerta, kata ”antara” dapat diartikan sebagai laut, seberang, atau luar (sebagaimana pemaknaan dalam Sumpah Palapa Patih Gadjah Mada di Kerajaan Majapahit). Dari sini bisa ditafsirkan bahwa kata ”antara” mempunyai makna, yaitu antar (antara), relasi, seberang, dan laut.

Dari penjabaran di atas, penggabungan kata ”nusa” dan ”antara” menjadi kata ”nusantara” dapat diartikan sebagai kepulauan yang dipisahkan oleh laut atau bangsa-bangsa yang dipisahkan oleh laut.

Arti dari pernyataan pertama dapat merujuk pada keseluruhan wilayah di dunia. Sedangkan pernyataan kedua dapat berarti bangsa-bangsa (yang kini telah bersulih menjadi negara-negara) di seluruh dunia. Pernyataan kedua juga dapat dikembangkan lagi, yaitu kata ”nusantara” mempunyai persamaan dengan kata ”internasional” (international) yang jika dikupas dari kata per kata menjadi inter atau antara atau laut dan nation atau bangsa. Sehingga kata ”internasional” (international) dapat bermakna bangsa-bangsa yang terpisah oleh laut atau dapat pula berarti relasi antara bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Namun layaknya manusia, selain kelebihan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau disingkat NKRI memiliki kekurangan pula Dari 1001 cerita tentang kelemahan Indonesia, kita harus tahu bahwa ada 1002 alasan mengapa kita harus bangga akan Negara Indonesia.

Dibalik maraknya kasus korupsi, bunuh diri, degradasi moral, dan tindak negatif lain, tentunya hal tersebut bukan hanya untuk direnungi semata. Kekurangan itu bukan untuk difikirkan, tapi untuk dicarikan solusinya. Kekurangan itu bukan untuk difikirkan oleh kita yang tidak memiliki “power” atau kekuasaan, tapi itu urusan mereka para wakil rakyat yang kita pun turut andil memprakarsai naiknya mereka di kursi panas Senayan sana.

Hal yang harus kita lakukan sebagai rakyat biasa, diawali dengan membanggakan dan mengingat hal-hal positif akan Indonesia, bagaimana kemerdekaan itu bisa diraih, heterogenitas masyarakat dengan puluhan suku bangsa, bahasa, dan kebudayaannya, prestasi yang pernah diraih oleh anak-anak bangsa di berbagai bidang seperti pendidikan, olahraga, dan lainnya.

Bila kita hanya terdiam dan terpaku akan kekurangan saja, maka kita takkan mengambil langkah untuk maju dan mencari solusinya.Jalan terbaik untuk mengurangi bahkan menghapus hal buruk adalah dengan berfikiran positif dan berfikir hal-hal baik tentang masalah kita.

Berikut bakal saya tulis mengenai hal; kenapa kamu, kita, mereka harus bangga akan Indonesia.

Pertama, Indonesia adalah negara yang merebut kemerdekaannya dengan perjuangan bangsanya sendiri, bukan atas hadiah dari penjajah. Lupakah kita dengan sejarah? Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang adalah bayaran mahal atas darah bahkan nyawa para pahlawan yang berjuang hanya dengan bambu runcing melawan para penjajah yang beralatkan baja. Senjata mereka mungkin sangat sederhana, namun mereka memiiki senjata tak terlihat yang luar biasa yaitu semangat nasionalisme, persatuan, keyakinan, optimisme untuk merdeka. Tidakkah kita bangga atas prestasi tak ternilai negeri kita?

Kedua, Indonesia merupakan negeri yang indah dan subur. Membentang dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari pulau besar dan kecil dengan kekeyaan alam yang luar biasa, baik hayati maupun non hayati dan keindahan yang begitu memukau seperti Bali, Wakatobi, Raja Ampat, dan masih banyak lagi.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keindahan alam yang sangat mempesona. Pesona keindahan alam Indonesia sudah menjadi buah bibir masyarakat dunia sejak dahulu, sehingga Indonesia menjadi tujuan wisata favorit masyarakat dunia. Pada 2012 saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 8 juta turis asing yang mengunjungi Indonesia.

Ketiga, Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa. Hal ini tentu saja sangat mengagumkan, karna jarang sekali ada negara yang memiliki ribuan suku bangsa seperti yang dimiliki oleh Indonesia.
Indonesia tidak hanya kaya akan hasil alam namun juga kaya akan budaya dengan ribuan suku, ras, tradisi, dan beberapa agama. Meski demikian Indonesia tetap hidup rukun, seperti semboyannya Bhinneka Tunggal Ika.

Keempat, Indonesia dikenal dengan masyarakatnya yang ramah dan santun. Contoh kecilnya, di negara-negara eropa mereka memanggil kakak atau abangnya dengan sebutan nama saja, sementara kita memanggil dengan sapaan kakak atau abang sebagai wujud penghormatan kepada yang lebih tua. Untuk hal berpakaian, sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengutamakan kesopanan dengan berpakaian yang menutup aurat. Mungkin karena keramahan dan kesopan inilah yang membuat banyak touris yang kerasan di Indonesia.

Kelima, Indonesia merupakan negeri yang cukup aman dimana kaum minoritas tidak merasa tertekan tinggal di negeri ini. Coba kita bandingkan dengan negara-negara lain yang sering bergejolak, seperti Mesir, dimana kaum minoritas tertindas. Di Indonesia kaum minoritas bisa dengan tenang melaksanakan ibadahnya selama itu tidak sesat dan mengganggu kepercayaan lain. Di negara dimana untuk beribadah seperti sholat saja harus sembunyi-sembunyi bahkan daerah yang mengesampingkan mereka yang berjilbab.

Keenam, meski Indonesia sering diremehkan di mata asing, kita tetap berusaha membuktikan kalau kita bisa walaupun dengan jatuh bangun. Kita bisa lihat bagaimana pemain Timnas berusaha sekuat mungkin untuk menang meski kadang mereka sadar mereka tidak sebanding dengan lawannya yang jauh lebih unggul. Untuk hasinya dapat kita lihat sepak bola Indonesia mulai berangsur-angsur bangkit meski dihadapi sekelumit masalah. Indonesia juga terkenal dengan diunggulkannya dalam olahraga badminton. Kita kenal siapa Rudy Hartono, Taufik Hidayat, Susi Susanti, Tomi Dwi Kurniawan, dan atlet lainnya.

Tidak hanya di bidang olahraga, aspek intelektual dan teknologi modern pun selalu ada nama yang berasal dari Indonesia, salah satunya adalah Arrival Dwi Sentosa, pelajar kelas 2 SMPN 48 Bandung, yang di claim sebagai pembuat antivirus Artav yang sekarang sudah didownload ribuan orang.

Kemudian Muhammad Yahya Harlan, siswa kelas 1 SMP Alam Bandung pembuat situs salingsapa.com. Lucu, jika sebagian orang masih buta tentang facebook, sedangkan anak ini sudah bikin sesuatu yang gak kalah dengan facebook.

Di zaman orde baru kita juga pernah membuktikan kepada dunia kita bisa menciptakan pesawat terbang dengan tipe N219 yang seluruhnya dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri, di bawah arahan B J Habibie. Cemoohan negara lain awalnya sempat diterima B J Habibie, namun akhirnya mereka mengakui kempuannya.

Lalu ada karya busana Dian Pelangi yang go internasional bahkan ratu Inggris menyukainya, Syamsi Ali yang bertugas sebagai staf Penhumas Perwakilan tetap RI untuk kantor PBB adalah Imam di Islamic Center of New York yang menjadi murabbi bagi warga dunia yang mengalami kegersangan spritual di New York. Selanjutnya ada Chris John, juara tinju dunia merupakan sedikit contoh prestasi anak bangsa di kancah Internasioanal dari sekian banyak lainya.

Jadi, masihkah kita gengsi untuk mengatakan "bangga menjadi bangsa Indonesia" dari begitu banyak  prestasi dan kebanggaan yang kita miliki? Cintailah Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita ini. Mengutip dari perkataan Prabowo; “Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi”.

Lantas, apakah kalian merasa cemburu?
Cemburu dengan prestasi yang dicatat orang Indonesia lain?
Yasudah, kita tidak akan membahas tentang itu, yang terpenting kamu, kita, mereka, dan semua orang Indonesia mulai sadar dan “ngeh” dengan keunggulan bangsa kita. Jangan difikirkan saja mengenai “kekurangan” bangsa kita. Nah, ini tugas kita kaum muda. Sebagai generasi penerus perjuangan founding father, sepatutnya kita harus memajukan bangsa kita dari berbagai aspek terutama permasalah moral bangsa.

Sekian tulisan dari saya. Semoga bermanfaat. Wassalam.
Bagi rekan yang mau copas, silahkan dengan syarat disertakan link dan author dari penulis. Hehe… Be a pair blogger. 

Bahan tulisan:
Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3

April 30, 2014

Reposisi Dalang & Wayang Golek Menghadapi Modernisasi
Wayang golek, kesenian Jawa Barat
Kesenian tradisi yang berasal dari Jawa Barat ini memang menjadi trendsetter tersendiri dikalangan masyarakat Pasundan. Walaupun berbahan dasar dari kayu - yang notabene benda mati - namun dalam setiap pementasannya benda tersebut seolah hidup.

Materi-materi dalam setiap pementasannya pun bernafaskan Islam, karena pada proses penciptaan kesenian tersebut sebagai media dakwah. Disini akan dibahas sedikit mengenai reposisi kesenian wayang golek di era modernisasi yang diambil dari situs resmi Giriharja 3. (link dibawah)



A. Sekilas Tentang Keberadaan Dalang dan Wayang

Menurut Sudarsono, tahun 1500 SM. adalah periode awal masa prasejarah pewayangan/pedalangan. Waktu itu nenek moyang kita sudah mengenal animisme dinamisme, artinya mereka percaya pada kekuatan gaib pada benda-benda seperti keris, jimat, dll.

Keberadaan dalang pada awalnya merupakan median (perantara) /tokoh yang menjembatani komunikasi antara orang yang masih hidup dengan roh-roh lelururnya, termasuk roh-roh pengganggu ketentraman manusia. Dari sinilah lahir tradisi “ngaruat” (upacara tolak bala) untuk menjaga agar manusia selalu aman dari gangguan roh-roh jahat yang mengganggu kehidupannya.

Sebagai alat untuk menyalurkan energi roh-roh halus tersebut, digunakanlah wayang yang berasal dari kata wa dan hyang, yang artinya tempat atau wadah bagi para leluhur. Di Jawa Tengah dikenal dengan Unduk (boneka kecil yang terbuat dari tanah atau logam) sedangkan di Bali dikenal dengan nama Pratima.

Perkembangan wayang di Jawa Barat cukup pesat, yang dapat kita kenali adalah wayang golek, wayang cepak atau wayang menak, dll. Dari sudut sastra, wayang golek adalah salah satu ragam karya sastra lisan di Jawa Barat, yang perkembangannya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, walaupun demikian wayang golek merupakan karya sastra lisan yang berkembang di Jawa Barat dan digemari oleh masyarakatnya. Selain itu wayang golek merupakan seni teater tradisional yang sudah cukup tua umurnya. Perkembangan wayang golek yang terus dialami sampai sekarang selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

Penampilan wayang golek didukung oleh berbagai seni, di antaranya seni tari, seni suara, seni musik, seni pahat yang diikat dalam satu kesatuan yang utuh menjadi karya seni drama trdisional.

Seperti halnya seni teater yang lain, wayang golek dikendalikan oleh sutradara yang tidak lain adalah dalang. Dalanglah pemberi jiwa atau ruh sehingga wayang golek bisa terlihat interaktif dan komunikatif. Di sinilah terlihat pergeseran fungsi dalang yang pada awalnya sebagai tokoh ritual supranatural beralih sebagai seorang sutradara dari sebuah pertunjukan.

Namun tetap menjadi catatan, bagi saudara-saudara kita di pedesaan tetap masih ada yang mempercayai bahwa dalang adalah tokoh ritual supranatural yang serba bisa yang bisa menjembatani alam sekarang dan alam masa lalu.

Dalam penampilannya wayang golek tidak didasari dengan adanya naskah atau skenario cerita yang akan ditampilkan. Jalan cerita seluruhnya merupakan kreatifitas dan improvisasi seorang dalang. Unsur yang paling khas pada wayang golek yaitu dalam menampilkan berbagai cerita selalu membawa misi pendidikan mengenai agama, filsafat kehidupan, dan hidup bermasyarakat (sosial).

Ada catatan yang menarik tentang dalang, Atja & Saleh Danasasmita, (1981) mengatakan bahwa hampir dapat dipastikan bahwa orang yang membawakan dongeng (juru cerita) itu adalah dalang.

Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yang ditulis tahun 1518 M, menyebutkan bahwa:
Hayang nyaho disakweh ning carita ma, geus ma: Darmajati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakerma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama, Bimasora, Ranggalawe, Boma, Sumana, Kala Purbaka, Jarini, Tantri; sing sawatek carita ma memen tanya”.
“Jika ingin tahu semua cerita, seperti : Darmajati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakerma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama, Bimasora, Ranggalawe, Boma, Sumana, Kala Purbaka, Jarini, Tantri; ya segala macam cerita, tanyalah dalang”.

Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Sunda mengenal kesenian wayang sudah cukup lama, seperti terbukti dengan disebutkannya beberapa judul cerita di atas.

B. Redefinisi Dalang

Dalam buku Tuntunan Praktek Pedalangan Wayang Golek Purwa Gaya Sunda, yang disusun oleh Yoyo Rismayan W. (1981 : 1-2) dikatakan :

1.    Dalang asal kata dari dalung/blencong/lampu = alat penerang. Dengan alasan demikian, maka fungsi dalang dalam masyarakat adalah sebagai juru penerangan, atau lebih tegasnya dalang adalah orang yang memberi penerangan dan bimbingan bagi masyarakat yang tingkatan sosialnya beraneka ragam.

2.    Dalang berasal dari kata : dal adalah kependekan dari kata ngudal = mengucapkan; dan lang kependekan dari kata piwulang = piwuruk = petuah/nasehat. Hal ini adalah mitologi rakyat. Dengan demikian dapat diartikan bahwa dalang adalah orang yang memberi nasehat/petuah. Di sini fungsi dalang adalah sebagai pendidik/pembimbing masyarakat atau guru masyarakat.

3.    Dalang berasal dari kata da = veda = pengetahuan dan lang = wulang. Dalang adalah pengetahuan mengajar, di sini dalang dapat diartikan sebagai guru masyarakat.

4.    Dalang berasal dari kata talang = alat penghubung untuk mengalirkan air. Dalam hal ini dalang bertugas sebagai penghubung/penyambung lidah, baik pesan dari pemerintah kepada masyarakat, maupun sebaliknya.

5.    Dalang adalah pemimpin, penyusun naskah, produser, juru cerita dan memainkan wayang. Pendapat ini dikemukakan oleh Claere Holt (seorang sarjana Barat) dalam bukunya : Art In Indonesia Continintees, and Change, 1960.

6.    Dalang adalah seniman pengembara, sebab apabila mengadakan pementasan tidak hanya di satu tempat, tapi berpindah-pindah. Menurut Drs. Sudarsono, pendapat ini dikemukakan oleh Hazou (seorang sarjana   Barat juga).

7.    Dalang berasal dari kata dal = dalil-dalil, dan lang = langgeng. Ini adalah pendapat seorang dalang kasepuhan dari Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon, yang bernama Dulah. Dengan demikian dapat diartikan bahwa dalang adalah seorang yang memberi dalil-dalil atau petuah-petuah/wejangan/wejangan selama hidupnya. Di sini fungsi dalang adalah sebagai pendidik/pembimbing masyarakat atau guru masyarakat.

8.    Dalang adalah seorang aktor/aktris yang memainkan pagelaran wayangnya menurut ilmu dan tata cara yang telah ditentukan. Definisi ini dikemukakan oleh Juju Sain Martadinata, Alm. (eks Guru Kokar / SMKI Bandung).

Victoria (1987 : 6) mengatakan bahwa dalang adalah tokoh utama dalam semua bentuk teater wayang. Dalang merupakan penutur kisah, penyanyi lagu, yang mengajak memahami suasana pada saat tertentu, dan di atas segalanya itu, ia merupakan pemberi jiwa pada boneka atau pelaku-pelaku manusianya itu. Jadi dalang adalah seseorang yang bersifat ilmu atau penerangan melalui media wayang, dalam penampilannya tersebut diatur secara keseluruhan oleh dirinya sendiri.

Jadi dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalang adalah tokoh pemimpin yang harus memberi nasihat, petuah, bimbingan, dan penerangan kepada masyarakat. Dalang adalah tokoh yang memberikan jiwa bagi apa saja yang akan ia mainkan, entah itu wayang atau boneka.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka penampilan wayang golek mempunyai arti yang cukup mendalam. Wayang golek bukanlah suatu hiburan pelepas lelah. Wayang golek bukan suatu karya seni yang bisa digarap oleh siapa saja. Wayang golek merupakan suatu karya seni yang bersifat membina dan mendidik.

C. Sebuah Catatan dari Pementasan Wayang Golek

Pada periode tahun 70-an untuk mencari hiburan oranglah yang harus mencari hiburan tersebut, ketika itu media hiburan seperti TV, VCD, DVD, masih sulit ditemui sehingga setiap ada upacara hajatan yang ada acara hiburannya selalu dipadati oleh penonton. Kondisi tersebut tidak berlaku lagi untuk masa sekarang. Media TV mengunjungi setiap rumah, baik itu di perkotaan ataupun di pedesaan, berbagai program pun disuguhkan sehingga bukan lagi orang yang mencari hiburan tetapi hiburanlah yang mencari massa. Hal tersebut dimanfaatkan pula oleh pelaku-pelaku bisnis yang profit orientid untuk mencari iklan.

Berbagai kepentingan pun muncul seiring kencangnya roda teknologi bergulir, hal-hal seperti itulah yang membuat seni tradisional semakin termarginalkan, kalah bersaing dengan TV, VCD, DVD, MP3, yang mungkin bagi generasi muda kini hal itu lebih praktis dan lebih menarik. Begitu juga dengan wayang golek, semakin hari semakin berkurang orang yang mengenalnya. Gejalanya bisa kita lihat dari beberapa contoh kasus dari semalam suntuk sebuah pertunjukan wayang golek umumnya didominasi oleh kaum tua. Kaum muda melihat pertunjukan hanya setengahnya. Bisakah kita bayangkan bagaimana kondisi wayang golek 10 - 20 tahun yang akan datang ?.

Banyak rombongan wayang golek yang sering tampil di media elektronik tetapi kurang mendapat sambutan yang hangat dari masyarakatnya yang notabene adalah masyarakat yang melahirkan seni tersebut. Berbagai faktor sering menjadi kambing hitam, seperti kurangnya pembinaan dari pemerintah, kurangnya dana pembinaan kurangnya daya dukung lingkungan dan masyarakat, termasuk masalah sumber daya manusia di kalangan pelaku seni wayang golek itu sendiri.

D. Reposisi Dalang dan Wayang Golek Menghadapi Kekinian

Akan sangat sedih bila 10 – 20 tahun mendatang wayang golek musnah oleh seleksi alam seperti halnya dinosaurus jaman purba. Akankah kita berdiam diri ? Beberapa hal yang dapat kita lakukan di antaranya adalah :

1. Kenali lingkungan kita dan masyarakat di dalamnya.
     
Dalam redefinisi dalang yang tadi diuraikan, fungsi dalang yang harus dijalankan adalah sebagai agent of change (agen perubahan). Dalam kehidupan sosial, dalang dan wayanggolek mempunyai misi sosial yang cukup berat, ia harus mampu menghadirkan perubahan-perubahan sosial yang membawa tatanan baru bagi masyarakat pendukungnya, artinya bagi dalang dan kesenian wayang golek harus peka terhadap keadaan sekitarnya.

2. Jalin kerjasama dengan pemerintah

3. Tidak apriori terhadap teknologi (ciri-ciri masyarakat modern adalah selalu mencoba hal-hal yang baru, artinya kesenian wayang golek harus mampu mengembangkan kreatifitas dan ide-ide yang baru).

4. Mengikuti perkembangan jaman dengan selalu membaca, mendengar, dan melihat situasi jaman.

Masih banyak faktor lain yang harus diperhatikan, namun pengalaman akan membuat hal tersebut menjadi berlainan pada masing-masing individu. Dari segi intern sebuah pementasan wayang golek, ada juga yang harus diperhatikan, yaitu :

1. FAKTOR PENAMPILAN

- Style personel menekankan pada performa personel, yang meliputi kerapihan berbusana dan sikap.
- Style property yaitu boneka/wayang yang akan dimainkan diusahakan dalam keadaan rapih dan indah, susunan serta kondisi alat musik/gamelan terlihat rapih.
- Style orator (dalang)
- Style pagelaran meliputi penataan suara dan cahaya yang baik.

2. FAKTOR KREATIFITAS

Kreatifitas sangat ditekankan dalam mendukung pagelaran wayang golek. Selain dalang (utama), wiyaga juga dituntut untuk terus melakukan proses kreatif, baik dalam pagelaran maupun di luar pagelaran. Hal ini penting untuk pengembangan inovasi baik dari cerita maupun musik. Seorang dalang yang kreatif, dalam sebuah pagelaran, ia akan terus mencari sesuatu hal yang baru untuk menambah wawasannya. Keuntungannya, wawasan dalang tersebut akan selalu bertambah dan sesuai dengan apresiasi yang terus berkembang di masyarakat, serta tidak akan kehilangan penggemar.

Wiyaga yang selalu melakukan proses kreatif akan membuat sebuah pagelaran menjadi semakin menarik. Hal ini terbukti pada beberapa lingkung seni yang terus melakukan inovasi musik, sehingga pagelaran yang ditampilkannya terasa indah dan meriah tanpa mengurangi makna dari pagelaran tersebut.

3. ISI CERITA

Dalang yang baik yaitu dalang yang memiliki kepekaan terhadap keinginan masyarakat. Dalam sebuah pagelaran wayang golek, faktor lakon cerita yang dibawakan sangat berpengaruh terhadap suksesnya pagelaran, maksudnya lakon yang dibawakan harus aktual dan relevan dengan kondisi yang sedang berkembang, sehingga penonton akan merasa diberi informasi oleh dalang. Yang harus dijaga yaitu panyampaian lakon cerita jangan sampai membuat penonton jenuh atau bertanya-tanya sehingga pesan yang akan disampaikan oleh dalang tidak dapat diserap oleh penonton. Hal lainnya yang harus diperhatikan dalam pagelaran wayang golek yaitu :

a. Komunikatif
Pada pelaksanaan pagelaran wayang golek, dalang harus senantiasa berkomunikasi dengan penonton, salah satunya yaitu melalui media tokoh wayang yang sedang diperankan. Maksud dari uraian di atas yaitu  untuk membangun suasana yang menghibur, menghindari kemonotonan, dan sebagai sarana komunikasi dua arah.

b. Dramatisasi
Seorang dalang harus menguasai lakon cerita. Hal ini untuk mendukung proses pengadegan pada alur cerita, meliputi :

- Pengaluran cerita
Maksudnya seorang dalang dituntut kreatif untuk mengatur serta menyusun alur cerita, sebagai contoh dalam sebuah lakon cerita yang sama bisa dibuat dengan alur yang berbeda, sehingga akan lebih variatif, atau dengan menampilkan alur flash back agar lebih terasa dramatis.

- Intonasi dan Artikulasi
Pada jaman sekarang alat-alat pendukung suara (sound system) sudah berkembang, tetapi faktor utamanya selain didukung oleh alat bantu yang memadai, juga kelantangan dan kejelasan dalang dalam mengucapkan kata-kata dalam penyampaian cerita. Intonasi dan artikulasi sangat berpengaruh terhadap dramatisasi lakon yang sedang dibawakan.

- Komedi/lawakan
Jika lakon cerita hanya dibawakan secara serius, maka sebuah pagelaran wayang golek akan terasa monoton dan terkesan kurang menghibur. Alangkah baiknya dalam membawakan cerita, diselingi dengan unsur komedi agar pagelaran wayang golek terasa segar. Seorang dalang yang baik tentunya selain menghibur dengan suasana serius, juga memberikan lawakan-lawakan segar yang tidak terlepas dari norma-norma masyarakat.

- Penyampaian Pesan
Sesuai dengan fungsi dan tujuan dari pagelaran wayang golek, serta fungsi dari dalang itu sendiri bahwa dalang adalah seorang pemberi nasehat, sebagai guru masyarakat, sebagai penghubung/penyambung lidah baik pesan dari pemerintah kepada masyarakat maupun sebaliknya, pemberi petuah/dalil/wejangan, sebagai pembimbing/pendidik masyarakat, sebagai juru penerang bagi masyarakat, maka pada sebuah pagelaran wayang golek unsur-unsur tersebut tidak bisa dilepaskan. Pada pelaksanaannya seorang dalang dalam menyampaikan cerita diselingi oleh dakwah-dakwah keagamaan yang tujuannya mengingatkan serta mengajak penonton untuk selalu bertakwa serta berbuat kebajikan. Selain itu dalam penyampaian cerita diselingi oleh pesan-pesan baik pesan sosial kemasyarakatan, maupun pesan kenegaraan. Pesan yang disampaikan bisa terjadi timbal balik, baik pesan dari pemerintah kepada masyarakat maupun aspirasi masyarakat kepada pemerintah yang disampaikan melalui pagelaran wayang golek.
Dalam penyampaian pesan ada yang patut diperhatikan, yaitu nilai dan norma yang berlaku di masyarakat (ingat pribahasa ciri sabumi cara sadesa).

Sebuah pagelaran wayang golek didukung oleh banyak personel pendukung. Oleh karena itu modal utama yang harus dimiliki yaitu skill, kedisiplinan, kekompakan, loyalitas, dan profesionalisme.  Jika hal tersebut telah tertanam pada individu-individu personel, maka sebuah pagelaran akan terlaksana sesuai dengan harapan.

E. Penutup

How to Win the heart an the mind audience adalah kata kunci untuk sebuah rombongan wayang golek untuk menghadapi tantangan jaman. Sumber

DAFTAR PUSTAKA
Popenoe, David. 1992. Sociology
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya Jakarta.
Djajakusumah, Gunawan, R. 1978. Pengenalan Wayang Golek Purwa di Jawa Barat. Bandung. Lembaga Kesenian Bandung.
Groenendael, Victoria M. Clara van. 1987. Dalang di Balik Wayang. Jakarta. Pustaka Utama Grafiti.
Ismunandar, R.M. 1985. Wayang Asal-Usul dan Jenisnya. Semarang. Dahara Prize.
Salmun, M.A. 1961. Padalangan. Jakarta.Dinas Penerbitan Balai Pustaka.

April 24, 2014

Kenapa Harus Kartini, Bukan Cut Nyak Dien atau Dewi Sartika?

Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).


Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia?

Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.
Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.

Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? — Apa karena Cut Nyak dibenci penjajah?— Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

*Peneliti INSISTS dan Kandidat Doktor Sejarah, Universitas Indonesia

October 4, 2013

Auratmu, nasibmu... (renungan untuk wanita muslimah)
Setiap kita pergi, kemanapun, kapanpun khususnya di Indonesia, kita sudah tak asing lagi dengan yang heterogenitas manusia. Pria dan wanita, keduanya selalu memadati visual kita dimanapun kita berada. Namun sadarkah kita, bahwa mayoritas dari mereka adalah pemeluk agama Islam? Indoensia adalah salah satu Negara yang penduduknya mayoritas Islam.

Dalam Islam, segala hal berbau duniawi itu bertumpu pada niatan ukhrowi. Artinya segala tindak tanduk manusia saat ini tidak lain dipersiapkan untuk masa depan kelak, bukan menginjak umur 40 sampai 50 tahunan, tapi hari dimana manusia akan dibangkitkan kembali setelah kematian. Ya, akhirat. Baik pria maupun wanita, pada dasarnya semua memiliki hak dan kewajiban yang sama, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Terkhusus untuk para (orang yang mengaku) muslimah di Indonesia, perkara “menutup aurat” adalah perintah yang sentral untuk dilakukan. Mengapa demikian, karena awal mula akhlaq wanita bisa dinilai baik (karimah) itu dimulai dari hijab yang ia kenakan. Sudah menjadi fenomena tersendiri yang asik untuk dibahas mengenai hijab ini, namun nampaknya masih sekedar hingar bingar dunia maya yang entah kemana akhirnya.

Mungkin sebagian orang bertanya, kenapa saya yang notabene lelaki ini menulis tentang kewajiban untuk perempuan? Jawabannya silahkan simpulkan sendiri setelah membacanya. Tulisan ini saya rangkum dari beberapa sumber di dunia maya, wawancara di dunia nyata, juga investigasi pengalaman pribadi. Oleh karena itu, kelak informasi, kritik, dan saran saya sangat nantikan.

Oke, kita lanjut…
Pernah suatu ketika, sekitar 2 tahun yang lalu dalam perjalanan dari Cianjur ke Jakarta untuk menghadiri satu acara, saya duduk di dalam bis dengan seorang wanita. Cantik. Namun wanginya itu loh, memabukkan. Saya langsung berfikir, parfum apa yang digunakan wanita ini sampai tercium menyengat sekali. Mending saya mencium bau ketek aja daripada terus merasakan aroma yang merusak syaraf penciuman ini, ya ampun. 

Selama perjalanan, saya tak sengaja melihat dia sedang memegang al-Quran sambil berkata pelan – yang mungkin dia sedang menghafal – subhanalloh ya, di bis masih saja ada yang sempat menghafal Quran. Saya terperangah dan malu melihatnya. Namun ada hal yang mengganjal pikiranku saat itu, ia tak berkerudung…!!

Beberapa saat kemudian, saya iseng-iseng Tanya wanita tersebut mengenai apa yang dibacanya. Dan tahukah kalian, bahwa saya sontak kaget dengan apa yang saya lihat pertama kali ia menghadap ke wajahku. Sesuatu yang berbinar menggantung di lehernya dan ternyata di kalungnya ada tanda salib.
Setelah melalui percakapan panjang, jarak Cianjur – Jakarta pun seperti dekat. Disanalah pertemuan dan perpisahan yang mengesankan bagiku.

Novi Andriyani Situmorang. Kalau gak salah itu namanya. Ia seorang Kristen. Umurnya saat itu (tahun 2011 sudah 24). Sebuah perasaan kaget ketika mendengar apa yang ia katakana bahwa ia adalah seorang katolik. Namun yang mengesankan adalah pengakuannya yang menyatakan bahwa Quran itu sebuah mukjizat yang memang benar-benar ciptaan tuhan, bukan buatan manusia.

Di salah satu percakapan, ia sangat menyayangkan dengan perilaku wanita muslim yang ada di Indonesia khususnya. Ia tahu bahwa dalam Islam telah diatur etika dalam bergaul yakni berhijab. Novi ini menceritakan dengan sangat asik dan santai mengenai wanita dan hijabnya.

Saking terkesimanya, saya langsung keceplosan dan bertanya, kenapa Novi ga coba aja pake kerudung? Dan ternyata Novi bukan ga mau, ia hanya masih takut akan ayahnya yang menjadi pendeta saat itu. Tapi ia pernah sekali-kali mencoba kerudung temannya dan menggunakannya walau hanya di kosan saja. Dan ia sangat menikmatinya.

Intinya, kalo orang kafir aja enjoy ama kerudung, lah kalian wanita muslim kenapa malah ga dipake? Kenapa kerudung hanya pas buat sholat aja??

Banyak dari wanita muslimah yang belum mau (atau tidak mau?!) menutup aurat dan beralasan: “Allah belum memberiku hidayah. Do’akan aku agar segera mendapat hidayah.” Ya ampun, statemen macam apa ini? Mereka telah TERPEROSOK ke dalam kesalahan yang NYATA.

Bagaimana engkau TAHU bahwa Allah belum memberimu hidayah? Emangnya kau pernah melihat ke dalam kitab yang tersembunyi (al-Lauhul Mahfuzh)? Bahwa dirimu telah ditulis sebagai orang yang belum atau tidak mendapatkan hidayah, dan dirimu telah tertulis sebagai orang yang celaka dan bakal masuk neraka? 

Terus, apakah engkau ingin mengatakan bahwa dirimu telah diberitahu oleh orang lain atau makhluk lain? Bahwa dirimu tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah? Lalu, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah?

Saya punya quiz, berapa skor kalian yang menggambarkan seberapa banyak dilihat para pria dalam sehari dengan penampakkan yang mempertontonkan aurat yang tak hanya rambut mu itu aja? Dengan SATU perintah Allah yang ENGGAN kau taati?
1.       Coba yang pertama, ketika kalian keluar rumah tanpa berjilbab, ada berapa orang yang bukan mahram yang lewat di depan rumahmu dan melihat dirimu “memamerkan” aurat?
2.       Ketika berada di jalan menuju ke pasar atau kemana pun tujuanmu, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram yang melihat dirimu “memamerkan” aurat? Gimana, sudah terhitung? Masih ada.
3.       Ketika berada di tempat tujuan, tempat kerja atau apapun tempat yang kau tuju, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram melihatmu “memamerkan” aurat?
4.       Demikian pula ketika menuju pulang ke rumahmu, ada berapa banyakkah orang yang melihat dirimu “memamerkan” aurat?

Maka cobalah kau jumlah, terhadap berapa banyak orangkah dirimu “mempertontonkan” aurat dalam sehari ini? Coba akumulasikan selama seminggu, sebulan, setahun. Dan sudah berapa lama kalian membuka aurat itu? Akumulasikan!! Lalu cobalah engkau membaca firman Allah Ta’ala berikut ini: “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Az Zalzalah:8)

Kalian para wanita, dengar. Dengan banyaknya kasus pelecehan terhadap wanita, itu tak hanya disebabkan niatan pelaku saja. Tapi ada kesempatan. Ya, kesempatan. Kesempatan yang kalian (wanita) buat dengan memamerkan aurat secara gratissss…. Saya sebagai lelaki protes lah! Namun tak ayal pula pria memiliki niatan jahat dengan apa yang ia lihat selama ini. Intinya kita tak saling menyalahkan, hanya saling mengingatkan.

Siapakah di antara teman-temanmu atau keluargamu yang dapat membelamu ketika dirimu sudah terbujur kaku di dalam kubur? Engkau menambah dosa dengan dosa, lalu dirimu mengharap tingkatan-tingkatan surga dan kemenangan seorang ahli ibadah. Apakah kau lupakan Rabb-mu saat Dia mengeluarkan Adam dari Surga menuju dunia hanya karena disebabkan satu dosa..??

Walaupun ia kafir, tapi menggunakan kerudung, maka tetap ia dalam keadaan kafir. Karena ia tidak beriman kepada Allah secara kaffah. Tapi, apabila kalian wanita (yang mengaku) muslimah, sudah meyakini bahwa Allah sang Khaliq, yang maha Sempurna, yang maha Tahu Segalanya, namun satu perintah ini saja – menutup aurat – sudah dengan mudah diabaikan. Ganjarannya diakhirat sudah tentu lebih besar, karena Allah telah kau KHIANATI.

Ketahuilah wahai saudariku…. Hidayah (petunjuk) ada dua macam, yaitu hidayatut taufiq dan hidayatul irsyad. Hidayatut Taufiq semata-mata datangnya dari Allah. Sebagaimana yang dimaksud dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya , dan Allah lebih mengetahui orang-orang YANG MAU menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56).

Sedangkan Hidayatul Irsyad hanya dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap orang yang berdakwah fillah, yang mengajak orang lain menuju kebaikan. Sebagaimana dalam firman-Nya: “…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy Syura: 52). Jenis hidayah yang ke dua ini (hidayatul irsyad), dimiliki oleh setiap orang yang berdakwah fillah, karena orang yang berdakwah fillah hanya memberikan sebuah KUNCI menuju jalan yang benar dan lurus kepada orang lain. Adapun akhir perkaranya, semua kembali kepada Allah. Sehingga, pada akhirnya Allah-lah saja yang menentukan seseorang mendapatkan hidayah dari-Nya (hidayatut taufiq), ataukah tidak. [Lihat kitab al Qaulul Mufid ‘ala Kitab at Tauhid (1/348-349)]

Apa sudah bisa dimengerti?? Oke, kita lanjut.

Yang menjadi masalah adalah, apakah seseorang yang sudah melihat datangnya hidayah mau menerima hidayah (petunjuk) tersebut ataukah dia LEBIH SENANG BERPALING menjauhi hidayah tersebut, lalu mengatakan, “Belum mendapat hidayah.” (?!)

Orang-orang yang telah “melihat” datangnya hidayah tetapi TIDAK MAU mengikutinya, maka pada hakikatnya adalah orang-orang yang LEBIH MENYUKAI kesesatan daripada hidayah (petunjuk). Hal ini telah digambarkan oleh Allah Ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu..” (Al Fushshilat: 17).

Simpelnya, kalau kita sudah tahu bahwa computer itu bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, lalu lantas pantaskah bila kita menggunakan computer itu untuk tidur? Bisa saja kita menggunakan CPU sebagai bantal, LED nya sebagai selimut, dan pabrikannya pun tak akan protes karena kita telah memiliki barang mereka dengan membelinya.

Begitupun dalam Islam. Bila kalian sudah diberitahukan mengenai kewajiban berjilbab, lantas tidak digunakan (dilakukan), maka siap-siaplah dengan konsekuensi yang diterima. Karena kalian telah membiasakan diri dalam kesesatan, seperti sesatnya menggunakan computer sebagai alat tidur.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (Al-Baqarah: 196)

Allah Ta’ala berfirman: “Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Qashash: 50).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (An Nisaa’: 27) Wallahua'lam. Semoga Bermanfaat ...