June 23, 2015

Tahniyah (ucapan selamat) pada Dua 'Ied
Selamat pagi kawan blogger semua. Setelah sekian lama tidak posting artikel, kini saya ingin sharing tulisan Amin Saefullah Muchtar tentang Tahniyah (ucapan selamat) pada Dua 'Ied. Karena saat ini kita sudah memasuki bulan Mulia, Ramadhan 1436 H. yang notabene akan lanjut ke tahap Iedul Fithri. Dan perlu sekali dibahas tentang ungkapan apa yang menjadi sunnah ketika 'iedain (dua 'ied, 'iedul fithri dan 'iedul adha) itu berlangsung. Yuk kita simak artikelnya.

Pengertian Tahniyah
Secara bahasa tahniyah (التَّهْنِئَةُ) sebalik dari ta’ziyah (التَّعْزِيَةُ). Maksudnya tahniyah artinya ucapan selamat, sedangkan ta’ziyah artinya ucapan bela sungkawa (berduka cita). Lihat, Mu’jam Maqayis al-Lughah, VI:68

Adapun secara istilah, makna tahniyah secara umum tidak berbeda dengan makna bahasa, namun dilihat dari konteks peristiwa istilah tahniyah memiliki beberapa makna spesifik (khusus). Seperti tabrik (mendoakan berkah), tabsyir (memberi kabar baik), tarfiah (ucapan selamat nikah), dan lain-lain.

Hukum Tahniyah Secara Umum
Secara umum hukum tahniyah adalah mustahab (sunat), karena
(1)   Tahniyah merupakan perpaduan antara tabrik dan doa dari seorang muslim kepada sesama muslim lainnya atas perkara yang menggembirakan dan disenanginya.
(2)   Pada tahniyah terdapat mawaaddah (saling mencintai), tarahum (saling mengasihi), dan ta’athuf (saling menaruh simpati) di antara kaum muslim.

Anjuran umum menyampaikan tahniyah kepada sesama muslim ketika mendapatkan kenikmatan diungkap didalam Alquran:
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
(Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan", Q.s. Thur:19

Sedangkan dalam hadis diperoleh dari beberapa peristiwa, antara lain
عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : أُنْزِلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : {إِنَّا فَتَحْنَا لَك فَتْحًا مُبِينًا} إِلَى آخِرِ الآيَةِ ، مَرْجِعَهُ مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ ، وَأَصْحَابُهُ مُخَالِطُو الْحُزْنِ وَالْكَآبَةِ ، قَالَ : نَزَلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا جَمِيعًا ، فَلَمَّا تَلاَهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : هَنِيئًا مَرِيئًا ، قَدْ بَيَّنَ اللَّهُ مَا يُفْعَلُ بِكَ ، فَمَاذَا يُفْعَلُ بِنَا ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ الآيَةَ الَّتِي بَعْدَهَا : {لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ} حَتَّى خَتَمَ الآيَةَ.
Dari Anas, ia berkata, “Telah diturunkan ayat Inna fatahnaa laka fathan mubinan (al-Fath:1) kepada rasul ketika kembali dari Hudaibiyah, dan para sahabatnya larut dalam kesedihan. Beliau bersabda, ‘Telah turun ayat kepadaku yang lebih aku cintai daripada dunia dan seluruh isinya. Ketika Rasulullah saw. membacanya, seorang laki-laki dari kaum itu berkat, ‘selamat lagi baik akibatnya, sungguh Allah telah menjelaskan apa yang akan diperbuat-Nya kepada Anda, apa yang akan diperbuat kepada kami? Maka Allah menurunkan ayat setelahnya: liyudkhilal mu’minina…hingga akhir ayat’. (H.r. Ahmad, al-Musnad, III:252, No. 13.664, Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, VII:408, No. 36.937, Ibnu Hiban, Shahih Ibn Hiban, II:93, No. 371, Abu Ya’la, al-Musnad, V:385, No. hadis 3045)

Demikian pula peristiwa Ka’ab bin Malik yang tertinggal dari perang Tabuk, yaitu ketika Allah swt menurunkan beberapa ayat di akhir-akhir surat At-Taubah tentang diterimanya taubat Ka’ab bin Malik bersama dua orang kawannya, Rasulullah saw. dan para shahabat segera memberi kabar gembira kepada Ka’ab bin Malik dan mereka (para shahabat) mengucapkan selamat kepadanya. (H.r. al-Bukhari dan Muslim dalam hadis yang panjang tentang kisah Ka’ab bin Malik yang tertinggal dari perang Tabuk).

Tahniyah Ied
Sebagaimana yang kita maklumi bahwa syariat Iedul Fitri dan Iedul Adha mulai diberlakukan tahun ke-2 H. Bila kita hitung sejak saat itu hingga akhir hayat Nabi tinggal di Madinah, berarti beliau sempat melaksanakan syariat Iedul Fitri dan Iedul Adha sebanyak sembilan kali. Iedul Fitri perdana, hari Senin, 1 Syawal 2 H/26 Maret 624 M. sedangkan iedul Fitri terakhir hari Senin, 1 Syawal 10 H/30 Desember 631 M.

Meskipun demikian, secara periwayatan tentang doa tahniyah ied, dari kesembilan kali ied itu, kami hanya menemukan satu riwayat yang menerangkan bentuk doa khusus yang katanya diucapkan oleh Rasulullah saw. ketika bertemu dengan sahabatnya di saat ied. Watsilah bin al-Asqa’ berkata:
لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ الله ُ مِنَّا وَمِنْكَ. فَقَالَ : نَعَمْ تَقَبَّلَ الله مِنَّا وَمِنْكَ
“Aku bertemu dengan Rasulullah saw. pada waktu Ied, aku mengucapkan: taqabbalallah minnaa waminka (Mudah-mudahan Allah menerima ibadah kami dan anda). Beliau menjawab,' Ya, taqabbalallah minnaa waminka (mudah-mudahan Allah menerima ibadah kami dan anda)”. (H.r. al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, III:319, No. hadis 6088, dan Ibnu Adi (al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal, VI:271) dengan redaksi:
يَا رَسُوْلَ اللهِ تَقَبَّلَ الله ُ مِنَّا وَمِنْكَ ، قَالَ : نَعَمْ تَقَبَّلَ الله مِنَّا وَمِنْكَ
“Wahai Rasulullah, taqabbalallah minnaa waminka (Mudah-mudahan Allah menerima ibadah kami dan anda). Beliau menjawab, 'Ya, taqabbalallah minnaa waminka (mudah-mudahan Allah menerima ibadah kami dan anda)”

Kedua redaksi di atas diriwayatkan melalui Muhamad bin Ibrahim asy-Syami, dari Baqiyyah bin al-Walid, dari Tsaur, dari Khalid bin Ma’dan, dari Watsilah bin al-Asqa.

Namun hadis ini daif, bahkan maudhu’ (palsu), karena diriwayatkan oleh seorang pemalsu hadis bernama Muhamad bin Ibrahim asy-Syami. Kata Ibnu Adi, “Dan ini adalah munkar, saya tidak mengetahui yang meriwayatkan hadis itu dari Baqiyyah selain Muhamad bin Ibrahim ini” (al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal, VI:271). Kata Ibnu Hiban, “Muhamad bin Ibrahim asy-Syami Abu Abdullah seorang kakek, dia berkeliling/tinggal di Irak dan bertetangga dengan ‘abadan, dia memalsu hadis atas nama orang-orang Syam. Tentang dia telah dikabarkan kepada kami oleh Abu Ya’la, al-Hasan bin Sufyan, dan lain-lain: Tidak halal periwayatan darinya kecuali sekedar I’tibar (penelitian). Kata ad-Daraquthni, ‘Dia pendusta’. Kata Abu Nu’aim, “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari al-Walid bin Muslim, Syu’aib bin Ishaq, Baqiyyah, dan Suwaid bin Abdul Aziz’. Kata Ibnu ‘Adi, ‘Munkar al-Hadits dan seluruh hadis-hadisnya tidak terpelihara’.” Al-Majruhin, II:301

Dengan demikian, dapat diyakini bahwa tidak ditemukan satu bentuk doa khusus yang diucapkan oleh Rasulullah saw. ketika bertemu dengan para sahabatnya di saat ied.

Demikian pula riwayat yang menyatakan sebaliknya, yaitu saling mengucapkan doa taqabbalallah minnaa waminkum pada hari raya itu adalah perbuatan ahli kitab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (as-Sunan al-Kubra, III:319, No. hadis 6091), Ibnul Jauzi (al-Ilal al-Mutanahiyah, II:548), Ibnu Asakir (Tarikh Dimasyqa, XXXIV:97-98), melalui Nu’aim bin Hammad, dari Abdul Khaliq bin Zaid, dari Makhul, dari Ubadah bin as-Shamith, statusnya daif pula karena tiga sebab:

Pertama, rawi Ni’aim bin Hamad. Kata Ibnu Hajar, “Dia shaduq, banyak keliru” Tahdzib at-Tahdzib, X:462)
Kedua, rawi Abdul Khaliq bin Zaid bin Waqid ad-Dimasyqi. Kata Imam al-Bukhari, “Munkarul Hadits” as-Sunan al-Kubra, III:320)
Ketiga, periwayatan Makhul dari Ubadah bin Shamith inqitha (terputus), karena Makhul tidak pernah menerima hadis dari Ubadah. Jami’ at-Tahshil fi Ahkam al-Marasil, hal. 285

Adapun periwayatan doa tahniyah ied yang kami dapati adalah sebagai perbuatan para sahabat, sebagaimana dijelaskan oleh Jubair bin Nufair:
 كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذاَ إِلْتَقَوْا يَوْمَ العِيدِ يَقُولُ بَعْضُهَا لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ. قَالَ الحاَفِظُ إِسْناَدُهُ حَسَنٌ.
Adalah para sahabat Rasulullah saw., apabila saling bertemu satu sama lain pada hari raya ied, berkata yang satu pada yang lainnya, Taqabbalallahu minna wa minkum. (Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan engkau). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan,
رَوَيْنَاهُ فِي الْمَحَامِلِيَاتِ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ
"Kami telah meriwayatkannya dalam al-mahamiliyat dengan sanad hasan." (Fathul Bari, II:446)

Keterangan:
Al-Mahamiliyat atau disebut juga al-ajzaa al-mahamiliyat dan Amali al-Mahamili, berisi riwayat orang-orang Baghdad dan Asbahan, karya Abu Abdullah al-Husen bin Ismail bin Muhamad al-Baghdadi al-Mahamili (w. 630 H). Lihat, Kasyf azh-Zunun, I:588

Dalam riwayat Abul Qasim al-Mustamli dengan redaksi
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Artinya: Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian” Hasyiah at-Thahawi ‘ala al-Maraqi, II:527.

Dalam riwayat lain diterangkan dari Shafwan bin Amr as-Saksaky berkata:
سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ بِسْرٍ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَائِذٍ وَجُبَيْرَ بْنَ نُفَيْرٍ وَخَالِدَ بْنَ مَعْدَانَ يُقَالُ لَهُمْ فِي أَيَّامِ الأَعْيَادِ : تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ, وَيَقُوْلُوْنَ ذَلِكَ لِغَيْرِهِمْ.
Aku mendengar Abdullah bin Bisr, Abdurahman bin 'Aidz, Jubair bin Nufair dan Khalid bin Ma'dan bahwa pada hari-hari ied dikatakan kepada mereka Taqabbalallahu minna waminkum, dan mereka pun mengucapkan seperti itu kepada yang lainnya.

Kata Imam as-Suyuthi, hadis ini diriwayatkan oleh al-Asbahani dalam at-Targhib wat Tarhib I:251. Lihat, Wushul al-Amani bi Ushul al-Tahani, hal. 66

Demikian pula diterangkan oleh Muhamad bin Ziyad, ia berkata:
كُنْتُ مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ  فَكَانُوْا إِذَا رَجَعُوْا مِنَ الْعِيْدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.
"Aku beserta Abu Umamah al-Bahili dan yang lainnya dari kalangan para sahabat Nabi Saw. mereka itu apabila pulang dari shalat Ied saling mengucapkan "Taqabbalallahu minna waminka". (H.r. Ibnu Aqil, al-Fathurrabbani, VI:157)

Sedangkan dalam riwayat Zahir bin Thahir dengan redaksi:
رَأَيْتُ أَبَا أُمَامَةَ البَاهِلِيّ يَقُوْلُ فِي الْعِيْدِ لأَصْحَابِهِ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Aku melihat Abu Umamah al-Bahili di hari ied berkata pada para sahabatnya "Taqabbalallahu minna waminkum". (Wushul al-Amani bi Ushul al-Tahani, hal. 66)

Amal para sahabat itu diteladani oleh para tabi’in, antara lain sebagai berikut:
Syu'bah bin al-Hajjaj (w. 160 H) berkata:
لَقَيْتُ يُوْنُسَ بْنَ عُبَيْدٍ فَقُلْتُ : تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ فَقَالَ لِي مِثْلَهُ.
Aku bertemu dengan Yunus bin Ubaid (w. 139 H) lalu aku berkata, "Taqabbalallahu minna waminka", maka dia pun berkata seperti itu kepadaku. (H.r. at-Thabrani, Wushul al-Amani bi Ushul al-Tahani, hal. 66)

Dari berbagai keterangan di atas dapat diambil kesimpulan:
1. Pengamalan doa tahniyah, baik iedul Fithri maupun iedul Adha, berdasarkan amal sahabat
2. Pengamalan doa ini tidak hanya berlaku hari ied saja (hari itu saja)
3. Redaksi doa tahniyah adalah Taqabbalallahu minna wa minka atauTaqabbalallahu minna wa minkum. Sedangkan tambahan shiyamana wa shiyamakum tidak ditemukan periwayatannya.
4. Doa ini saling diucapkan antara satu dengan yang lain ketika bertemu, bukan sebagai jawaban. Sedangkan membalas doa ini dengan ucapan aamien tidak ditemukan riwayatnya

July 11, 2014

Segi-Segi Kehidupan K.H. E. Abdurrahman edisi 3 (tamat)
Salah satu karya K.H. E. Abdurrahman
Disarankan membaca artikel edisi sebelumnya disini, K.H. E. Abdurrahman edisi 1 dan K.H. E. Abdurrahman edisi 2.

Permasalahan intern organisasi pun dihadapi pada masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman ini, terutama setelah terjadinya G.30 S/PKI, karena adanya anggota-anggota yang diragukan itikad baiknya dalam organisasi Persis. Pengawasan ketat dilakukan karena Persis selain menghendaki dan mengutamakan kualitas pelaksanaan pengamalan ajaran agama yang berdasarkan ajaran Alquran dan Sunnah, juga menghendaki mengutamakan kualitas pelaksanaan disiplin organisasi yang berdasarkan Qanun Asasi, Qanun Dakhili, peraturan-peraturan, Tausyiah, dan seperangkat tata kerja yang berlaku dalam organisasi. Adapun kuantitas, tidak berarti diabaikan, melainkan sangat dikhawatirkan manakala jumlah yang banyak itu hanya menambah beban dan merupakan buih saja, tidak akan memberi manfaat sebagaimana yang diharapkan, bahkan sebaliknya akan mendatangkan madarat bagi keutuhan tegaknya jam'iyyah.

Pengawasan yang ketat inilah yang menjadi ciri dari masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman, hal ini dilatarbelakangi oleh adanya pemalsuan nama organisasi Persis untuk keuntungan pribadi yang mengatasnamakan organisasi. Selain itu putusnya hubungan antara Pusat Pimpinan Persis dengan cabang-cabang Persis yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi ini pun diakibatkan adanya peristiwa G. 30 S/PKI. Sebagai perbandingan, tahun 1964 terdapat 63 cabang dengan jumlah anggota 7.173, sedangkan pada 1967 turun menjadi 56 cabang dengan jumlah 4.455 anggota. (Lihat arsip Muktamar/muakhot Persis tanggal 16-18 Januari 1981, hal. 9). Hal ini menunjukan penurunan jumlah anggota Persis jika dibandingkan dengan jumlah cabang dan anggota pada tahun 1964 yang mempunyai jumlah cabang dengan hanya 56 cabang dan 4.455 orang anggota, dan pada tahun 1980 terdapat 81 cabang dengan jumlah anggota hanya 3.717 orang. Ini merupakan perbedaan yang mencolok antara jumlah cabang dan banyaknya anggota.

Dalam hal ini dapat difahami, karena yang menjadi dasar dari K.H.E. Abdurrahman sebagai Ketua Umum PP. Persis tentang keanggotaan Persis dijelaskan dalam khutbah Iftitah pada Muakhot Persis tanggal 16 Januari 1981, beliau menyatakan:

" ….Bila lahir pertanyaan, kenapa Persatuan Islam ini tidak ada kemajuan, hanya berputar-putar di sana; maka jawabnya, begitulah Persatuan Islam, yang senantiasa thawaf, berputar dalam lingkaran mardlatillah!
Meskipun anggota Persatuan ini anggotanya bisa dihitung dengan jari, tetapi pengaruhnya cukup besar; banyak ajaran Persatuan Islam yang sekarang dilakukan oleh mereka yang tidak akan mengaku bila dikatakan orang Persatuan Islam.

"…Maka terimalah segala apa yang telah kita rasakan, janganlah terlalu berangan lebih jauh; tetapi yang pokok bagi kita adalah meningkatkan kerja, untuk membina hari esok yang lebih baik, yakni hari esok di akherat. Sedangkan dari pembinaan hari esok untuk akhirat itulah akan tercipta pula hari esok dunia yang lebih cerah; perhatikan waktu yang tengah kita alami ini, sebab hari esok kita sangat tergantung dengan amal kita pada hari ini.

"….Maa'amilat aidihim liyakulu min tsamarihi", kita umat manusia hanya menanam, hanya Allah yang akan menumbuhkannya, dan kita akan memakan buahnya; hanya Allah yang akan menumbuhkannya, seperti diutusnya para rasul dan nabi, yang hanya menanamkan badratul iman, tetapi karena tumbuh disiram, maka wujudlah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, wujudlah Khalid bin Walid.

Karena itu, janganlah mengharapkan pekerjaan yang bukan garapan kita, membangun sekolah ini tidak cukup dengan tukang kayu, tetapi diperlukan tukang tembok; mereka menjadi saling pelengkap untuk menumbuhkan suatu bangunan, menciptakan suatu rumah, suatu sekolah, atau suatu bangunan megah.

Negara kita lengkapilah dengan suatu yang dibutuhkan, rakyat Indonesia di masa yang akan datang apa agamanya, tergantung dengan perjuangan apa kita sekarang; janganlah mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaan kita, keahlian kita, kita tidak mau untuk melakukan sesuatu yang bukan garapan kita!.

Semua itu jangan menyedihkan kita, menyusahkan kita, zaman sekarang perlu juga mubaligh, da'i, agar agama senantiasa berjalan sesuai dengan jalurnya!

Betul kita sedikit, tetapi pengaruh kita cukup kuat, hampir seluruh Indonesia terpengaruh dengan faham kita, meskipun mereka tidak mau dikatakan Persatuan Islam!

Kalau dahulu ditakdirkan Persatuan Islam tidak ada, wajah umat Islam di Indonesia tidak akan seperti ini; kalau kebiasaan khutbah Jumat tetap berbahasa Arab, tidak diubah, bagaimana keadaan umat Islam sekarang ini?

Kita tidak perlu menepuk dada, bukan maksud kita menepuk dada, tetapi kita menerangkan suatu kenyataan, seperti diterangkan dalam suatu ensiklopedi, bahwa Persatuan Islam itu adalah; "Jam'iyyatul Ittihad Islamy Mu'adadatun Shagiratun Kabirun Nufus". Artinya Persatuan Islam adalah yang tergolong kecil, tetapi memiliki pengaruh yang besar.

Kita harus sabar dan ikhlas dalam berjuang, sebab Rasulullah juga tidak langsung berhasil dalam perjuangannya, memerlukan waktu yang panjang!

Jika melihat aktivitas organisasi di masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman sejak tahun 1962 hingga 1983, menunjukan kecenderungan pada kegiatan-kegiatan sekitar tabligh dan pendidikan dari tingkat pusat hingga ke tingkat cabang. Hal ini tidak lepas dari langkah dan kebijakan yang diambil oleh K.H.E. Abdurrahman, sebab menurut Muhammad Natsir (Fauzi Nur Wahid, 1988:67) K.H.E. Abdurrahman lebih banyak mewarnai arah dan perjuangan Persis dengan tabligh-tabligh dan pengembangan lembaga-lembaga pendidikan (pesantren), sehingga Persis sebagai organisasi massa tidak memperlihatkan langkah perjuangan ke arah politik. K.H.E. Abdurrahman dalam memimpin organisasi Persis lebih memprioritaskan pada "organisasi agama"; sebab ia mengambil pola kepemimpinan ulama, bukan political leaders. Tamat.

Klik disini untuk mengetahui profil penulis Dadan Wildan Anas, M.Hum

July 10, 2014

Segi-Segi Kehidupan K.H. E. Abdurrahman edisi 2
Tokoh-tokoh Persatuan Islam
K.H. E. Abdurrahman dan Persis
Tulisan edisi sebelumnya bisa dilihat disini, KH. E. Abdurrahman edisi 1.

Atas kehendak Allah, suatu hal yang jarang terjadi di mana seorang ulama yang semula mempunyai pemahaman keagamaan tradisional kemudian beralih menjadi ulama yang berpegang teguh terhadap Quran dan Sunah dan menentang berbagai bid'ah, khurafat, dan takhayul. Hal ini dialami K.H.E. Abdurrahman.

Kisah yang disampaikan K.H. E. Sar'an yang berasal dari ustadz E. Sasmita sebagaimana yang dikutif Fauzi Nur Wahid (1988Sasmita sebagaimana yang dikutif Fauzi Nur Wahid (1988 : 15), cukup memberikan gambaran tentang bagaimana K.H.E. Abdurrahman berubah sikap dari sosok ulama tradisional menjadi sosok muajddid yang tangguh.

Berawal dari adanya pengajian yang diselenggarakan oleh Persatuan Islam di jalan Pangeran Sumedang yang dipimpin oleh A. Hassan. Dalam suatu kesempatan, A. Hassan membahas masalah haramnya tahlilan, talqin, marhaban, dan usholi yang disebutnya sebagai perbuatan bid'ah. Ustadz E. Sasmita salah seorang murid E. Abdurrahman yang mengetahui hal itu kemudian menyampaikan bahasan A. Hassan kepada kelompok pengajiannya di madrasah malam MPDI, dan masalah ini pun diketahui pula oleh guru kebanggaan mereka, ustadz E. Abdurrahman. Ustadz E. Abdurrahman dan masyarakat sekitarnya merasa tersinggung mendengar bahasan A. Hassan, karena merasa yakin dan faham yang dianutnya disinggung dan dihinakan, apalagi disebut perbuatan haram karena bid'ah.

Dengan keberaniannya, ustadz E. Abdurrahman beserta beberapa orang muridnya mendatangi pengajian Persis yang dipimpin oleh A. Hasan. Sejak itu terjadi perdebatan antara A. Hasan dengan E. Abdurrahman hingga berlangsung beberapa malam. Akhirnya ustadz E. Abdurrahman dapat menerima seluruh keterangan dan dalil-dalil yang dikemukakan A. Hasan. Sejak itu, ustadz E. Abdurrahman selalu hadir dalam setiap pengajian Persis di jalan Pangeran Sumedang, dan ia menjadi murid A. Hasan yang paling akrab dan taat mendampingi gurunya dalam berbagai kegiatan. Pada suatu waktu, di dalam pengajian yang disaksikan orang banyak, sambil mengelus kepala E. Abdurrahman, A. Hasan berkata, "Abdurrahman! Anta akan menjadi murid saya yang pintar dan akan melebihi anak kandung saya."

Mulai tahun 1934, ustadz E. Abdurrahman dilibatkan sebagai guru pada lembaga pendidikan Islam (Pendis) Persis yang dikelola oleh Muhammad Natsir. Dengan demikian, semakin dekatlah ustadz E. Abdurrahman dengan para ulama Persis beserta para anggotanya. Kedekatan dengan Persis ini harus dibayar mahal, ia diusir oleh Tuan Alkatiri yang masih berpandangan tradisional, dan dibebaskan sebagai pengajar di MPDI, juga dibebastugaskan sebagai khatib di Pakauman Bandung, bahkan dia pun diusir dari rumah milik Alkatiri yang ia tempati sejak lama. Mulai saat itulah, E. Abdurrahman mengalami perubahan dalam kehidupannya; yang tadinya hidup serba kecukupan karena menjadi anak emas Alkatiri, kehidupannya menjadi sangat prihatin. Namun, kesemuanya itu ia terima sebagai ujian dari Allah SWT. (Fauzi Nur Wahid, 1988: 16-17).

Sekitar tahun 1940, pesantren Persis untuk orang dewasa (pesantren besar) yang dikelola A. Hasan, bersamaan dengan kepindahan A. Hasan ke Bangil, sebagian santrinya pun ikut ke Bangil. Sementara pesantren kecil yang dipimpin oleh E. Abdurrahman terus mengembangkan diri di Bandung dan tetap berjalan hingga masa pendudukan Jepang. Pada saat revolusi fisik (1945 – 1949) pesantren Persis di bawah pimpinan E. Abdurrahman diungsikan ke Gunung Cupu, Ciamis. Baru setelah berakhirnya revolusi fisik, Pesantren Persis kembali lagi ke Bandung dan terus mengembangkan jenjang pendidikannya hingga tingkat mualimien.

Dalam aktivitas organisasi di jam'iyyah Persatuan Islam, ustadz E. Abdurrahman menunjukan sikap loyal dan ikut aktif sebagai anggota Persis sejak tahun 1934. jabatan dalam jam'iyyah yang pertama kali dipegangnya adalah ketua bagian tabligh dan pendidikan pada tahun 1952. Dalam tahun 1953 (pada Muktamar ke-5 di Bandung) ustadz E. Abdurrahman terpilih sebagai Sekretaris Umum PP. Persis mendampingin K.H.M. Isa Anshary sebagai Ketua Umum.

Pasca Muktamar Persis ke VII, pada tahun 1962 K.H..E. Abdurrahman terpilih sebagai ketua umum PP. Persis melalui referendum. Periode kepemimpinan K.H..E. Abdurrahman ini merupakan periode kepemimpinan Persis ketiga setelah berakhirnya kepemimpinan K.H..M. Isa Anshary. Periode kepemimpinan Persis ke tiga ini merupakan regenerasi kepemimpinan dari tokoh-tokoh generasi pertama Persis kepada eksponen Pemuda Persis yang merupakan organisasi otonom Persis tempat pembentukan kader-kader Persis. Tampilnya K.H..E. Abdurrahman, Eman Sar'an, Rusyad Nurdin, dan E. Bachrum yang merupakan mantan pimpinan pemuda Persis periode awal membuktikan adanya pewarisan tongkat estafet kepemimpinan kepada kelompok muda dari organisasi bagian otonom Persis.

Berbagai persoalan mulai muncul pada masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman. Namun masalah yang paling mendasar adalah bagaimana mempertahankan eksistensu Persis di tengah gejolak sosial politik yang tidak menentu. Jihad perjuangan Persis dihadapkan pada masalah-masalah politik yang beragam. Pembubaran partai Masyumi oleh Soekarno karena dianggap kontra revolusi, dan lepasnya Persis sebagai anggota istimewa Masyumi, serta ancaman akan dibubarkannya Persis oleh pemerintah Orde Lama karena tidak memasukan Nasakom dalam Qanun Asasi Persis, sampai pada meletusnya G.30 S/PKI merupakan masalah-masalah politis yang dihadapi pada masa awal kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman.

Bagaimanapun, pergeseran besar telah terjadi dalam kegiatan politik Indonesia sejak. Apalagi dengan tersingkirnya kelompok-kelompok sayap kiri yang terpenting karena dilarangnya PKI dan dilenyapkannya kepemmpinan sayap kiri PKI di dalam PNI. Dengan demikian harapan baru pun mulai timbul di kalangan Islam. "Perbenturan kekuatan" telah sirna dan berakhir dengan kemenangan suatu format politik baru, dan ini menunjukan awal perkembangan setelah tahun 1965 dalam babakan baru sejarah Indonesia; penindasan dan ancaman telah lenyap, surat kabar dan majalah diperkenankan terbit kembali. Pada tanggal 16 Desember 1965 dibentuk Badan Koordinasi Amal Muslimin yang mempersatukan 16 organisasi Islam yang ingin mengusahakan rehabilitasi Partai Masyumi.

Setelah Soekarno disisihkan dari kegiatan politik aktif ( sejak dikeluarkannya surat perintah 11 Maret 1966), para mantan pemimpin Masyumi mengharapkan bahwa Masyumi segera diizinkan kembali melakukan kegiatan, dan dengan anggapan merekalah yang menentang Demokrasi Terpimpin Soekarno. Namun, harapan baru itu menimbulkan kekecewaan baru. Sebab, sejak bulan Juni 1966 diumumkan suatu pernyataan perwira-perwira tentara yang terutama diarahkan terhadap Soekarno untuk mencegah kegiatan dan intriknya lebih lanjut. Akan tetapi pernyataan ini sekaligus menerangkan bahwa militer "akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun, dari pihak manapun, dan golongan apa pun yang menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945". Penyataan ini merupakan kecenderungan menduga para pemimpin Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI di tahun 1958 dan sebagai suatu alasan untuk menerapkan larangan itu. Beberapa orang percaya bahwa pemerintah tidak ingin menyaksikan Masyumi direhabilitasi karena adanya kecenderungan partai ini untuk membentuk partai Islam.

Lenyapnya Masyumi dari gelanggang politik menyebabkan terjadinya kekosongan tempat untuk menyalurkan aspirasi politik aliran Islam modernis seperti Muhammadiyah dan Persis. Itulah sebabnya pada tahun 1964 timbul keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan Partai Islam Indonesia (PII). Namun, karena semangat rehabilitasi Masyumi masih cukup besar pada waktu itu, maka usaha itu terbengkalai. Pada tahun 1967, juga terdengar berita bahwa Bung Hatta dan para alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bermaksud mendirikan partai pengganti Masyumi yang disebut "Partai Demokrasi Islam Indonesia" (PDII). Akan tetapi sebagaimana PII, PDII pun tidak kunjung terlaksana.

Setelah lahirnya Orde Baru, dengan anggapan bahwa di bawah kepemimpinan Soeharto akan lebih demokrat dibandingkan Soekarno, ide rahabilitasi Masyumi semakin besar. Namun usaha ini hanya mampu melahirkan "Partai Muslimin Indonesia" (PARMUSI) di bawah pimpinan Djarnawi Hadikusuma dan Lukman Harun sebagai sekretaris jenderal (1968-1970). Partai Muslimin Indonesia (semula disingkat PMI kemudian Parmusi) lahir pada tanggal 7 April 1967 yang dimaksudkan sebagai kelanjutan Masyumi dengan nama lain. Pemerintah Orde Baru setuju, tetapi beberapa perwira tentara tertentu berkeberatan dengan keikutsertaan para mantan pemimpin Masyumi dalam partai tersebut. Pada tanggal 24 Oktober 1967 Muhammad Natsir memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepemimpinan partai tersebut.

Sikap Persis di bawah pimpinan K.H.E. Abdurrahman terhadap Parmusi menunjukan sikap yang kurang responsif, dan menolak untuk menjadi anggota Parmusi dengan alasan pimpinannya tidak dipilih oleh umat. Dalam masalah ini Pimpinan Pusat Persis sering menyampaikan pernyataan-pernyataan lisan maupun tulisan pada badan legislatif dan eksekutif, walaupun Persis merupakan organisasi non-politik.

Selain menghadapkan jihadnya kepada masalah-masalah politik, Persis menghadapi pula aliran-aliran yang menyesatkan umat Islam, diantaranya aliran pembaharu Isa Bugis, aliran Islam Jama'ah, Darul Hadist, Inakrus Sunnah, dan berbagai macam aliran yang sesat dan menyesatkan. Untuk menghadapi aliran-aliran sesat dan sesat ini, para Mubaligh Persis dan Mubalighat Persistri dan Jam'iyyatul Banaat (sekarang Pemudi Persis) terjun kedaerah-daerah secara rutin dengan melaksanakan tabligh keliling. Insya Allah bersambung...

July 9, 2014

Segi-Segi Kehidupan K.H. E. Abdurrahman edisi 1
K.H. E. Abdurrahman
Oleh: Dadan Wildan Anas, M.Hum.

Bagi sebagian kalangan, salah satu tokoh Persis ini memang jarang dibicarakan. Ya, K.H. E. Abdurrahman turut mengisi daftar nama salah satu tokoh besar organisasi Islam Persis (Persatuan Islam). Mari kita simak mengenai segi kehidupannya.

Menurut Fauzi Nurwahid dalam skripsinya yang berjudul K.H..E. Abdurrahman; Perannya dalam Organisasi Persatuan Islam (1988) K.H. E. Abdurrahman dilahirkan di Kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur pada hari Rabu 12 Juni 1912 (26 Jumadi Tsaniah 1330 H). Ia merupakan putera tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Ghazali, seorang penjahit pakaian, dan ibunya bernama Hafsah, seorang pengrajin batik.

Pada usia 7-8 tahun, E. Abdrurrahman telah hatam Alquran dan pada usia ini pula ia mulai meniti jenjang pendidikan dengan memasudi madrasah Nahdlatul Ulama Al-lanah Cianjur (1919-1926). Di madrasah inilah penguasaan bahasa Arab dan ilmu alatnya semakin mantap. Selesai menamatkan pelajaran di madrasah Al-lanah, E. Abdurrahman pergi ke Bandung atas permintaan Tuan Swarha (Hasan Wiratmana) untuk mengajar di madrasah Nahdlatul Ulama Al-lanah Bandung (1928 – 1930). Sekitar tahun 1930, atas permintaan tuan Alkatiri, seorang tuan kaya di Bandung, ia diminta untuk memberikan bimbingan agama kepada putera-puteranya. Selain itu, Tuan Alkatiri pun mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI) di Gg. Ence Azis No. 12/10 Kebon Jati Bandung yang menyelenggarakan pendidikan agama bagi anak-anak pada pagi hari. E. Abdurrahman diberi tugas mengelola MPDI bersama-sama dengan sahabatnya O. Qomaruddin Saleh yang juga mengelola madrasah Al-Hikmah di Rancabali Padalarang.

Tahun 1933, E. Abdurrahman menikah dengan Komara dari keluarga Asyikin seorang ningrat Cianjur dan dikaruniai 13 orang anak; lima putera dan delapan puteri. Dalam perjalanan hidupnya, E. Abdurrahman telah melakukan perjalanan haji dua kali, tahun 1956 bersama-sama Isa Anshary, A. Hassan, Tamar Djaja, Emzita, dan Tamim beserta rombongan 40 orang, dan pada tahun 1981 membimbing jamaah haji Persis berjumlah 89 orang.

K.H. E. Abdurrahman dikenal sebagai seorang yang tawadhu, seorang ulama besar, ahli hukum, namun tidak ingin disanjung, sehingga tidak banyak dikenal umum. Ia sangat menghargai waktu, waktunya dihabiskan untuk menelaah kitab-kitab, mengajar di pesantren, dan hampir setiap malam mengisi berbagai pengajian.

Ulama besar ini, jika dilihat dari latar belakang pendidikannya hanyalah lulusan madrasah Al-Ianah Cianjur, namun kegigihannya dalam membuka cakrawala ilmu tidaklah terbatas pada jenjang pendidikan formal, ia mencoba memahami berbagai bahasa, khususnya bahasa Arab, Inggris, dan Belanda ia kuasai. Cakrawala keilmuwannya terbuka luas, dengan berlangganan surat kabar Sipatahoenan, Kompas, dan Pikiran Rakyat, juga surat kabar berbahasa Inggris "The Indonesia Observer", disamping selalu mendapat kiriman majalah-majalah berbahasa Arab dari Saudi Arabia dan Mesir. Keseriusannya menelaah kitab-kitab telah merupakan bagian kehidupannya. Perbendaharaan kitabnya yang begitu banyak dan keseriusan mengkajinya, merupakan faktor penunjang dalam membentuk dirinya sebagai ulama. Keahliannya meliputi berbagai bidang ilmu, antara lain teologi, syariah, ilmu tafsir, ilmu hadist, fiqih, ushul fiqh, dan ilmu hisab. Dengan ilmu yang dikuasainya, meski tidak pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, namun ia diangkat menjadi dosen UNISBA tahun 1959, dan tahun 1967 sebagai dosen FKIT IKIP Bandung.

Muhammad Natsir (Fauzi Nur Wahid, 1988:74), memberikan penilaian bahwa E. Abdurrahman mempunyai kelebihan dalam kecermatannya menetapkan hukum dari ijtihadnya, dengan landasan dalil yang selalu kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ulama seperti ini termasuk langka, bahkan jarang ditemui di luar negeri sekali pun.

Sosok E. Abdurrahman menunjukan orang yang sehat, bersih, dan selalu rapi dalam berpakaian. Apalagi jika akan selalu mengajar di pesantren, ia selalu tampil mengenakan celana panjang, berjas, dan berdasi. Hal ini ia lakukan bukan untuk disanjung dan menyombongkan diri, tetapi menghilangkan kesan yang mengatakan bahwa para ustadz di pesantren selalu berpakaian kotor, kumal dan jorok. Sikapnya senantiasa berhati-hati dalam berucap hingga tidak pernah menyakiti orang. Ia pun seorang penulis yang produktif, ia banyak menulis karangan lepas yang banyak tersebar di majalah-majalah, banyak menyusun bahan khutbah jumat, khutbah idul fitri dan idul adha. Buku-buku yang pernah disusunnya antara lain, Jihad dan Qital; Darul Islam; Ahlussunnah wal Jamaah; Dirasah Ilmu Hadis; Perbandingan Madzhab; Ahkamusyar'i; Risalah Jumat; Recik-Recik Dakwah; Sekitar Masalah Tarawih; Takbir dan Shalat Ied dilengkapi Khutbah Iedul Fitri; Hukum Kurban, Aqiqah dan Sembelihan; Petunjuk Praktis Ibadah Haji; Renungan Tarikh; Mernahkeun Hukum Dina Agama; Syiatul Aly; dan Risalah Wanita. Selain itu ia pun menulis dalam bentuk tanya jawab pada majalah Risalah dalam ruang Istifta.

Dalam perjuangannya di Persis menurut K.H.. Abdul Latief Muchtar, (1997: 12-13), K.H.. E. Abdurrahman sering berkata: "Kita harus mampu menghilangkan diri", hal ini mempunyai makna bahwa demi hidupnya pemikiran dan perjuangan untuk mempertahankan dan menegakan jam'iyyah perlu keikhlasan, berani melepaskan kepentingan pribadi untuk kepentingan jam'iyyah, dan tidak membanggakan diri terhadap jasa yang diberikan karena Allah. Dalam setiap tausiahnya, baliau selalu berkata, "Kita bukan pengikut dari generasi terdahulu, melainkan sebagai pelanjut." Hal ini mengandung makna bahwa pemikiran dan perjuangan Persis tidak taqlid, melainkan harus inovatif sesuai dengan perkembangan zaman dalam batas-batas kerangka Alquran dan Assunah. Sementara dalam metode dakwahnya, K.H.. E. Abdurrahman selalu menekankan bahwa, "Kita perlu mencari jelas, dan bukan mencari puas".

Pada hari Kamis, tanggal 21 April 1983, K.H..E. Abdurrahman meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena penyakit asma yang dideritanya. Insya Allah Bersambung...

April 2, 2014

Pesta Demokrasi 2014 menjadi ajang pertarungan Aqidah.
Pemilu tahun 2014 tinggal menghitung hari. Apakah Pesta Demokrasi 2014 menjadi ajang pertarungan Aqidah? Seluruh penduduk Indonesia yang sudah memiliki hak pilih tentunya jangan menyianyiakan momen akbar tersebut yang kelak menentukan nasib bangsa ini. Arah tujuan yang akan dibawa bangsa ini sangat bergantung pemimpin kita, para wakil rakyat yang melenggang di Senayan sana.

Peluit pertandingan (baca: kampanye) sudah dibunyikan, dan kini para pemain (partai) sudah mengatur banyak strategi demi memenangkan partainya yang mengusung calon wakil rakyat untuk menduduki kursi DPRD tingkat kabupaten sampai DPR-RI dan juga kursi Independen melalui DPD.

Namun sejatinya tidak hanya sekarang atribut partai marak menghiasi jalan dan tempat massal lain, beberapa waktu ke belakang sudah mulai mengkampanyekan partainya dan memasang janji-janji yang akan dilakukan bila berhasil memenangkan pertandingan itu. Tidak hanya janji, bahkan sampai tahapan perencanaan pembangunan pun dipasang supaya diketahui masyarakat secara luas.

Namun, apakah semuanya harus dipilih? Tentu tidak. Kita hanya diperbolehkan untuk memilih satu partai saja yang sesuai dengan kata hati maupun intruksi dari atasan. Karena apapun motifnya, yang dibutuhkan mereka (partai) tentunya adalah akumulasi suara pemilih.

Memang kekurangan dari sistem politik demokrasi adalah menyamaratakan suara personal. Suara ulama, kiayi akan selalu sama dengan (maaf) pelacur, dan pembunuh sekalipun. Tapi saya tidak akan membahas tentang sistem demokrasi, karena perlu pembahasan khusus dan panjang.

Oke, pembahasan utama dalam tulisan saya ini adalah tentang pertarungan aqidah yang dilancarkan para misionaris kafir yang ingin menyerang Islam melalui jalan parlementer. Momen pemilu adalah satu-satunya jalan bagi mereka (misionaris) agar bisa melenggang ke Senayan dan memulai langkah-langkah pergerakan penyesatan aqidahnya.

Sebagai orang yang mendukung partai Islam, tentu - selain menginginkan tegaknya syariat Islam di Indonesia - juga terdapat beberapa alasan yang menjadikan saya tertantang untuk menulis tulisan ini. Bukan untuk kampanye kemenangan suara saja, tapi demi kemenangan aqidah. Walau terbilang terlambat, tapi daripada tidak sama sekali?

Pertama, demi mengamankan aqidah Islam (Sunni, Ahlus Sunnah wal Jama'ah) di Indonesia, tentunya kita gusar dan geram melihat eksistensi aliran sesat yang melabelkan dirinya dengan Islam. Mereka mengaku Islam yang merupakan “firqoh” (organisasi) saja seperti Persatuan Islam, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dll. Padahal tidak demikian.

Banyaknya aliran sesat di Indonesia bukan hal baru bagi kita, tentu saja. Pemberitaan di berbagai media cetak atau elektronik selalu menjadi isu hangat yang mengisi tatanan media. Dimulai ajaran Al-Qiyadah yang pimpinannya, Musaddeq, pernah mengaku mendapat wahyu dan diutus sebagai nabi setelah Muhammad SAW. Sungguh dusta manusia itu.

Lanjut ke Lia Eden yang pernah mengaku sebagai malaikat. LDII, NII dan yang populer saat ini adalah Syi'ah. Adapun mengenai liberalis dari kelompok JIL, saya rasa itu bukan aliran (firqoh) dalam perspektif organisasi kemasyarakatan, tapi lebih kepada kelompok pemikiran radikal mengenai ajaran Islam. Tapi banyak kaum dari liberal ini yang pro akan eksistensi aliran sesat tadi dan membenarkan argumen bahwa aliran sesat tadi adalah buah kreatifitas dan pemikiran manusia akan Islam.

Kehadiran aliran sesat ini tidak serta merta tumbuh berkembang dengan mulus. Kasus penyerangan terhadap aliran syiah di Sampang, Madura tempo dulu menandakan masih sadarnya masyarakat Muslim akan kehadiran mereka yang meresahkan. Tapi tetap saja itu tidak dianjurkan. Islam tidak pernah mengajari untuk memerangi terlebih dahulu, tapi Islam mewajibkan untuk bertahan, lalu melawan.

Lantas, apa kaitannya dengan isu pemilu?
Pemilu 2014 ini menjadi titik tolak kebangkitan aliran sesat di Indonesia. Dari sini mereka memulai misi dalam tatanan aqidah di Indonesia dengan maksud melegalkan dan bersembunyi dibalik panji bhineka tunggal ika. Mereka sudah tahu bagaimana respon Muslim Indonesia bila mengetahui eksistensi alirannya. Maka dari itu mereka mengambil jalan legislatif (kekuasaan) sebagai proses legalitas ajarannya. Karena kita bisa memberikan pengaruh lebih baik dengan kekuasaan daripada tidak. Kita akan dengan mudah menyebarkan satu paham melalui bupati, daripada kita mengoptimalkan organisasi kemasyarakatan.

Maka dari itu, tujuan kedua saya adalah untuk mempublikasikan kepada khalayak, bahwa diluar sana terdapat orang-orang yang berbasis aliran sesat seperti syi’ah, LDII dan lainnya yang maju sebagai calon legislatif dari berbagai partai, TERMASUK PARTAI ISLAM.

Berikut ini caleg-caleg sesat JIL dan Syiah dari lintas partai yang meramaikan pemilu pada Pileg 2014.

  1. 1. Jalaluddin Rakhmat, dedengkot Syiah, Caleg dari PDI-P Calon Anggota Legislatif DPR RI, nomor urut 1 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II (Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat)
  2. 2. Zulfan Lindan, tokoh Syiah dari Partai Nasdem Calon anggota DPR RI, untuk Daerah Pemilihan Aceh II
  3. 3. Lestari Yuseno, (Istri dari tokoh Syiah Agus Abu Bakar Alhabsyi) Caleg DPR-RI dari Partai Demokrat dengan nomor urut 3 pada Pemilu 2014 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat VI (Kota Bekasi-Kota Depok).
  4. 4. Asri Rasjid, Caleg DPRD PKS Provinsi di daerah pemilihan SULUT 2
  5. 5. Muhsin Labib, tokoh syiah, caleg nomor urut 2 dari PAN untuk daerah pemilihan Jawa Timur IV (Jember dan Lumajang).
  6. 6. Abdurrahman Bima, tokoh Syiah, Anggota komisi VI DPR RI dan menjadi ketua kelompok komisi VI fraksi Partai Demokrat. Calon legislatif pemilu 2014 untuk Dapil Nusa Tenggara Barat.
  7. 7. Ulil Abshar Abdalla, (dedengkot JIL Liberal pendukung aliran sesat) dari Partai Demokrat Calon Anggota Legislatif DPR RI nomor urut 7 untuk Daerah Pemilihan Jawa Tengah III (Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan)
  8. 8. Zuhairi Misrawi, caleg dari PDIP. Ada apa dengan dia? Dalam status-status twitternya Zuhairi sering mengeluarkan statment-statment radikal dan ekstrimis dalam menyerang umat islam di Indonesia. Zuhairi sangat anti islam dan sangat membenci sistem islam apapun bentuknya. Bahkan dia pernah mengusulkan, jika PDIP berkuasa, ia menunjuk Jalaludin Rakhmat menjadi Menteri Agama RI. PARAH!
  9. 9. Yusnan Solihin, caleg syiah Partai Gerindra Daerah Pemilihan: Jawa Barat 1 ( Kota Bandung – Kota Cimahi )
  10. 10. Dedy Djamaluddin Malik, caleg dari PDIP dari daerah pemilihan Jawa Barat I (Kota Bandung dan Cimahi) pada nomor urut 2
  11. 11. Aceng Karimullah, caleg dari PAN dapil JABAR I (Kota Bandung & Kota Cimahi)
  12. Dan banyak lagi yang belum saya rangkum karena kekurangan materi dan referensi.

“Ya, saya tidak akan memilih mereka, tapi saya memilih partainya”.
“Aah, partai saya tidak ada caleg dari aliran sesat”.
“Itu kan dapil mereka, di dapil saya tidak ada caleg aliran sesat”.
“Bohong”.

Dan mungkin berbagai statemen lain yang akan dilancarkan orang yang tidak percaya dan tidak mau menerima. Saya analogikan begini:

Dapil Jawa Barat I (Kota Bandung & Kota Cimahi) terdapat satu orang yang saya kenal yakni H. Saepudin, S.Ag, M.Ag. Beliau adalah tokoh Persatuan Islam (PERSIS; Sunni), dan dalam partai yang sama, dapil yang sama, hanya berbeda no urut, ada sosok Aceng Karimullah, BE, SE, yang dikenal sebagai tokoh LDII. Entah strategi apa yang dipakai sehingga menempatkan kadernya bergandengan dengan seorang LDII. Ataukah karena ketidak tahuan (khilaf) semata?

Masih contoh, saya adalah pemilih PAN dan tinggal di dapil Jabar I. Walau saya tahu caleg sesat dan tidak memilihnya, belum tentu kita bisa menghindarkan si “sesat” tadi dari kursi parlemen. Karena sistem yang berlaku adalah mengakumulasikan suara berdasarkan peroleh suara terbanyak dari tiap calon. Contoh, untuk Jabar I minimal harus memperoleh 150.000 suara. Dari partai PAN, terdapat dua nama dengan perolehan suara terbanyak yakni H. Saepudin memperoleh 60.000 dan Aceng tadi memperoleh 60.001. Hanya berbeda satu suara. Sisanya – sekitar – 30.000 suara akan dilimpahkan otomatis ke Aceng. Maka yang akan maju adalah Aceng tadi, karena dia yang memperoleh suara terbanyak daripada calon lain.

Apa maksudnya? Ini berarti saya – SUNNI – TELAH AMBIL BAGIAN MENSUKSESKAN KAUM SESAT LIBERAL MASUK PARLEMEN.

Mengutip statemen sahabat saya, Ade Ipan Rustandi, "Saya lebih memilih konfrontatif secara pemikiran dan fisik dengan liberal, sesat, bahkan kafir selipun daripada harus bergandengan bersama yang pada akhirnya menguntungkan mereka (si “sesat”)".

Lalu, akan dikemanakan suara kita selanjutnya? Apa kita harus menjadi seorang golput saja? Mencari jalan aman?

Ini juga bukan kesimpulan yang benar. Karena dengan kita golput, justru akan menguntungkan mereka. Belum paham? Saya kasih analogi lain.

Sebelumnya kita harus tahu, bahwa si Sesat itu memiliki massa yang militan dan susah digoyahkan kecuali dengan hidayah Allah. Bila jumlah pemilih di Indonesia itu ada 100 juta dengan perbandingan suara 80% untuk partai bukan basis Islam, dan 20% berbasis Islam, jadi 80 juta suara akan masuk ke partai-partai seperti Demokrat, PDIP, Golkar, Hanura, Gerindra, Nasdem, dan PKPI. Sedangkan 20 juta masuk ke PBB, PAN, PPP, PKS, dan PKB. Ini asumsinya semua masyarakat Indonesia “nyoblos”.

Sedangkan bila jumlah golput itu ada 20% dari total pemilih, berarti perolehan suara untuk partai non basis Islam berubah menjadi 64 juta, dan 16 juta untuk partai basis Islam. Mending bila yang golput itu kebanyakan pemilih partai basis non-Islam, bagaimana bila suara golput itu berasal dari orang pemilih partai basis Islam? Semakin hancur suara partai basis Islam itu.

Jadi intinya, semakin banyak yang golput, maka akan semakin menguntungkan si “sesat” tadi. Bukan malah menjadi solusi, tapi menambah buruk keadaan dengan membuka jalan lebar bagi si “sesat” melenggang ke kursi Senayan dan mulai menyebarkan misi-misi terselubungnya, yakni mengajarkan pemahaman sesat.

“Wah ngeri ya? Tapi apa yang akan mereka (si “sesat”) lakukan bila terpilih menjadi anggota legislatif nanti?
Menurut sumber yang saya baca, (klik disini) salah satu caleg bila terpilih nanti, ia akan mengusulkan “dedengkot” Syiah di Indonesia, Jalaludin Rakhmat menjadi menteri agama. Ia beralasan, menteri agama itu harusnya orang yang mendukung paham pluralisme, sadar akan heterogenitas masyarakat Indonesia yang tidak hanya pada budaya, tapi juga pada pemahaman (baca: aliran dan ajaran). Relakah kita, Muslim, yang melenggang menjadi Menteri adalah tokoh Syiah? Na’udzubillah.

Kenapa harus Syiah? Bahayakah mereka bila berkuasa?
Untuk konteks Indonesia, nampaknya masih belum banyak yang saya ketahui tentang apa yang dilakukan mereka kecuali menyebarkan ajarannya secara sembunyi-sembunyi. Namun pada 26 Oktober 2013 di Jakarta lalu mereka menyelenggarakan perayaan Idul Ghadir yang dianggap sebagai hari raya baru umat Islam. Jelas ini paham sesat. Idul Ghadir sendiri merupakan perayaan KEBENCIAN besar-besaran kepada khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, istri-istri Nabi Muhammad. Padahal melalui surat edaran MUI tentang PENDAPAT DAN SARAN MUI TTG SEMINAR INTERNASIONAL AL-GHADIR OLEH IJABI no. B-473/MUI/X/2013 melarang keberadaan idul Ghadir tersebut yang dibalut dengan acara seminar. Ini mereka belum memiliki kekuasaan apa-apa dan masih satu perayaan. Belum lagi bila perayaan karbala, yang melukai diri sendiri dan anak-anak mereka, dan perayaan sesat lain akan mereka adakan.

Kasus lain, dedengkot Syiah, Jalaludin Rakhmat pernah memberikan statemen mengenai kasus berdarah sampang, Madura. Ia mengatakan, "orang-orang Syiah tidak akan membiarkan kekerasan ini. Karena untuk pengikut Syiah, mengucurkan darah bagi Imam Husein adalah sebuah kemuliaan,” Apa maksudnya? Jelas. Mereka berani menumpahkan darah demi menjaga agamanya. Ya, dari sini saya akan menuliskan syiah dengan agama baru! Bukan bagian dari ISLAM (firqoh).

Apalagi bila si dedengkot Syiah, Jalaludin Rakhmat, dan caleg lain itu berhasil maju ke kursi DPR, akan lebih marak lagi kasus-kasus seperti itu. Relakah kita?? Na’udzubillah.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
Pendapat saya, selain berdo’a memohon petunjuk Allah, maka kita harus cerdas dan selektif dalam memilah dan memilih partai mana yang akan kita sokong. Seperti yang saya tulis sebelumnya, JANGAN GOLPUT. Golput bukan solusi dan memecahkan masalah, tapi akan menambah masalah.

1. Bagi saya, partai Islam harus diutamakan. Teringat akan Masyumi pada pemilu 1955 yang saat itu dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah Indonesia, berhasil unggul dari partai Islam lain dengan perolehan 21% suara. Dengan berkuasanya partai Islam di Indonesia, maka kesejahteraan bukan teori lagi.

2. Pilih partai yang tidak terpengaruh dan dimasuki caleg aliran-aliran sesat.
Nampaknya tulisan saya diatas memberikan gambaran kecil mengenai sepak terjang aliran sesat di Indonesia yang mencoba bertarung di dunia politik lewat momen pemilu legislatif. Mengenai apa yang akan dilakukan ketika mereka menjabat nanti, saya juga tuliskan diatas.

3. Visi misi dan asas partai tersebut harus diperhatikan.
Walau terkesan teoritis dan terlalu formal, tapi visi misi dan asas dari suatu partai merupakan suatu gambaran umum mengenai partai tersebut.

4. Tokoh yang memang telah berprestasi mensejahterakan umat.
Mengenai penokohan ini, memang sulit mengukur dan menakar secara matematis. Juga factor geografis menjadi kendala penentuan prestasi satu tokoh. Namun dengan adanya media publikasi, seharusnya menjadi tolak ukur masyarakat Indonesia sebagai dasar memilih calon legislatif kelak. Jika kita tinggal di Bandung dan mendengar kabar bahwa di Cianjur dikeluarkan perbup (peraturan bupati) mengenai PERDA SYARI’AH, maka tokoh tegaknya Perda Syariah di Cianjur yang “nyaleg” di Bandung harus kita dukung, dengan dalih semoga dia juga menerapkan peraturan yang sama di Bandung. Begitupula dengan yang lainnya.

5. Kenali tokoh yang akan kita pilih.
Nampaknya para caleg kini (walau tidak semua) sudah mempublikasi profil mereka dan sepak terjang individu dalam menyejahterakan masyarakat walau lingkup RT saja. Banyaknya profil-profil itu menjadi rujukan kita – sebagai pemilih – untuk menentukan pilihan.

Masalah pilihan memang urusan pribadi dan rahasia, namun tidak salah bila saya yang memberikan gambaran kecil mengenai intrik-intrik aliran sesat tadi dalam tatanan politik Indonesia dalam tulisan ini. Selebihnya diserahkan masing-masing.

Saya sadar kapasitas saya sebagai “apa” dan “siapa”. Namun upaya memberikan informasi nampaknya tidak salah saya posting tentang Pesta Demokrasi 2014 menjadi ajang pertarungan Aqidah. Bila ada kritik dan saran akan sangat saya apresiasi demi perbaikan kedepan, karena kebenaran itu datang dari Allah sedangkan kesalahan merupakan kekurangan manusia. Terima kasih.

Sumber bacaan:
http://kesesatan-frih.blogspot.com/2013/04/kh-aceng-karimullah-adam-amrullah.html
http://muslimina.blogspot.com/2014/02/daftar-nama-caleg-aliran-sesat-tahun.html
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/02/27/29234/pks-partai-terbuka-caleg-syiah-yes-usung-syariat-islam-no/
http://www.dakwatuna.com/2014/02/23/46659/zuhairi-jika-pdip-berkuasa-tokoh-syiah-jadi-menteri-agama
http://www.gensyiah.com/idul-ghadir-adalah-bom-waktu-bagi-indonesiamengapa-diizinkan-foto-dan-video-penting.html
http://www.tempo.co/read/news/2012/08/29/173426259/Apa-Kata-Jalaludin-Rahmat-Soal-Sampang

November 7, 2013

Lalu, kau mau apa dengan waktu??
Tulisan ayahanda tentang Lalu, kau mau apa dengan waktu??

Mari kita berhenti sejenak dari segala aktivitas, dan berfikir merenung mengenai waktu.

Kita sepakat bahwa waktu terus berputar, takkan pernah kembali, dan tak bisa berhenti.

Ia terus berjalan sesuai sunnatullah, dan tak ada yang mengaturnya kecuali Allah. Kita (manusia) sebagaui mahluk-Nya, haruslah memohon dan berharap bahwa waktu di dunia ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Ini berarti sikap husnudzon dan menatap ke depan, harus menjadi panutan setiap muslim.

Jangan terpaku akan masa lalu. Lihat masa depan. Dan lakukan perubahan.
Kita tak bisa menjadi sholeh walau momenya pada lebaran sekalipun, bila melakukan maksiat.
Pula kita takkan menjadi kafir bila kita berlaku sholeh di momen natal (menurut kafir) sekalipun.

Waktu itu bukan momentum. Tapi sikap dan tindakan manusia yg harus ditanamkan demi mendapat kesempatan terbaik. Wallohu a'lam.

October 23, 2013

Semua indah pada waktunya, STOP gunakannya!!
Dimana-mana, mau di sms, telpon, facebook, twitter, statemen langsung, dimanapun tempatnya, seringkali kita dengar sebuah kalimat yang kesannya romantis dan penuh harapan, atau juga kalimat untuk menghibur diri yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan tepat pada waktunya. Mungkin kita sendiri-pun sering mengucapkannya.

Ya, kalimat itu tercantum dalam judul tulisan saya ini. Kalimat "Semua akan indah pada waktunya". Kenapa??

Dari salah satu sumber yang saya telah baca, bahwa kalimat tersebut merupakan kutipan dalam bibel, tepatnya dalam Pengkhotbah 3 ayat 11. Bunyinya:

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka..."

Bahkan kalimat "indah pada waktunya" menjadi syi'ar agama nashrani yang dinyanyikan dalam berbagai versi lagu rohaninya.

Ingat sabda Nabi SAW., "Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah yang ada pada umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya pula. Ketika para Sahabatnya bertanya, 'wahai Rasululloh, apakah mereka Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab, "Jika bukan mereka, siapa lagi?" (Muttafaqun'alaih)

Juga ada hadits yang menerangkan:

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". (HR. Abu Daud)

Maka dari itu, berhentilah memakai kalimat tersebut jika masih mengaku MUSLIM.

Bila kita belum mendapatkan sesuatu yang kita inginkan maka lebih baik katakan "Alhamdulillah 'Ala Kulli Haal" -segala puji bagi ﺍﻟﻠﻪ atas segala sesuatu, atau dengan menggunakan kalimat sesuai yang kita butuhkan yang tanpa mencantumkan kalimat persis sama dengan kutipan diatas.

Wallohu a'lam.

January 24, 2013

Kalimah cinta...
Manusia Lahir pastilah memiliki Cinta, karena cinta adalah fitrah yang di miliki manusia. namun terkadang cinta mampu membutakan manusia, hingga melupakan dunia dan seisinya. padahal kita tau dunia ini sangat luas. namun hanya atas dasar cinta yang sifatnya sesaat dunia yang indah ini berubah menjadi bencana.

1. Jangan tertarik kepada seseorang karena wajahnya tampak karena kecantikan dapat menyesatkan. Jangan juga tertarik pada kekayaannya karena kekayaan dapat dimusnahkan. Tertarik pada seseorang yang dapat membuat Anda tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah. Harap Anda menemukan seseorang seperti itu.


2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin menjemputnya dari alam mimpi dan memeluk mereka. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.

3. Mimpi apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi. Jadilah apa yang Anda inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin Anda lakukan.

kata kata hikmah tentang cinta

4. Harap Anda memiliki cukup kebahagiaan untuk membuat Anda baik, cukup cobaan untuk membuat Anda kuat, kesedihan yang cukup untuk membuat Anda manusia, cukup harapan untuk membuat Anda bahagia dan cukup uang untuk membeli semua kebutuhan Anda.

5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lain terbuka. Tapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang terbuka bagi kita.

6. teman terbaik adalah dia yang dapat duduk di ayunan beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan kemudian Anda ditinggalkan dengan perasaan memiliki percakapan yang panjang dengan dia.

7. Memang benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi juga benar bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

8. Lihatlah segala sesuatu melalui mata orang lain. Jika itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin bahwa orang lain juga terluka hari ini.

9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata kejam dapat menghancurkan kehidupan. Kata yang diucapkan pada tempatnya untuk meredakan ketegangan. Kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan memberkati.

Cerita Hikmah Cinta

10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.

11. Orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya membuat yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

12. Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.

13. Hanya diperlukan satu menit untuk menilai seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, namun butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang.

14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang telah menyentuh hidup mereka.

15. Cinta adalah ketika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih peduli padanya.

16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang berarti Anda hanya untuk menemukan pada akhirnya bahwa tidak pernah ada dan Anda harus membiarkan pergi.

17. Cinta dimulai dengan senyuman, tumbuh dengan ciuman dan berakhir dengan sebuah titik air mata.

18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap bahkan telah kecewa, bagi mereka yang masih percaya bahkan telah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai bahkan terluka.

19. Rasanya sakit untuk mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

20. masa depan cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Anda tidak dapat melanjutkan kehidupan yang baik jika Anda tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba, tidak pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika Anda masih tidak dapat melupakannya.

22. Memberikan semua cinta Anda kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan mencintai Anda kembali. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggu sampai tumbuh di dalam hati mereka, tetapi, jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.

23. Ada hal-hal yang Anda benar-benar ingin mendengar tetapi Anda tidak akan pernah mendengar dari orang-orang yang Anda harapkan untuk mengatakannya. Namun, jangan tuli mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

24. Ketika Anda lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekitar Anda tersenyum. Jalani kehidupan Anda sehingga ketika Anda meninggal, Anda tersenyum dan orang-orang di sekitar Anda adalah menangis.

KATA-KATA HIKMAH SAYIDINA ABU BAKAR :

1. Sesungguhnya seorang hamba itu bila merasa ujub kerana suatu perhiasan dunia, niscaya Allah akan murka kepadanya hingga dia melepaskan perhiasan itu.

2. Semoga aku menjadi pohon yang ditebang kemudian digunakan.

3. Dia berkata kepada para sahabat,"Sesungguhnya aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah org yg paling baik di kalangan kamu maka berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus maka ikutilah aku tetapi kalau aku menyeleweng maka betulkan aku!"


KATA-KATA HIKMAH SAYIDINA UMAR BIN KHATTAB :

1. Jika tidak karena takut dihisab, sesungguhnya aku akan perintahkan membawa seekor kambing, kemudian dipanggang untuk kami di depan pembakar roti.

2. Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.

3. Wahai Tuhan, janganlah Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad SAW di atas tanganku. Wahai Tuhanku, umurku telah lanjut dan kekuatanku telah lemah. Maka genggamkan (matikan) aku untukMu bukan untuk manusia.


KATA-KATA HIKMAH SAYIDINA ALI KARAMALLAHU WAJHAH :

1. Cukuplah bila aku merasa mulia karena Engkau sebagai Tuhan bagiku dan cukuplah bila aku bangga bahawa aku menjadi hamba bagiMu. Engkau bagiku sebagaimana yang aku cintai, maka berilah aku taufik
 sebagaimana yang Engkau cintai.

2. Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, kerana sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa. Bagaimanakah amalan itu hendak diterima?

3. Janganlah seseorang hamba itu mengharap selain kepada Tuhannya dan janganlah dia takut selain kepada dosanya.

4. Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.


KATA-KATA HIKMAH UMAR BIN AZIZ :

1. Orang yang bertakwa itu dikekang.

2. Sesungguhnya syubhat itu pada yang halal.

3. Kemaafan yang utama itu adalah ketika berkuasa.


KATA-KATA HIKMAH SUFFIAN AS THAURI :

1. Tidak ada ketaatan bagi kedua ibu-bapa pada perkara syubhat.

2. Sesungguhnya seorang lelaki itu berharta bila dia zuhud di dunia, dan sesungguhnya seorang itu adalah fakir bila dia gemar pada dunia.

3. Menuntut ilmu lebih utama daripada solat sunat."

dikumpulkan dari beberapa buku.... :)

December 14, 2012

Karakteristik Hamba Allah

Oleh ; Drs. H. Shiddiq Aminullah
          Dalam QS. Al-Furqan : 63-74 Allah swt menjelaskan tentang ciri-ciri hamba  yang dimuliakan Allah,  antara lain : Pertama, Rendah hati, tidak berlaku sombong, tidak karena kebetulan diberi kekayaan, kecantikan, kedudukan, atau kepandaian kemudian menolak kebenaran yang datang dari Allah dan menghina kepada orang lain. Ia sadar bahwa segala yang ia miliki hanyalah titipan dari Yang Maha Pengasih, ia juga sadar bahwa disamping kelebihan, banyak juga kekurangan dan kealfaan dalam dirinya .
          Kedua,  Selain melaksanakan shalat fardu yang lima, ia juga rajin melakukan shalat tahajud di malam hari, Satu amal ibadah sunat yang mendapat jaminan surga bernama “Maqoman Mahmudan “ ( QS. Bani Israil : 79 )  Saat orang lain terlelap tidur, ia bangun mendekatkan diri kepada Allah, berdo’a, dan beristighfar dengan khusyuk, pada dini hari, saat  besar harapan semua do’a dikabul Allah. Seperti dijelaskan oleh Nabi saw. :  “ Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, dan menghimbau : Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku saat ini akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku saat ini akan Aku ampuni, dan barangsiapa yang meminta sesuatu kepada-Ku saat ini akan Aku penuhi. “  HR. Al-Bukhari.

        Ketiga, Tidak boros dan tidak kikir. Ia taat melaksanakan kewajiban zakat, infaq , wakaf dan sedekah. Ia meyakini bahwa apa yang ia berikan kepada fakir  dan miskin atau fi sabilillah,  bukanlah untuk kepentingan orang lain tapi justru  untuk kebaikan dirinya, baik di dunia terutama di akhirat. Sudah menjadi kenyataan dalam kehidupan bahwa betapa orang yang pemurah dan ahli sedekah disayang orang, sebaliknya kebencian justru banyak dialamatkan kepada orang bakhil dan kikir. Belum lagi di akhirat kelak, harta yang diinfakkan dengan ikhlas akan menjadi benteng bagi dirinya dari siksa api neraka , dan harta yang dibakhilkan akan dikalungkan oleh Allah dari api neraka.  Ia juga tidak berlebihan dalam meninfakkan hartanya, sehingga membuat keluarganya miskin dan menderita. Nabi saw. menyatakan : “ Engkau meninggalkan ahli waritsmu dalam keadaan berkecukupan lebih baik dari pada engkau meningalkannya dalam keadaan miskin, dan hidupnya jadi beban orang lain “ HR. Muslim.
       Keempat, Menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa besar, seperti Syirik, yaitu menyukutukan Allah, baik rububiyyah maupun uluhiyyah,  termasuk di dalamnya riya, yang oleh Nabi saw. disebut sebagai “syirik kecil “ ,  beramal tidak ikhlas karena Allah, tapi mengharapkan pujian dari sesama manusia. Ia tidak pernah memohon pertolongan dan berdo’a kepada selain Allah.  Ia tidak Membunuh, karena membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah dan rasul-Nya adalah dosa besar.  Ia juga tidak melakukan zina, yang dalam hadits riwayat Imam At-Thabrani dinilai oleh Nabi sebagai dosa terbesar urutan kedua setelah dosa syirik.  Beliau bersabda :  “ Tidak ada dosa yang lebih besar setelah dosa syirik, kecuali dosa seorang lelaki menyimpan spermanya pada rahim wanita yang tidak halal baginya . “Ia juga tidak memberikan kesaksian palsu, karena disamping perbuatan itu hanya akan mencelakakan orang lain  dan dirinya juga merupakan perbuatan dosa.     
       Kelima, Jangankan perbuatan yang jelas-jelas dosa, hal-hal yang ia nilai tidak ada manfaatnya, ia hindari. Sebagaimana dinyatakan Nabi saw. : “Sebaik-baik muslim adalah orang yang bisa meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat“ ( HR. At-Tirmidzi ). Keenam, Ia terbuka untuk menerima nasihat dan teguran. Apalagi jika nasihat dan teguran itu bersumber dari ayat Allah atau hadits Nabi . Dalam ayat lain dijelaskan bahwa orang-orang yang akan diberi kebaikan oleh Allah, hatinya akan selalu terbuka untuk menerima nasihat, menerima ajaran Islam. Sebaliknya orang yang akan dibiarkan dalam kesesatan, setiap nasihat dirasakan menyesakkan hati dan hanya menyusahkan dirinya, menyinggung perasaannya.  Ketujuh, Ketika ia sadar telah terlibat perbuatan dosa, mengikuti ajakan hawa nafsu dan godaan syetan, ia segera bertaubat, dengan memohon ampunan Allah dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu. Ia yakin bahwa  sebesar apapun dosa yang dilakukan jika ia mau bertaubat taubatan nasuha Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun akan mengampuninya.
           Dengan sifat-sifat tersebut di atas insya Allah seseorang akan termasuk katagori “  Ibadur Rahman " Hamba Allah yang dimuliakan. Wallahua’alam.

October 9, 2012

Syiah di Indonesia Semakin Menggurita Aqidah

oleh: Tiar Anwar Bachtiar dan Yudi Rachman

Ternyata Indonesia telah menjadi sasaran empuk dan lahan subur bagi bagi tumbuh berkembangnya aliran-aliran yang menyatakan dirinya bagian dari Islam, namun tidak menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai rujukan ajarannya. Setelah sebelumnya kita disibukkan dengan berkembangnya aliran Ahmadiyah, Islam Liberal, dan yang lainnya, sekarang kita dibuat terkesima dengan 'keberanian' tampil kelompok ahlul bait. Nama samaran untuk kelompok yang berpaham Syiah. 

Seperti pada bulan lalu (2-4 April 2010), tanpa adanya publikasi yang meriah, mereka mengadakan acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ahlul Bait di Asrama Haji Pondok Gede. Untungnya, kegiatan ini sempat terendus oleh kelompok Islam. Sehingga sebelum acara dimulai sempat terjadi perbincangan alot tentang legal dan illegal acara tersebut, karena berdasarkan informasi yang didapat dari mabes polri, mereka belum mendapatkan izin. Pihak pengelola gedung pun tidak mendapatkan kabar tentang adanya acara tersebut. Namun anehnya, walaupun diawali dengan sedikit perdebatan, acara tersebut tetap berjalan sampai akhir. Pendekatan apa yang telah mereka lakukan, sehingga mabes polri luluh juga dan memberikan izin kepada mereka. Apabila menggunakan cara manipulasi, lobby, berdusta dan kamuflase-kamuflase lainnya, sudah biasa mereka lakukan itu. Bahkan segala cara bisa mereka tempuh untuk meraih maksud yang diinginkan.

Ada tiga hal yang perlu dicatat dari kegagalan meyakinkan Mabes Polri bahwa Syiah ini aliran yang berbahaya. Pertama, banyak dari kalangan umat Islam, terutama yang terlibat dalam birokrat pemerintahan tidak mengetahui lebih dalam bahaya Syiah. Bahkan banyak yang beranggapan Syiah itu seperti halnya perbedaan antara NU dangan Muhammadiyah. Beda paham saja. Kedua, membuktikan bahwa Syiah sudah mulai menguat di Indonesia. Karena jika secara kuantitas mereka masih sedikit, mereka tidak mungkin berani tampil di muka umum. Ketiga, proses kaderisasi yang mereka lakukan sudah cukup berhasil dan kader-kader mereka sudah tersebar di birokrat pemerintah. Bagaimana sesungguhnya konstelasi Syiah di Indonesia sekarang. Inilah yang akan kita ulas saat dalam tulisan ini. Namun sebelumnya, ada baiknya diperkenalkan terlebih dahulu sosok Syiah dan perbedaannya secara mendasar dengan Islam.

Syiah dan Islam
Belakangan banyak cendekiawan Muslim di Indonesia yang mencoba untuk melakukan taqrîb (rekonsiliasi) Sunnah dan Syiah agar bisa hidup berdampingan. Salah satunya Quraish Shihab. Rekonsiliasi ini dilakukannya secara fundamental, yaitu melalui rekonsiliasi pemikiran. Idenya ini diwujudkan sejak ia menulis Tafsir Al-Misbah. Dalam Tafsir-nya, ia mengutip sekaligus tafsir-tafsir Syiah dan tafsir-tafsir Sunni kontemporer: Husein Thabaththaba'i (Tafsîr Al-Mizan-Syiah), Thahir ibn Asyur (Al-Tahrîr wa Al-Tanwîr-Sunni), dan ideolog gerakan Ikhwanul Muslimin Sayyid Quthb (Tafsîr fî Zhilâl Al-Quran). Selain Thabaththaba'i, Quraish pun sering mengutip pendapat ulama Syiah Murtadha Muthahhari.

Secara eksplisit, ide ini dijelaskan landasan argumentasinya dalam bukunya Sunnah-Syiah Bergandeng Tangan! Mungkinkah?. Sekuat tenaga, Quraish ingin mengatakan bahwa doktrin-doktrin Syi'ah yang sering dipermasalahkan seperti dalam hal rukun iman, rukun Islam, imamah, taqiyyah, bada', raj'ah, dan sebagainya hanyalah masalah khilafiyah. Sama seperti masalah-masalah khilafiyah yang sering diributkan NU dan Muhammadiyah. Jadi, perbedaan Sunni-Syiah bersifat furû'iyyah. 

Pemikiran seperti ini rupanya bukan hanya dianut Quraish Shihab. Tokoh sekaliber Yusuf Qardhawi pun berpandangan sama. Bahkan, beliau sampai mendirikan Majelis Ulama Islam Internasional yang diketuainya. Ia mengangkat wakilnya dari kalangan Syiah untuk mewujudkan misinya melakukan taqrîb antara Sunni dan Syiah. Namun rupanya, usaha Qardhawi sia-sia. Lembaga yang didirikannya sejak awal sudah mendapat kecaman, namun tidak digubris hingga Qardhawi marasakan sendiri akibat dari pilihannya. Ia dikhianati oleh kelompok Syiah yang sengaja ia rekrut. Namanya bahkan banyak dicatut untuk keuntungan Syiah. Proyek taqrîb-nya pun gagal total.

Memang sampai hari ini, kalau bukan dalam hal-hal yang sifatnya mu'amalah biasa, belum pernah terjadi rekonsiliasi Sunni-Syiah. Sebab, kalau ditelusuri secara jujur dan mendasar, sejak dari doktrin dasar akidah (kepercayaan) Sunnah dan Syiah tidak pernah ketemu. Perbedaannya sangat jelas bukan sekadar perbedaan furû'iyyah belaka, melainkan sudah perbedaan ushûliyyah. Memang ada satu alirah Syiah, yaitu Zaidiyyah yang secara ushûli dekat dengan Sunni. Namun, jumlah pengikutnya sudah tidak signifikan. Hanya kelompok minoritas kecil di Yaman. Secara umum Syiah yang ada saat ini adalah Syiah Imamiyah-Itsna Asyariyah-Ja'fariyah yang secara akidah banyak pertentangannya dengan Sunni (baca: Islam).

Bila dijelaskan tentu saja akan sangat panjang. Namun secara ringkas perbedaan Sunni-Syiah dapatdilihat dalam bagan berikut.

No.
Perihal
Ahlus-Sunnah
Syiah
1
Rukun Islam
  • 1. Syahadatain
  • 2. Shalat
  • 3. Puasa
  • 4. Zakat
  • 5. Haji
  • 1. Shalat
  • 2. Puasa
  • 3. Zakat
  • 4. Haji
•5.   Wilâyah
2
Rukun Iman
  • 1. Iman kepada Allah
  • 2. Iman kepada Malaikat
  • 3. Iman kepada Kitab
  • 4. Iman kepada Rasul
  • 5. Iman kepada Taqdir
  • 6. Iman kepada Hari Akhir
  • 1. Tauhid
  • 2. Nubuwwah
  • 3. Imamah
  • 4. Al-'Adl
  • 5. Al-Ma'ad

3
Syahadat
Dua Kalimat
Tiga Kalimat (ditambah menyebut 12 Imam)
4
Imam
Percaya kepada imam bukan rukun iman.
Percaya pada imam merupakan rukun iman.
5
Khilafah
Khulafa'ur-Rasyidin adalah khilafah yang sah.
Selain Ali r.a. kekhalifahannya tidak sah.
6
Ma'shûm
Khalifah (imam) tidak ma'shûm
Para imam yang 12 ma'shûm
7
Sahabat
Dilarang mencaci semua sahabat
Mencaci banyak sahabat dan menganggap banyak sahabat yang murtad
8
Istri Rasul
  • 1. Aisyah sangat dihormati
  • 2. Semua istri rasul adalah Ahlul-Bait
  • 1. Aisyah dicaci-maki
  • 2. Para istri Rasul bukan Ahlul-Bait
9
Al-Quran
Tetap orisinil
Sudah diubah oleh para sahabat
10
Hadis
Menggunakan kutubus-sittah dan kitab hadis mu'tabar yang lain.
Hanya mau menggunakan hadis versi Syiah dalam 4 kitab pokok mereka: Al-Kâfi, Al-Istibshâr, Man Lâ Yadûruhu Al-Faqîh, dan Al-Tahdzîb.
11
Surga dan Neraka
Surga untuk mereka yang taat pada Rasul dan neraka buat mereka yang ingkar.
Surga untuk mereka yang cinta pada Imam Ali dan neraka untuk yang memusuhinya.
12
Raj'ah (inkarnasi)
Tidak ada akidah raj'ah
Meyakini adanya raj'ah
13
Imam Mahdi
Imam Mahdi adalah sosok yang akan membawa keadilan dan kedamaian.
Imam Mahdi kelak akan membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Fatimah, dan Ahlul-Bait yang lain. Selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, dan Aisyah untuk kemudian ketiga orang ini disiksa.
14
Nikah Mut'ah
Haram
Halal dan dianjurkan
15
Khamr
Tidak suci/najis
Suci
16
Shalat
  • 1. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri sunnah
  • 2. Membaca "amin" sunnah
  • 3. Shalat Dhuha sunat.
  • 1. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri membatalkan shalat
  • 2. Membaca "amin" membatalkan shalat
  • 3. Shalat Dhuha tidak dibenarkan.
Sumber: Buku Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwwah

Perbadaan yang paling prinsip terdapat pada bagian 1-14. Perbedaan pada bagian selanjutnya hanyalah contoh perbedaan dalam hal amaliah ibadah yang jumlahnya tentu akan lebih banyak lagi dari contoh di atas. Kalau melihat hal ini, jelas Syiah dan Sunni sangat sulit untuk dicari titik temunya secara ajaran karena memang sudah sejak masalah akidah berseberangan. Itulah jati diri Syiah yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan banyak ulama yang menganggap Syiah, terutama sekte Imamiyah-Itsna Asyariah yang sekarang dianut mayoritas Syiah di dunia seperti di Iran sebagai bukan Islam.

Salah satu amalan khas Syiah yang juga banyak dipraktikkan di Indonesia adalah perayaan 10 Muharram (Hari Asyura). Kami sempat mewawancarai seorang mantan mahasiswa yang pernah studi di Pakistan. Tanpa sengaja, si mahasiswa ini mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara 10 Muharram di Pakistan. Sebuah acara ritual sakral bagi kalangan Syiah. Tanpa mengalami kesulitan si mahasiswa ini bisa memasuki sebuah ruangan yang akan menjadi ritualitas itu berlangsung. Ratusan orang sudah berkumpul di tempat tersebut, dari anak-anak sampai dewasa. Laki-laki dan perempuan. Apa yang dilihat si mahasiswa berikutnya akan menjadi pengalaman berharga yang tidak mungkin terlupakan. Karena si mahasiswa ini menyaksikan beberapa ritual yang menurutnya sudah sangat tidak masuk akal.

Salat satu hal ekstrem yang terlihat adalah pemujaan kepada seekor kuda yang diyakini sebgai kuda yang pernah ditunggangi Imam Husein bin Abi Tholib. Padahal, jelas-jelas kuda tersebut adalah kuda biasa yang dihias dengan beberapa atribut saja. Meskipun mereka mengetahui bahwa kuda tersebut adalah kuda biasa, bukan kuda yang sebenarnya ditumpangi Imam Husein, namun mereka tetap khusyu' dan sungguh-sungguh melakukan ritual.

Selain kepada kuda, mereka melakukan hal yang sama pula kepada replika makam Imam Husein. Replika makam yang terbuat dari bahan-bahan sederhana ini digotong-gotong, kemudian orang-orang berebutan sambil berdesak-desakan agar bisa  mengusap-usap bagian makam. Nah, pada puncak acara dilakukan ritual penyiksaan diri. Ini semakin membuat si mahasiswa geleng-geleng kepala. Dengan keyakinan ingin mendapatkan pahala dari merasakan penderitaan yang pernah dialami Imam Husein di Karbala mereka dengan sukarela menyakiti tubuh mereka dengan berbegai senjata tajam. Darah atau luka pada tubuh diyakini akan menjadi kebaikan buat mereka. Tidak hanya orang dewasa yang melakukan itu, remaja bahkan anak-anak juga ikut serta.

Dari pagi sampai menjelang malam acara itu berlangsung. Tidak ada semenit pun jeda untuk istirahat atau sholat. Tiga waktu sholat yang dipahami mereka pun dilewati. Karena ritual setiap 10 Muharram, mereka anggap jauh lebih penting dibandingkan melaksanakan sholat. Ternyata, menurut si mahasiswa yang sekarang menjadi dosen salah satu PTAI di Jakara ini dan mayoritas keluarganya Syiah, dalam keseharian mereka juga tidak mempedulikan sholat. Bagi mereka, katanya, yang penting berdzikir, dengan dzikir yang dipahami mereka tentunya.

Masih menurut si mahasiswa, untuk membedakan Syiah dan bukan bisa diperhatikan saat sholat. Orang Syiah ketika sholat mereka akan membawa alas sujud, yang disebut dengan batu karbala. Batu ini memang betul-betul dari Karbala. Karena menurut mereka apabila bersujud di atas karpet atau alas lain, sholatnya batal alias tidak sah. Makanya jika mereka tidak membawa atau tertinggal, mereka selalu mempersiapkan secarik kertas untuk menggantikan fungsi batu karbala. Jika pemahaman seperti itu, berarti sholat yang kita kerjakan, termasuk umat Islam yang sholat di masjidil haram, semuanta batal.

Demikianlah kesesatan yang dilakukan kaum Syiah. Apakah perbedaan-perbedaan tersebut dapat disatukan? Dari beberapa pengalaman yang coba diusahakan ulama-ulama besar, sepertinya persatuan itu sangat sulit terjadi, bahkan nyaris mustahil.

Syiah di Indonesia
Sejarawan Yousuf Syou'b mensinyalir bahwa Syiah sudah datang ke Indonesia sejak masa awal kedatangan Islam. Namun perkembangannya tidak terlalu pesat dan tidak diterima baik oleh penduduk di negeri ini. Oleh sebab itu, sampai akhir abad ke-20 Syiah tidak dikenal dan tidak terlacak peran sejarahnya yang signifikan di negeri ini, sekalipun bukan berarti tidak ada penganut sama sekali.

Mulai diterimanya Syiah di Indonesia umumnya dapat dilacak sejak terjadi Revolusi Syiah Iran tahun 1979. Revolusi Iran menginspirasi umat Islam bahwa mereka dapat bangkit dari keterpurukannya di hadapan negara-negara Barat. Revolusi Iran memberikan semangat baru kebangkitan umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia.

Semangat Revolusi Iran inilah yang kemudian membuat beberapa inetelektual muda Indonesia tertarik mempelajari buku-buku dan tulisan ekponen Revolusi Iran seperti Khumaini dan Ali Syari'ati. Tidak cukup hanya membaca dalam bahasa aslinya, beberapa di antaranya mulai tertarik untuk menerjemahkan dan menerbitkannya dalam bahasa Indonesia. Ternyata respon dari masyarakat pun umumnya cukup baik, terutama terhadap pikiran-pikiran revolusioner yang memprovokasi kesadaran untuk memberontak pada tatanan yang mapan.

Situasi ini cukup dimaklumi mengingat tahun 80-an adalah tahun Suharto sedang bertindak sangat represif terhadap umat Islam. Peristiwa-peristiwa penting seperti UU Subversi, Asas Tunggal, Peristiwa Tanjung Priuk, dan tindakan represif lainnya terjadi sepajang tahun 1980-an. Sitausi inilah yang membuat anak-anak muda Muslim merasa mendapatkan dorongan semangat dan amunisi untuk melakukan perlawanan terhadap tirani setelah membaca buku-buku revolusioner semacam tulisan Ali Syari'ati.

Saat itu barangkali umat Islam Indonesia yang tentu saja umumnya menganut paham Ahlus-Sunnah tidak terlalu mempedulikan apakah yang dibacanya ini Syiah atau apa. Lagi pula isi dari tulisan-tulisan Ali Syari'ati yang dipublikasikan bukan berkaitan dengn ajaran-ajaran Syiah. Oleh sebab itu, kaum Muslim Indonesia saat itu tidak terlalu mempersoalkan kepercayaan yang dianut penulis-penulis revolusioner seperti Syari'ati.

Hanya saja, situasi ini ternyata tidak disia-siakan oleh orang-orang Syiah. Segera saja, melalui pintu ini mereka mulai memasukkan ide-ide Syiah secara utuh di kalangan anak-anak muda Muslim. Mula-mula tentu saja tidak vulgar mendagangkan Syiah. Mereka sadar betul bahwa mereka harus melakukan strategi yang halus memasukkan paham mereka ke negeri ini. Mereka bungkus ajaran-ajaran mereka dengan hal-hal yang tidak kontroversial, namun mengena.

Pada umumnya modus yang dilakukan adalah dengan mendirikan yayasan-yayasan sosial. Mereka bantu orang-orang miskin dan dhu'afa untuk mengambil hati mereka. Mereka bungkus semua kegiatannya dengan bahasa "pembelaan terhadap kaum tertindas". Cara-cara ini mirip seperti yang dilakukan kalangan missionaris.

Kalangan miskin bukan sasaran utama yang mereka bidik. Justru yang menjadi sasaran utama adalah kaum inetelektual. Kalangan inilah yang sejak awal justru dapat menerima syiah melalui pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh recolusionernya seperti Ali Syari'ati. Melalui buku-buku inilah, Syiah dapat menarik mahasiswa-mahasiswa cerdas untuk ikut menjadi bagian dari barisannya. Pendekatannya melalui kajian-kajian pemikiran dan filsafat yang banyak diminati mahasiswa. Kalaupun mereka tidak benar-benar menjadi Syiah, pendekatan ini efektif untuk mempengaruhi banyak intelektual Sunni agar menganggap Syiah ini bukan masalah bagi mereka. Dengan cara itu, mereka yang ber-Syiah secara 'kâffah' tidak mendapat tentangan yang berarti. Melalui inetelektual-intelektual Muslim yang terpengaruh pemimikan Syiah inilah, kelompok Siah Imamiyah ini dapat meyakinkan kelompok mayoritas Sunni di Indonesia agar dapat menerima ajaran dan keberadaan mereka.

Diakui atau tidak, mereka cukup cerdas dalam menggunakan strategi, kalau tidak dikatakan licik. Karena banyak di kalangan umat Islam termasuk yang sudah terdidik, bahkan ulama yang terjebak pada permainan atau kamuflase wacana yang mereka gulirkan. Sehingga mereka berhasil mengarahkan umat Islam untuk berkesimpulan bahwa Syiah itu bagian dari Islam, Syiah itu tidak berbahaya, bahkan tidak sedikit ulama yang berpandangan bahwa Syiah yang ada di Indonesia itu Syiah intelektual atau tasawuf, bukan ideologis seperti yang ada di beberapa negara Timur Tengah. Padahal, apapun kata sifat yang disematkan pada mereka apakah Syiah Ideologis, Syiah Gerakan, Syiah intelektual, dan Syiah-syiah lainnya, semuanya sama. Mereka sesat. Karena macam-macam Syiah itu merujuk kepada rujukan yang satu.

Saat ini, setelah lebih dari tiga dekade berjuang menyebarluaskan Syiah di Indonesia, hasilnya sudah bisa mereka nikmati sekarang. Lebih dari 200 lembaga dan yayasan Syiah berdiri di berbagai kota (sebagiannya lihat Box). Mereka sudah mulai leluasa menyebarkan kepercayaannya secara terang-terangan. Tokoh sekaliber Quraish Shihab dan Haidar Bagir pun selalu melindungi kepentingan mereka sekalipun keduanya bukan jamaah Syiah kâffah. 

Organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU tidak luput pula dari bidikan mereka untuk mengamankan kepentingan mereka. Sekalipun sudah menjadi tradisi bagi NU yang mendeklarasikan diri sebagai pembela akidah Ahlus-Sunnah wal Jamaah meng-counter berbagai pemikiran Syiah, namun Gus Dur dan Said Agil Siraj yang kini menjabat ketua umum PBNU tampaknya sangat wellcome terhadap keberadaan Syiah di Indonesia. Keduanya bahkan sangat sering diundang mengisi acara-acara diskusi mereka.

Di Muhammadiyah kelompok Syiah ini mulai berhasil menyusup melalui pendirian Iranian Corner di beberapa universitas besar milik Muhammadiyah seperti UMJ, UMY, UAD, dan UMM. Memang kelihatannya lembaga seperti Iranian Corner ini hanya sebatas lembaga penelitian biasa. Namun justru melalui pintu inilah kader-kader Syiah banyak yang disusupkan  ke dalam tubuh Persyarikatan. Gejalanya sudah semakin nyata. Banyak generasi muda Muhammadiyah yang mulai terpengaruh ajaran Syiah.

Di pemerintahan pun sudah mulai banyak kader-kader Syiah yang menduduki posisi-posisi penting. Keberhasilan mereka mengamankan Silatnas Ahlul Bait Indonesia V di Pondok Gede kemarin adalah bukti bahwa jaringan mereka di jajaran kekuasaan cukup solid. Salah satunya terlihat Sayuti Asatri yang menjadi moderator diskusi pada acara Silatnas kemarin. Ia adalah politisi senior di Partai Amanat Nasional yang didirikan mantan ketua umum PP Muhammadiyah Amin Rais. Posisinya sebagai anggota DPR-RI tentu sangat strategis untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan di negeri ini.

Alhasil, kelihatannya gerakan Syiah di Indonesia saat ini sudah tidak bisa dianggap kecil lagi. Kalau ini tidak pernah diketahui publik, suatu saat Syiah di Indonesia tidak mustahil akan menjadi besar. Kalau ini sudah terjadi, seperti pengalaman di berbagai negeri Muslim lain yang mengakomodasi keberadaan Syiah, tidak mustahil pula akan terjadi konflik-konflik yang sampai berujung pada kekerasan. Hal semacam ini tidak bisa dihindarkan mengingat dasar ajaran mereka memang menyimpan permusuhan dan kebencian yang sangat besar terhadap Ahlus-Sunnah. Bahkan kebencian kepada Ahlus-Sunnah ini lebih besar dibandingkan kebencian kepada Yahudi dan Nashrani. Masihkan kita akan berdiam diri?

Diambil dari situs resmi Persatuan Islam